Kolom Jamaah

Tangis Syawal dan Harga Seonggok Daging

Oleh : Rio NS

Di dalam lingkup ilmu manajemen kepemimpinan, dikenal tiga rentang otoritas yang dengannya kita bisa kelola kadar perhatian dan energi kepengurusan / penanganan atas masalah masalah yang ada. SMDP (Sabrang Mowo Damar Panuluh) pada satu sesi BangbangWetan juga pernah mengungkapkan temuannya terkait hal ini yang sangat kongruen dengan formulasi manajemen di atas.

Karena saya lebih akrab dengan pengistilahan yang pertama, maka saya gunakan saja terminologi itu: control zone, influence zone, dan concern zone. Dikatakan bahwa seorang manajer yang sukses adalah mereka yang selalu hanya berfokus pada control zone. Satu wilayah dimana kapasitas dan  kapabilitas kita bisa berkorelasi secara positif dengan hasil. Dua area selebihnya, jadikan sebagai informasi belaka. Mungkin ada gunanya bagi pengambilan keputusan kita namun tidak untuk dijadikan bahan pemikiran dan pencurahan tenaga.

menangis

Mendapati lalu lintas informasi yang kian centang perenang, inflasif dan bertubi-tubi, saya pikir ada baiknya kita aplikasikan pembagian zona di atas. Dalam tataran selanjutnya, akan lebih baik bila rumusan Cak Nun kita gunakan juga, yakni: rendah hati terhadap apa yang kita tahu, berprasangka baik pada apa yang kita kurang tahu, dan berpuasa pada apa yang kita tidak tahu.

Luka derita saudara kita di ruas tol Brebes, pemboman di Madinah dan yang jauh lebih hangat, di Mapolresta Surakarta serta keterangan resmi Presiden terkait bom bunuh diri itu adalah apa yang kita saksikan di penghujung Ramadan ini. Selebihnya, kalau mau disebutkan, tentang hukum menukarkan uang yang dosanya melebihi zina, tentang pernyataan bahwa Idul Fitri secara bahasa adalah “hari raya makanan” dan tidak ada hubungannya dengan “kembali ke kesucian”, (kegagalan) kendali pemerintah atas harga perkilo daging sapi, dan lain-lain, dan seterusnya.

Masih kurang nutrisinya? Kembali saja pakai postulat lama “think globally, act locally”. Sekian banyak perkara lokal-domestik-personal belum kita tuntaskan sehingga sungguh “percum tak bergun” bila kita urus hal yang jauh dari halaman rumah dan pekarangan. Kalau tujuan hendak dipertanyakan, bagi saya jelas: agar tak lagi kita menjadi bangsa yang mengidap masygul permanen atau kecele sepanjang jaman.

Informasi memang segalanya hari ini. Dia primadona, sekaligus raja namun juga komoditi. Kepemilikan serta hegemoni atasnya adalah separuh kemenangan, dalam pertempuran perebutan daulat sumber daya alam yang semakin terdegradasi.

Bagi kita yang telah menetapkan diri untuk bertahan jernih, pilihannya adalah stay tune di kedalaman objektivitas, kokohnya rasionalitas dan teguh dalam keberpihakan kepada kebenaran.

Ramadan 1437 H telah berakhir, bulan Syawal sudah kita masuki. Alhamdulillah, sholat Ied tahun ini bisa dilakukan serentak di segenap wilayah geografis dan pemahaman. Tulisan ini, nyata tidak mengajak kita mendefinisikan batas jelas kekecewaan atas masih mahalnya harga daging di pasaran. Lebih dari itu, saya ingin mengajak kita kembali ke seonggok daging yang “bila ia baik, baik pula si empunya”. Di momen Lebaran ini, mari kita kembali ke seonggok bentukan bernama hati.

*Nugroho R. Sanyoto (Rio NS) : Penggiat BangbangWetan. Menemukan keseimbangan diri pada musik rock dan sastra. Tak henti bersyukur atas karunia Maiyah dalam hidupnya. Bisa dihubungi di akun Facebook: N Prio Sanyoto