Berita, Kolom Jamaah

Tangis Ibu Pertiwi

oleh: Alif Lestari

Nusantara atau negara Indonesia sering kali diungkapkan dengan sebutan Ibu Pertiwi, sebuah bentuk personifikasi atas tanah air tempat lahirnya bangsa Nusantara. Sebutan yang puitis nan elok, serta sarat makna pada sebuah bentang alam yang begitu luas dan kaya manusia dan sumber dayanya. Seperti lagu nasional “Ibu Pertiwi” yang diciptakan oleh Ismail Marzuki yang mempunyai makna mendalam. Lagu yang sering didengarkan pada anak sekolah atau yang sering kita dengarkan ketika momen 17-an.

Lagu Ibu Pertiwi menggambarkan kekayaan alam Nusantara; hutan, gunung, sawah, lautan, belum lagi barang tambang, hewan, angin, sinar matahari, termasuk juga manusianya. Selain kaya, Nusantara juga sangat indah, panorama alamnya begitu eksotik, gugusan pulau dari Sabang sampai Merauke sangat sesuai dengan julukan “penggalan surga” yang disematkan pada negeri ini. Tetapi Ibu Pertiwi sedang bersedih, sedang berlara hati, merintih hingga akhinya berdoa. Sedang itu pula putra-putri datang untuk menghibur Sang Ibu, berjanji untuk menjaga harta pusaka Nusantara.

Jika kita mau merenungkan sebenarnya lagu ini menceritakan Nusantara pada era kapan? Nusantara era prasejarah, era kerajaan, era penjajahan Belanda, atau Nusantara saat ini?. Kalau lagu Ibu Pertiwi ini menggambarkan kondisi Nusantara zaman dahulu, itu sesuai. Tetapi jika lagu ini menggambarkan Nusantara sekarang, itu juga sangat relevan. Nusantara masih sangat kaya akan alamnya, seakan tidak ada habisnya sumber daya alam yang kita miliki meskipun dikeruk terus-terusan setiap harinya.

Ibu Pertiwi, yang diperankan oleh RAy Sitoresmi Prabuningrat

Lalu pertanyaannya adalah mengapa kemudian Ibu Pertiwi malah bersusah hati, berlara hati, menangis, merintih? Apa yang sedang terjadi?. Apa kekayaan alam Nusantara ini sudah mulai habis, atau alam kita sudah rusak, atau alam kita sedang dicuri orang?. Patut kita diskusikan, kita rembuk bersama apa yang membuat Ibu Pertiwi sebegitu sedihnya, sebegitu gundah gulananya sehingga kehilangan keceriaan, sirna pancaran kebahagiaannya.

Sejenak mari kita tengok keadaan alam Nusantara hari ini, menurut catatan Global Forest Watch Indonesia telah kehilangan hutan primer seluas 9,75 juta hektar sepanjang tahun 2002-2020. Hilangnya hutan lebih dari 96% disebabkan oleh deforestasi, atau hilangnya tutupan hutan secara permanen yang disebabkan oleh manusia. Kalau anda menyaksikan film “Pulau Plastik” garapan Dhandy Laksono, hasil penelitian dalam film tersebut menyatakan bahwa 72% ikan di hilir Kali Brantas mengandung mikroplastik yang berasal dari limbah yang mencemari sungai. Ikan kemudian dimakan oleh manusia hingga pada tubuh manusia juga mengendap mikroplastik. Hal itu terbukti dari feses manusia yang dikeluarkan saat buang air besar juga mengandung mikroplastik.

Dua topik di atas merupakan contoh kerusakan berat yang terjadi pada hutan dan sungai di bumi Nusantara. Tentunya keadaan demikian memberikan dampak buruk bagi makhluk hidup di sekitarnya mulai dari punahnya hewan, matinya vegetasi, polusi, juga sejumlah kerugian yang dialami manusia. Apalagi kalau kita amati kerusakan-kerusakan lainnya yang juga tak kalah mencengangkan seperti kerusakan pasca tambang, penumpukan sampah plastik di laut, kualitas udara yang menurun, hilangnya beberapa sumber air, degradasi lahan, dan lain sebagainya. Apakah karena melihat kondisi alam yang rusak ini yang menjadikan Ibu Pertiwi bersedih?.

Nampaknya jawabannya adalah iya, Ibu Pertiwi getir hatinya menyaksikan tempat lahir bangsa Nusantara ini menjadi rusak sedemikian rupa. Apalagi penyebab kerusakan-kerusakan itu adalah manusia Nusantara sendiri, ketidakdewasaannya dalam bertindak telah menjadikan tanah air menjadi tidak ramah lagi bagi penghuninya. Lalu sekarang bagaimana? apakah Ibu Pertiwi masih menangis? apa yang diharapkannya sekarang? atau jangan-jangan Ibu Pertiwi sudah tidak mau peduli. Anda semua jamaah maiyah, arek-arek Suroboyo dapat mengetahui kondisi Ibu Pertiwi sekarang pada pagelaran akbar teater WaliRaja-Rajawali yang akan dihelat di Tugu Pahlawan pada 23 September mendatang. Mari bersama kita saksikan lakon Ibu Pertiwi yang akan menceritakan keluh kesahnya di atas panggung yang gemerlap nan penuh sukacita. []

Leave a Reply

Your email address will not be published.