TABAYYUN

Oleh : Ahmad Fuad Effendy ( Cak Fuad )

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Al-Hujurat 6)

 

Latar belakang turunnya ayat ini berkaitan dengan sahabat Al-Walid ibnu ‘Uqbah yang diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengambil zakat dan sedekah dari Bani Musthaliq. Mendengar akan hadirnya utusan Rasulullah SAW itu, mereka gembira dan berkumpul di pintu gerbang perkampungan mereka untuk menyambut utusan Rasulullah SAW. Akan tetapi Al-Walid salah paham, dia mengira bahwa kerumunan banyak orang yang dilihatnya dari jauh itu bermaksud menolak kedatangannya. Maka dia pun segera kembali ke Madinah dan melapor kepada Rasulullah SAW bahwa Bani Musthaliq menolak membayar zakat. Rasul pun marah dan sempat terpikir untuk menghukum mereka. Pada saat itulah datang utusan dari Bani Al-Musthaliq menanyakan ketidakhadiran utusan Rasulullah SAW, “Kami dengar utusan Rasulullah kembali di tengah jalan. Kami khawatir kalau hal itu atas perintah Rasul karena Rasul marah kepada kami. Karena itu pemimpin kami Al-Harits ibnu Dhirar segera mengutus kami menghadap Rasulullah”. Sebelum Rasulullah SAW menjawab turunlah ayat 6 dari surat Al-Hujurat di atas.

Hadis asbabun nuzul yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Ath-Thobroni ini dianggap lemah oleh Ar-Razi karena alasan logika, yaitu bagaimana mungkin seorang sahabat Nabi SAW yang dipercaya sebagai utusan dikatakan fasiq. Al-Walid hanya melakukan satu kesalahan bukan kefasiqan. Akan tetapi Ibnu Katsir mengatakan bahwa riwayat ini adalah yang paling kuat di antara riwayat-riwayat lainnya. Jika demikian, dapatlah dikatakan bahwa menyampaikan berita bohong, yang berasal dari angan-angan bukan kenyataan, adalah sebuah kesalahan besar bahkan kefasiqan.

Di dalam ayat ini orang beriman diperintahkan tabayyun (mencari kejelasan atau kebenaran) suatu berita. Ada bacaan lain dari tabyyanu yaitu tatsabbatu (mencari kepastian). Bacaan ini termasuk dalam tujuh bacaan (qira`ah sab’ah) yang dibenarkan oleh para ahli qira`at. Perbedaan antara tabayyun dan tasabbut bisa dijelaskan dengan contoh berikut. Ada berita bahwa Pak Lurah pergi ke kota dengan Bu Carik dalam satu mobil. Berita ini berkembang dengan redaksi tak terkendali menjadi “Pak Lurah membawa Bu Carik ke kota”, “Pak Lurah membawa lari Bu Carik”, “Pak Lurah berselingkuh dengan Bu Carik”. Menghadapi berita seperti ini pertama-tama harus dilakukan tatsabbut, yaitu mencari kepastian apakah benar Pak Lurah pergi ke kota, demikian juga Bu Carik, pada hari dan jam yang sama. Ternyata benar, bahkan saksi mata meyakinkan bahwa mereka pergi bersama dalam satu mobil. Apakah ini cukup untuk membenarkan berita bahwa “Pak Lurah telah berselingkuh dengan Bu Carik?”. Belum. Masih perlu dilakukan tabayyun, yaitu menyelidiki lebih lanjut, bagaimana dan dalam rangka apa mereka pergi kota? Setelah diselidiki, ternyata Bu Carik pergi ke kota karena baru saja terima telepon bahwa suaminya mengalami kecelakaan di kota. Pak Lurah yang juga menerima berita kecelakaan itu, segera berangkat ke kota. Di tengah jalan sopir pak Lurah melihat Bu Carik sedang menunggu angkot, maka Pak Lurah mengajaknya pergi dengan mobilnya. Dengan tabayyun ini semua menjadi jelas, fitnah bisa dihindarkan, dan gosip bisa dihentikan.

Pada masa lalu melalui media gethok-tular, suatu berita bisa menyebar ke seluruh kampung dalam satu dua hari. Yang menjadi korban kebanyakan adalah keutuhan rumah tangga, hubungan suami-istri, atau hubungan antar-teman. Tapi saat ini, dengan kemajuan teknologi informasi dan media sosial, dalam hitungan detik berita bisa menyebar secara massif ke seluruh negeri bahkan ke manca negara. Berita dusta, manipulatif atau yang lazim disebut dengan hoax bisa bermacam-macam bentuknya. Ada yang 100% fitnah, ada yang memenggal-menggal isi ceramah, memberi judul yang beda dengan isi, memanipulasi gambar, memotong dan menggabung-gabungkan gambar, dan lain sebagainya. Tujuan berita hoax juga macam-macam: pembunuhan karakter, pencitraan seseorang atau suatu golongan, menanamkan kebencian, menebar fitnah, memprovokasi, mengadu domba dan sebagainya. Oleh karena itu, bahaya yang ditimbulkan oleh berita bohong di zaman sekarang ini lebih besar.

Yang lebih membahayakan lagi kalau berita-berita bohong di media massa dan media sosial itu merupakan produk dari industri atau korporasi yang bergerak dibidang pembohongan publik. Tentu dengan  modal besar dan dirancang secara sistematis. Hasilnya bisa mengubah yang haq menjadi bathil, yang bathil menjadi haq; yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar; yang baik menjadi buruk, yang  buruk menjadi baik; yang ma’ruf menjadi mungkar, yang mungkar menjadi ma’ruf; pengkhianat dijadikan pahlawan, pahlawan dijadikan pengkhianat; yang bodoh diangkat jadi pemimpin, yang hebat dijatuhkan; dan seterusnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mengingatkan kita semua dengan sabdanya: “Manusia akan mengalami zaman penuh dengan dusta dan tipu-daya. Yang berkata bohong dipercaya, yang berkata benar dianggap dusta. Orang jujur dituduh pengkhianat, sedang pengkhianat dipercaya memegang amanat. Pada zaman itu para ruwaibizhah lah yang paling banyak berbicara”. Ruwaibizhah adalah orang bodoh yang merasa tahu segalanya, dan berbicara mengenai urusan dan kepentingan orang banyak.

Maka ayat 6 surat Al-Hujurat di atas lebih tepat diturunkan untuk kita semua di zaman sekarang. Artinya, kita harus selalu ingat dengan ayat ini ketika menerima postingan berita di media sosial apapun. Kita harus cerdas dan cermat dalam memilih dan memilah berita. Tidak semua berita yang kita terima perlu disebarkan. Kalau mau menyebarkan harus tabayyun dulu, kalau tidak mampu tabayyun maka lupakan saja berita itu. Ini perlu, agar kita tidak mencelakakan atau memberikan penilaian yang keliru terhadap seseorang atau suatu kelompok sebagai akibat dari kebodohan kita, yang pada akhirnya hanya akan mengakibatkan penyesalan.

 

   * Ahmad Fuad Effendy atau Cak Fuad, adalah salah satu marja’ (rujukan) Maiyah. Dipercaya sebagai Board of Trustees di King Abdullah bin Abdul Azis International Center of Arabic Language.
  * Diterbitkan ulang dari Buletin Maiyah Jatim edisi Januari 2017 . red foto ( caknun.com )