TAKWA ITU WASPADA

Oleh : Ahmad Fuad Effendy

Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. (Al- Baqarah 21)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan berserah diri (kepada Allah). (Ali-Imran 102)

Takwa dapat disebut sebagai kata kunci dalam agama Islam. Kalau agama Kristen disebut sebagai “agama kasih”, maka Islam adalah “agama takwa”. Di dalam Al-Qur`an, kata taqwa dalam berbagai derivasinya disebutkan di 258 tempat, 192 kali dalam bentuk verba dan 72 kali dalam bentuk nomina. Namun pengertian  takwa itu sendiri di benak kaum muslimin bisa jadi berbeda satu sama lain. Definisi takwa yang dirumuskan oleh para ulama juga bermacam-macam. Jika dirujuk kepada tafsir dan terjemahan Al-Qur`an, kata takwa diartikan dengan beberapa makna sesuai dengan konteksnya di dalam ayat, antara lain takut, tauhid, ikhlas, ibadah, dan meninggalkan maksiat.

Definisi takwa juga bermacam-macam. Menurut Ibnu Abbas: “Takwa adalah meyakini Allah dengan menjauhkan diri dari perbuatan syirik dan patuh akan segala perintahnya”. Ibnu Taimiah menyatakan bahwa “Takwa adalah beramal ketaatan atas petunjuk Allah karena mangharap rahmatnya, dan meninggalkan kemaksiatan atas petunjuk Allah karena takut akan siksa-Nya”. Sedangkan menurut Al-Ashfahani: “Takwa adalah menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dengan meninggalkan apa yang dilarang, dan menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan”. Adanya keberagaman definisi dan makna kata takwa dari para ulama menunjukkan bahwa pemaknaan takwa bersifat terbuka dan dinamis, sepanjang tidak menyimpang dari makna bahasanya dan bertentangan dengan pokok ajaran Islam.

Gambaran tentang orang-orang bertakwa di dalam Al-Qur`an juga beragam, tapi tidak ada yang bertentangan, justru saling melengkapi. Sebagai contoh, ayat 177 surat Al-Baqarah memberikan gambaran cukup komprehensif mengenai orang bertakwa yang meliputi unsur-unsur: rukun iman, rukun islam, kesediaan berinfak, akhlak (memenuhi janji), dan karakter (kesabaran dan ketabahan). Kemudian surat Ali Imran 134 memperkuat beberapa unsur di atas dan menambahkan unsur yang baru, yaitu: berinfak meskipun dalam keadaan sempit, mampu mengendalikan amarah, pemaaf kepada orang lain, dan segera ingat Allah ketika melakukan kesalahan, lalu istighfar dan taubat. Yang disebutkan di dalam dua ayat ini adalah gambaran mengenai orang-orang yang bertakwa (al-muttaqun), dengan kata lain produk dari ketakwaan. Lantas ketakwaan itu sendiri apa maknanya?

Kajian etimologis terhadap kata taqwa dalam bahasa Arab membantu kita memahami makna takwa. Kata taqwa berasal dari verba ittaqâ – yattaqî – ittiqâ`an wa taqwâ artinya berhati-hati, menjaga, menghindari, menjauhi. Dialog Umar bin Khathab dan Ubay bin Ka’ab, sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Katsir,  memberikan perspektif mengenai makna takwa yang dekat kepada makna etimologisnya. Ketika ditanya tentang takwa oleh Umar, Ubay bin Ka’ab balik bertanya: “Apakah anda pernah berjalan di hutan?”. “Tentu”, jawab Umar. “Apa yang anda lakukan di jalan itu?” tanya Ubay. Umar menjawab: “Saya harus ekstra hati-hati, awas dan waspada, agar tidak terkena duri”. Kata Ubay, “Itulah takwa”.

Dari dialog ini bisa disimpulkan bahwa takwa adalah “Sikap hati-hati, awas dan waspada dari bahaya”. Ketika melepas seseorang yang akan melakukan perjalanan, selalu kita berpesan, “hati-hati”, artinya hati-hati dari bahaya yang mengancam di jalanan. Ketika Al-Qur`an membawa kata taqwa ini ke ranah agama, esensi maknanya tidak berubah yaitu kehati-hatian dan kewaspadaan. Tapi yang diwaspadai bukan lagi duri di hutan, atau bahaya kecelakaan di jalan raya, melainkan bahaya lebih besar yaitu “Tidak disayang dan tidak diridhai Allah, yang akan menjadi penghalang baginya masuk sorga;  atau dimarahi dan dimurkai Allah yang akan membawanya masuk neraka”. Adakah bahaya yang lebih besar dari neraka?

Maka orang beriman yang menjalani hidup dengan ketakwaan, adalah orang yang berhati-hati dan waspada dalam segala langkah, di segala tempat dan waktu dalam kehidupannya, agar tidak menyebabkan Allah marah, murka dan tidak ridha. Ketika berbicara, menulis, menggunakan tangan, kaki, mata, dan telinga, ketika memilih makanan atau pakaian, ketika memilih teman atau pemimpin, ketika mengambil keputusan-keputusan dalam hidup; harus yakin bahwa apa yang dilakukannya disukai, diridhai, tidak dimurkai oleh Allah. Tentu saja sebatas kemampuan manusia, karena Allah sendiri mengatakan Ittaqullâha mastatha’tum (bertakwalah kepada Allah semampu kalian).

Di tengah kehidupan dunia yang penuh syubhat, pencitraan, pengelabuhan, seperti sekarang ini, seyogyanya kita  meningkatkan ketakwaan atau kewaspadaan.

 

Ahmad Fuad Effendy atau Cak Fuad, adalah salah satu marja’ (rujukan) Maiyah. Dipercaya sebagai anggota Majelis Ummana ( Board of Trustees) di King Abdullah bin Abdul Azis International Center of Arabic Language.

 

Diterbitkan di Buletin Maiyah Jatim. Dok foto – CAKNUN.COM