Sonya Katresnan; Persembahan Cinta Sang Murid kepada Sang Mursyid

 

Salah satu ungkapan cinta terindah adalah saat dimana dia jauh secara jarak namun dekat secara do’a. Bentangan kilometer Surabaya-Jogjakarta bukan halangan selama keikhlasan melingkupi masing-masing kita, Sang Murid yang terus dan akan terus bersyukur terhadap segala limpahan ilmu yang diturunkan melalui Sang Mursyid, Mbah Nun.

 

Tepat pada 1 Ramadan 1438 H, sonya 27 Mei 2017 pada hitungan Masehi. Sang Murid dari Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan kota sekitarnya berkumpul di Pendopo Kelurahan Lidah Kulon, Surabaya, tuk mengekspresikan katresnan pada Simbah Guru yang terlahir 64 tahun lalu di sebuah desa kecil nan legendaris, Mentoro.

 

Acara sederhana yang terlaksana berkat kerjasama antara Karang Taruna Tunas Bangsa, Lidah Kulon, bersama Isim BangbangWetan ini dihadiri oleh Abah Hamim dan Pak Hanif yang merupakan sosok yang telah mengenal Mbah Nun sejak lama. Dihadiri pula oleh Pak Suko dan Pak Rachmad yang merefleksikan awal pertemuan mereka dengan Simbah.

 

Pemotongan tumpeng yang tepat dilaksanakan pukul 00.00 bersama sakralnya ‘Shohibu Baiti’ menjadi titik kulminasi acara ini. Serta jangan lupakan karya Mbah Nun berupa puisi dan lagu yang dibawakan teman-teman dari berbagai komunitas seni sebagai apresiasi perjalanan kinarya cinta Beliau.

 

Acara ini memang tak ada apa-apanya dibandingkan dengan hangat ilmu yang dibawa Beliau dalam tiap Maiyahan maupun perjumpaan lainnya. Namun, inilah yang kami bisa, sebuah ekspresi katresnan padamu Sang Mursyid.

 

Doa kami terhampar padamu, Mbah, dekaplah kami gentho-gentho yang akan terus berusaha tuk nandur, poso, shodaqoh.

 

sugeng ambal warsa Mbah Nun…