Sopiati (2)

Oleh : Prayogi R Saputra

Sop adalah anak kedua Jamro dan Marmi. Sebenarnya, Jamro dan Marmi masih bersaudara, meskipun kerabat agak jauh. Mereka sama-sama cucu dari Mbah Ranem. Mbah Ranem lah yang menjodohkan mereka. Jamro, menurut orang-orang desa, termasuk laki-laki yang tampan. Matanya bulat lebar, hidungnya mancung dan kulitnya lumayan kuning. Dia nampak bukan seseorang dari kasta petani.

Sementara, Marmi adalah gadis beruntung yang mendapatkan Pangeran. Perawakannya pendek, berkulit hitam dan bibirnya melebihi ukuran normal. Karena itulah pada awal pernikahan mereka, para tetangga sering bergunjing alangkah beruntungnya Marmi mendapatkan suami Jamro.

Tidak berhenti disitu. Pergunjingan terus berlanjut saat satu demi satu Marmi melahirkan anak. Anak pertama: laki-laki. Anak kedua: perempuan. Anak ketiga: perempuan lagi. Anak ke empat: kali ini laki-laki. Anak kelima: perempuan. Bertubi-tubi anak Marmi lahir membuat para tetangga heran. Apakah Marmi memiliki jimat pengasihan  sehingga pemuda setampan Jamro mau menikah dengannya dan beranak lima dalam waktu singkat.

Namun, ada pula bisik-bisik bawah tanah yang beredar bahwa Jamro mau menikahi Marmi karena jaminan dari Mbah Ranem bahwa semua anak mereka akan ditanggung biayanya oleh Mbah Ranem. Mulai dari kelahiran sampai pernikahan. Bahkan, kalau perlu, sampai mereka beranak pinak. Sementara itu, Jamro boleh bekerja boleh tidak. Kalau pun bekerja, Jamro bebas menggunakan uang hasil  kerjanya untuk kesenangan pribadinya.

Apa daya, kehidupan keluarga Jamro juga tidak selalu berjalan mulus. Meskipun secara keuangan dia didukung penuh oleh Mbah Ranem. Salah satu masalah muncul saat anak kedua mereka, Sop mulai menginjak umur 3 tahun. Bayi biasanya mulai belajar berjalan dalam usia satu tahun. Namun, hingga menjelang umur 3 tahun , Sop belum juga bisa berdiri. Apalagi berjalan. Segala macam cara ditempuh oleh Mbah Ranem agar Sop segera bisa berjalan. Mulai pergi ke tukang pijat hingga mencoba mencari pengobatan ke paranormal. “Siapa tahu, ada orang yang iri kepada kami.  Lantas dia memasang guna-guna untuk mencelakakan keluarga kami,” begitu dalih Mbah Ranem kepada  seorang paranormal dari Wetan Kali.

Pak Guru,  Ayah Jangkung, seorang tetangga Mbah Ranem,  sebenarnya pernah menyarankan agar Sop dibawa ke Puskesmas untuk diperiksa. Siapa tahu Sop terserang virus polio. Sebab, rumah Sop bersebelahan dengan rumah Harkekog yang juga menderita polio. Apalagi waktu itu, ada tetangga lain, Pur yang juga positif  terserang polio.

Tapi Mbah Ranem yakin bahwa Sop mengalami itu karena dibuat oleh seseorang yang iri kepada keluarga mereka. “Kukira, ini urusan  harta warisan Pak Guru. Saya tahu orangnya. Dia memang menginginkan bagian yang lebih banyak dari yang seharusnya.  Dia tidak rela kalau kami mendapatkan sawah dan kebun yang luas,” begitu tukas Mbah Ranem waktu itu.

Para tetangga seperti mendapatkan amunisi baru untuk kesenangan mereka: bergunjing. “Itulah perlambang Jamro yang malas. Maka, anaknya pun jadi malas berjalan. Coba bayangkan! Anak umur 3 tahun belum bisa berjalan ini sudah melampui batas. Mungkin dia  lumpuh.  Tidak akan bisa berjalan selamanya. Sama seperti keluarga Jamro. Tanpa sokongan dari Mbah Ranem, keluarga Jamro sebenarnya juga lumpuh. Tidak akan bisa berjalan,” begitu salah satu serangan yang ditargetkan tepat ke jantung  Jamro. Setelah sekian lama, dengan berbagai upaya, menjelang usia 4 tahun, akhirnya  Sop sudah mulai bisa  berdiri dan berjalan.  Kasak-kusuk tetangga pun mereda.

“Mbah Wo,” setelah beberapa tarikan nafas, Mbah Ranem akhirnya membuka mulut, “Pak Amat dan Thole nak Hadi. Saat  ini,  Bapak Sop sedang tidak ada di rumah. Sedangkan  Simboknya Sop ada di belakang. Tapi, dia tidak tahu apa-apa. Tidak ada artinya bicara dengan dia. Jadi, biarlah saya yang bicara.”

