Kolom Jamaah

Sumur Senggot

Kemlagen #9

Oleh: Samsul Huda

“Kehidupan di dunia itu diibaratkan seperti  berdagang. Jual beli. Tidak ada yang gratis. Kalau ingin mendapatkan sesuatu harus membeli. Kebahagiaan dibeli dengan kebaikan dan keindahan. Kesengsaraan dibeli dengan kezaliman. Sorga dibeli dengan ridlo-Nya. Neraka dibeli dengan murka-Nya. Kalau kehidupan di ahirat itu serba gratis. Tanpa usaha. Karna ahirat itu tempatnya panen. Panen kebahagiaan di surga atau kepedihan dan kesengsaraan di neraka. Menanamnya ada di kehidupan dunia”, begitu kesimpulan sinau bareng Mbah Nun di pengajian PadhangmBulan.

Kemudian Kiai Muzzammil menyampaikan landasan naqliyahnya dengan merujuk pada, QS  At-Taubah (9) Ayat 111

إِنَّ ٱللَّهَ ٱشْتَرَىٰ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُم وَأَمْوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلْجَنَّةَ ۚ يُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّۭا فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ وَٱلْإِنجِيلِ وَٱلْقُرْءَانِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِۦ مِنَ ٱللَّهِ ۚ فَٱسْتَبْشِرُوا۟ بِبَيْعِكُمُ ٱلَّذِى بَايَعْتُم بِهِۦ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”.

Tahun 1985, saya lulus dari pondok pesantren Roudlotun Nasyi’in Beratkulon, Mojokerto. Listrik masih belum masuk desa. Penerangan hanya menggunakan lampu strongking atau petromax. Air diperoleh dengan cara menimba dari sumur senggot dan teknologi sumur bor (pompa air manual). Kondisi ini menuntut santri untuk berolahraga setiap hari. Hal ini dilakukan sebelum mereka mandi. Jeding harus diisi sendiri dan pilihannya hanya satu; menimba dari sumur senggot. Urutannya adalah antri menimba kemudian antri mandi.

Seberapa banyak air yang ditimba? Ya minimal sebanyak yang mereka gunakan untuk mandi. Kecuali santri “nakal”. Nakalnya santri juga berkelas-kelas. Kalau “kelas receh”, penggunaan air lebih banyak dibanding jumlah yang ditimbanya. Berikutnya, “kelas mogol”, ketika kamar mandi sepi, diam-diam mereka mandi tanpa mengisi air lebih dulu. Yang terakhir, “kelas kakap”. Golongan ini nyerobot mandi tanpa antri dan menimba  di tengah para santri junior dan kawan sekelasnya.

Di pondok ada tiga bak mandi besar. Satu di samping mushola, yang kedua di bibir sumur pojok mushola dan terakhir di ujung timur komplek pondok. Setiap santri dewasa wajib mengikuti jadwal piket mengisi empat jeding. Pagi dan sore. Dua di pondok dan dua di ndalem Romo Kyai dan putrinya, Ning Arifah Arif (putri bungsu dari tiga bersaudara). Tugas pengurus pondok menjadwal mereka dan memastikan keempat jeding tersebut terisi penuh pagi dan sore. Kalau masih ada jeding yang belum penuh berarti ada yang belum menunaikan jadwal atau gilirannya. Maka pengurus tinggal lihat papan pengumuman lalu mengingatkan mereka. Bila diantara mereka ada yang sering terlambat, njarak dan nakalan di dalam menjalankan piket, maka mereka akan dikrecek (dibully) habis-habisan oleh seluruh santri. Ini terkait dengan peran penting jeding pondok untuk hajat orang banyak. Ya, karena semua kegiatan wudhu dilakukan di situ.

Tidak terkecuali saya yang tak bisa lepas dari kewajiban piket, pagi maupun sore. Sepulang sekolah Aliyah jam 17.00, para santri ada yang piket mengisi jeding dan ada yang masak untuk makan sore. Disinilah terletak keistimewaan pesantren dimana kesehariannya mengandung pendidikan karakter. Karakter santri terbentuk melalui interaksi antar sesama santri dan dengan pengurus, dewan asatidz dan pihak keluarga ndalem. Hubungan baik diantara mereka akan menjadikan tumbuh dan berkembangnya karakter kerja keras, mandiri, kerjasama, disiplin dan bertanggung jawab.

Lain halnya dengan santri era sekarang. Bisa dibilang tidak ada yang harus menimba sebelum mandi. Mereka bisa langsung mandi kapanpun dan berapa kali pun dalam sehari. Tidak ada lagi  narasi tentang sumur apalagi sumur senggot. Kini, sumur senggot menjadi bagian tak terpisahkan dalam ingatan mengenai kehidupan para santri tempo dulu. Mereka harus menimba untuk ngeliwet dan memasak, mencuci kaki yang “nyeker” kalau mau naik ke pondok serta mandi dan mencuci pakaian. Tidak ada kosa kata laundry. Semua mencuci pakaiannya sendiri. Maka lahirlah generasi mandiri yang tidak “mbebek” dan bergantung kepada siapapun. Sebaliknya, mereka harus bisa menjadi pengayom dan penyuluh bagi lingkungannya dimanapun berada.

—oOo—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *