Takabbur Terhadap Permasalahan

( News BbW Maret )
Takabur Terhadap Permasalahan

Halaman Balai Pemuda, Selasa 4 Maret 2017, kembali menjadi tempat penyelenggaraan Forum BangbangWetan yang kali ini mengambil tema “Kemulan nDunyo”. Panggung serasa lebih kecil dari biasanya meskipun secara fisik sama saja, karena halaman Balai Pemuda lebih lapang setelah lapangan parkir selatan dipindahkan ke bawah tanah.

Tema kali ini, “Kemulan nDunyo” atau berselimut dunia, secara sederhana menunjukkan dunia yang bernafaskan materialisme telah dijadikan selimut bagi banyak orang. Hal ini membimbing manusia pada kondisi tidur, kondisi dimana hidup tak lebih hanyalah sekedar kenyamanan berselimutkan gaya hidup materialistik, tidak berpikir panjang serta larut dalam segala hal yang artifisial.

Menanggapi tema ini, Cak Nun yang kembali hadir dengan didampingi Kyai Muzammil serta Pak Suko, memberikan perumpamaan orang kemulan atau berselimut dengan berbagai konotasi.
“Seperti halnya ketika patah hati, wajah kita ‘diselimuti’ duka”, demikian Cak Nun memberikan perumpamaan.

Hakikat orang berselimut adalah menutupi diri. Tujuan orang berselimut bermacam-macam. Ada yang kemulan karena untuk menghangatkan badan, menutupi diri untuk bersembunyi, atau bisa jadi selimut itu berupa topeng kekufuran. Selimut kekufuran membuat manusia lupa akan ibadahnya sebab terlalu nyaman berada di balik kehangatan dan kenyamanan.

 

  • Wadulan Kepada Cak Nun

 

Jamak terjadi dalam tiap Maiyahan, jamaah menyampaikan keluh kesahnya, permasalahan yang mereka hadapi kepada, terutama Cak Nun. Berharap Cak Nun bisa memberikan solusi atau paling tidak memberikan kekuatan ekstra kepada jamaah dalam menghadapi permasalahan hidupnya.

Seperti malam itu, beberapa orang dari perwakilan pengungsi konflik Sampang serta buruh yang mengalami konflik dengan perusahaannya juga wadulan kepada Cak Nun. Bergantian mereka menceritakan permasalahannya di depan jamaah. Menanggapi ini Cak Nun mengajak jamaah untuk berdoa agar seluruh jamaah dikuatkan dan dilapangkan dari segala beban, serta memohon hidayah kepada Allah untuk orang-orang yang berwenang agar mampu mengatasi masalah.

“Kita harus menerapkan Takabbur kepada permasalahan. Menjadi lebih besar dari masalah itu sendiri”, urai Cak Nun. Beliau melanjutkan dengan tadabbur Q.S. Al-Qassas ayat 5: Kami berkehendak memberi anugerah kepada orang-orang yang dilemahkan di muka bumi, dan kami akan menjadikan sebagai imam, dan menjadikan mereka-mereka sebagai orang –orang yang mewarisi bumi. Kepada semua yang merasa dalam kondisi tertindas, kita harus meyakini bahwa Allah sangat berkehendak dengan perangkat kekuasaanNya. Termasuk pertolongan-pertolongan yang dilewatkan melalui manusia lain. Untuk itu kita harus tetap yakin, kembali istiqomah berserah kepada Allah. Wa ilaa rabbika farghab.

 

  • Bangkit dari Kegelapan

 

Ada dua rujukan Al-Quran mengenai orang-orang yang berselimut. Yaitu Q.S. Al-Muzammil serta Q.S. Al-Mudatsir. Kyai Muzammil men-tadabbur-i Q.S. Al-Muzammil 1–6 dengan menekankan bahwa perintah bangun di malam hari yang dimaksud bukan sekedar untuk melakukan sholat malam saja.

Sementara bagi Cak Nun, perintah untuk bangun dari selimut di malam hari beliau tadabbur-i secara ruhiyah menjadi bangkit dari kegelapan, ‘Qum-illaila’ bisa diartikan keharusan untuk bangkit ketika menyadari diri tengah berada dalam kegelapan. Allah tidak menuntut kesempurnaan pada tiap kebangkitan manusia. Yang bisa dilakukan manusia hanyalah sebisa mungkin mengusahakan kebangkitan itu.

BangbangWetan Maret ditutup Cak Nun dengan membesarkan hati jamaah, sesuatu yang istiqomah beliau lakukan selama puluhan tahun. “Allah Maha Bertindak. Yang penting kita bangkit. Hidup adalah regenerasi. Tidak ada yang bisa menjalankan perubahan di luar sunnah Allah. Yang bisa dilakukan generasi saat ini adalah menjalankan akselerasi nilai. Allah nanti yang akan menentukan rutenya. Tugas kita adalah sabar dengan takdir Allah, dan jangan khawatir”.

 

Red : (Vh/Wd) redaksi@bangbangwetan.org