Kolom Jamaah

Tangis Syawal dan Pasukan Salpam

Oleh : Rio NS

LEBARAN memiliki banyak makna dan interpretasi. Sebagian kita menganggapnya sebagai hari-hari duka menyayat oleh sebab Ramadan telah pergi. Dalam jumlah yang tak sedikit, Lebaran adalah episode manik dimana apa saja kita beli. Kemanfaatan tak usah kita peduli dan sebelas bulan sesudahnya, kerja keras lagi. Periode yang dalam penanggalan ada di dua minggu pertama bulan Syawal ini bermakna pula panen raya bagi penghasil, pengedar dan penjual barang dan jasa di hampir semua jenis komoditi.

Bagi saya sendiri, tradisi Lebaran diformulasikan nenek moyang sebagai pelengkap puasa Ramadan. Menurut Nabi Muhammad SAW, Ramadan adalah madrasah, bulan persekolahan. Local wisdom leluhur menempatkan permintaan maaf sebelum datangnya dan saling menghalalkan khilaf serta kesalahan di pasca berlalunya sebagai amal yang sebaiknyalah kita kerjakan.

Karena menghormati tamu adalah juga sunnah maka memuliakannya adalah rangkaian logis berikutnya. Dan karena saling bermaafan adalah pengakuan kesetaraan dalam tingkatan antropologis dan norma kewajaran sosial, maka syariatnya harus ditunaikan melalui saling berkunjung, beranjangsana.

lebarann

Secara sederhana, inilah mungkin yang menjadi asal muasal deviasi nilai Idul Fitri. Urusan tata boga diklaim sebagai ranah milik usahawan gastronomi dalam bentuk kemasan, bahan dasar, hidangan siap saji, rumah makan dengan beragam tampilan hingga materi untuk keperluan “topping” dan bumbu pelengkap. Masih di kawasan ini, jangan lupakan petakan milik pengusaha minuman. Lagi-lagi dalam segala kemasan, bahan, dan peruntukan.

Pembahasan tentangnya akan bertambah panjang dengan temuan-temuan sederhana saja. Diantaranya, karena mayoritas penduduknya beridentitas Islam, maka negara memutuskan dan mengharuskan dibayarkannya “profit sharing” bernama THR. Implikasinya cukup luas. Lonjakan nilai transaksi bahkan perekonomian secara nasional cukup curam.

Mengingat arti penting saling bermaafan bagi lebih sempurnanya ibadah puasa, mumpung uang masih ditangan dan cuti serta beban kerja masih longgar buat dirundingkan, maka inilah saat terbaik untuk berbondong ke kampung halaman.

Pengusaha gastronomi didampingi mereka yang berladang di dunia transportasi. Pemerintah maupun swasta; darat, laut dan udara; sekedar sampai tujuan atau lengkap fasilitas plus sepanjang jalan. Berdiri dekat dengan pelaku dunia transportasi, ada mereka yang empunya jasa penginapan. Mereka bisa mandiri lokal maupun internasional; dari melati hingga ke bintang; dengan atau tanpa sarapan.

Dalam upaya menghormati tamu dan sesama serta cermin syukur atas limpahan THR bagi keluarga, lebaran identik dengan baju baru. Secara sarkastik, meme yang tahun lalu mengumumkan pencarian siapa penemu ide bahwa Lebaran harus berbaju baru, di rangkaian Ramadan-Syawal tahun ini menunjukkan meme yang mengatakan bahwa orang tersebut sudah diamankan oleh pihak berwajib.

Lalu siapakah “Pasukan Salpam”? Tidak usah khawatir, mereka tidak anarkis dan, percayalah, datang serta perginya selalu dihiasi senyuman. Kelanjutan logika tentang kesempurnaan puasa Ramadan, pasukan ini meyakini bahwa cara terbaik untuk meminta maaf dan menghaturkan permaafan adalah dengan mendatangi setiap rumah yang empunya kita kenal. Jumlah orang yang semakin banyak dan belum jelasnya konsep “kenal”, “tahu”, “mengerti” membuat pasukan ini datang rumah ke rumah untuk sekedar tunaikan kewajiban. Setelah SALaman langsung PAMitan.

Pasukan Salpam tidak memerlukan dipenuhinya kaidah tu’maninah dan keintiman. Karena pesatnya laju roda jaman menjadikan kita harus ikut bergegas. So, cukuplah bagimu Salpam-mu untukmu…

 

*Nugroho R. Sanyoto (Rio Ns) – Salah satu penggiat BangbangWetan, penulis dan praktisi pemasaran berbagai produk berskala nasional khususnya produk-produk farmasi. Dapat ditemui di akun Facebook : N Prio Sanyoto