Ketiga laki-laki itu menunggu.

“Sop! Sop! Kemari!” panggilnya.

Sop masuk ke ruang tamu dan berdiri di dekat Mbah Ranem. Dia menatap Mbah Ranem dengan wajah tak paham. Nyaris seperti sedang ketakutan.

“Duduklah!”

Sop mengambil kursi plastik hijau lantas duduk di sebelah Mbah Ranem.

“Apakah kamu melakukan kesalahan pada suamimu?”

Sop tidak menjawab. Segera dia tertunduk. Segera airmatanya  meleleh.

“Apa kamu menolak melayani suamimu?”

Tidak ada jawaban. Sop semakin tenggelam. Tangannya  gemetaran.

“Mbah Wo,  Pak Amat dan nak Hadi,” Mbah Ranem bergantian menatap mereka bertiga, “Sop ini sejak kecil memang punya kelemahan. Dia selalu tidak bisa bicara dengan orang lain. Dia hanya mau bicara dengan keluarganya saja. Itu pun kalau tidak ditanya dia tidak akan bicara.”

“Dulu, sebelum pernikahan saya kan sudah katakan. Sop ya seperti ini. Dia takut sama orang. Lihat tangannya. Gemetar. Dihadapan orang lain dia akan ketakutan. Dan nak Hadi juga sudah tahu semuanya. Kalau memang Sop punya kesalahan, lebih baik Mbah Wo  katakan. Nanti saya yang akan mengingatkannya.”

“Tidak Mbah Ranem.  Sop sama sekali tidak ada kesalahan. Kamilah yang tidak bisa mendidiknya. Bukankah begitu Mat, Had?” Mbah Wo menatap bergantian kepada Pak Amat dan Hadi.

Kedua orang yang dimintai persetujuan mengangguk.

“Saya berusaha mendidik Sop ini sebagai perempuan yang baik. Memang dia bodoh. Sekolah saja hanya sampai kelas 2 SD. Tapi untuk berumah tangga kan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Tapi, saya tetap tidak tahu apakah Sop bisa jadi si Narti yang baik atau tidak.”

“Baik kok Mbah. Benar. Sop tidak berbuat kesalahan apa pun,” tukas Mbah Wo.

Jeda. Suara detak jam dinding beriringan dengan suara detak jantung. Beberapa menit mereka berlima tenggelam dalam senyap.

“Saya tidak tahu harus menjawab apa,” akhirnya  Mbah Ranem kembali angkat bicara, “Tapi, kalau memang Pak Amat dan nak Hadi  berniat menyerahkan Sop kembali, ya apa mau dikata. Biarlah Sop sementara waktu tinggal di sini. Biar suasana dingin dulu. Setelah itu, nanti kita bicarakan lagi.”

“Terima kasih Mbah. Saya sebagai Simbahnya Hadi, mewakili keluarga Semen, memohon maaf kepada keluarga Tjigrok. Kita tentu tidak menginginkan hal ini terjadi. Tapi, biarlah untuk sementara waktu Sop di rumah sini.”

“Dengan begitu, kami juga mohon pamit dulu. Satu dua minggu lagi, biarlah Amat dan Hadi yang akan menyelesaikan masalah ini. Sementara, mungkin seperti ini dulu.”

Tanpa menghabiskan teh yang dihidangkan, ketiga laki-laki itu pamit. Mbah Ranem masih duduk di kursi ruang tengah. Dia menatap jauh ke depan. Melintasi rumah besar Mbah Kimpling di depan rumahnya. Tatapan mata yang menerawang. Sementara Sop  tetap duduk di sebelahnya, dengan wajah datar.

Setelah mereka bertiga pergi, gadis yang dipanggil Narti masuk membawa bungkusan.

“Narti. Kemari, Nduk!” kata Mbah Ranem.

Dia duduk di depan Mbah Ranem.

“Mbokmu dimana?”

“Kasih makan ayam.”

Mbah Ranem menarik nafas.

“Sudah! Biarkan saja! Dia tahunya memang  cuma kasih makan ayam.”

“Kamu kepingin menikah, Narti?” tanya Mbah Ranem kepada Narti.

Yang ditanya diam saja.

“Rupanya, aku harus mengajari kamu agar tidak bernasib seperti Mbakyumu. Kamu lulus SD. Mudah-mudahan, nasibmu lebih baik dibanding Sop,” Mbah Ranem setengah-setengah antara bicara dengan gadis yang dipanggil Narti atau dengan dirinya sendiri.

“Sudah, sekarang kamu parut kelapa! Sop, bantu Narti parut kelapa. Narti, ajari Mbakyumu!”

Keduanya berlalu ke dapur. Mbah Ranem juga langsung beranjak. Dia mengambil topi caping dan sabit, lantas pergi berlalu ke arah kebun. Di sepanjang jalan, dia menggeremang entah apa.*

 

Prayogi R Saputra adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra