Kolom Jamaah

Sudut Pandang dari Warung Kopi

 

Oleh : Candra Ponco 

Di warung kopi itu boleh pesen es teh, boleh pesen minuman panas atau minuman dingin. Yang tidak boleh adalah menyiram minuman panas ke wajah orang hingga sampai menderita panas dingin. Bisa juga pesen minuman sasetan  atau malah cuma minta air putih. Di warung kopi boleh cuma nonton televisi atau cuma numpang cari wifi. Ngobrol ngalor ngidul yang cuma basa basi, hingga curhat untuk mengeluarkan isi hati. Diskusi ala politisi yang membahas poligami, meskipun kadang otak juga tak berisi.

Di warung kopi boleh datang sendiri ataupun dengan teman teman yang sejati. Boleh cuma berdiam diri atau ketawa ketiwi sesuka hati. Di warung kopi bisa nongkrong sampai pagi untuk mengisi hari- hari dan menghibur diri. Asalkan tetap jaga diri untuk tidak saling mencaci dan memaki. Tapi jangan berjudi hingga merugi dan mabuk yang akhirnya lupa diri. Di warung kopi boleh kok cuma bertelanjang kaki hingga mengenakan dasi. Mau beli rokok sebiji atau mengkonsumsi seluruh menu yang tersaji.

Di warung kopi boleh kok merokok, tapi bagi yang bukan perokok juga tolong dihormati. Jangan memaksa yang tak merokok untuk merokok, atau yang tidak merokok juga marah marah sama semua para perokok. Yang bawa rokok silakan merokok dari rokoknya sendiri, yang nggak punya rokok harusnya cukup sadar diri meskipun boleh berharap agar ditawari.  Kadang di warung kopi boleh cuma bayar dengan janji dan semoga pemilik warung bisa lupa tak menagih. Tapi mbok ya jangan sampai ingkar janji karena bila warung sampai rugi pasti yang bingung juga Anda sendiri, mau mencari warung kopi manalagi yang bisa diberi janji.

Bila punya rasa benci silakan diselesaikan sambil ngopi, yang penting jangan saling mencaci maki. Cukuplah saling menjaga dan sama-sama menahan diri mengutarakan semua unek unek hingga semua lega di hati. Tak perlu lagi ngomong ngomong di belakang hari wong ya semuanya sebenarnya juga saudara sendiri. Dan bila ada kepentingan pribadi silakan mencari solusi yang tidak saling menyakiti atau malah mengkhianati.

Bila perut belum terisi silakan memilih menu-menu yang tersaji. Dari beberapa gorengan seperti tahu isi, atau juga bisa minta tolong dimasakkan mi. Agar ada variasi silakan minta tambahan telur bahkan nasi. Kalo tersedia nasi bungkus dengan beragam isi, silakan pilih dengan lauk yang menggugah selera hati. Tapi jangan ngomel dengan lauk pauk yang ada karena mungkin pembuatnya tahu banyak yang sebenarnya dompetnya tidak terisi.

Bila tidak berselera dengan menu yang tersedia bolek kok beli di sekitaran warung kopi. Cukup pinjam sendok sama piring tapi jangan lupa ucapkan terima kasih. Warung kopi tidak memaksakan diri untuk memilih, silakan Anda mencarinya sendiri. Karena di warung kopi anda punya kebebasan untuk memilih dan tidak dipaksa harus memilih. Di beberapa warung kopi kini terkadang hanya dijejali dengan pilihan pilihan yang ada, seperti sistem demokrasi kini yang hanya menyajikan menu-menu dan menggiring pemilihnya agar bersedia menerima menu yang tersedia. Tak ada lagi kebebasan memilih menu yang di luar warung kopi, tetapi bila tidak memilih malah dicibiri, dianggap tak tahu diri cuma menonton dan ketawa ketiwi.

 

Tradisi warung kopi dulu seperti itu bukan cuma materi yang dicari tetapi lebih pada transaksi kejujuran dan kebebasan dalam memilih. Oh betapa indah bila warung kopi masih tetap bertahan seperti itu. Tetapi kini hampir semua warung kopi saling mengejar materi, meskipun tumpuan hidup manusia adalah mencari materi tetapi alangkah lebih indah bila niatan transaksi di warung kopi adalah untuk saling mengisi.

 

Penulis adalah JM BBW dan bisa ditemui di facebook : candra cruz 

Red : email ( redaksi@bangbangwetan.org )

Media sosial : twitter @bangbangwetan / fbfage : bangbangwetan / IG ; bangbangwetan