Berita, Kolom Jamaah

Tapal Batas Keterbatasan

(Sebuah dedikasi untuk kawan-kawan pegiat dan volunteer panitia pementasan teater dan permenungan milad ke 16 tahun BangBang Wetan, khususnya divisi PERLENGKAPAN)

Oleh : andk.pw

Pada umumnya: keterbatasan menjadi persoalan, kendala, atau penghambat dalam sebuah proses dari satu tujuan tertentu.

Namun tidak jarang keterbatasan justru menjadi parameter yang menguji seberapa besar keinginan dan upaya manusia untuk bisa mencapai sebuah tujuan. Alih-alih menggagalkan, sebuah keterbatasan malah mampu mengurai dan mengembangkan sebuah gagasan sederhana menjadi ide-ide baru yang lebih bervariatif. Keterbatasan membuka pintu-pintu lain yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Tak terkecuali pada hajat besar Majelis Masyarakat Maiyah BangBang Wetan, dalam perayaan miladnya yang ke 16 tahun ini, lebih spesifik adalah keterbatasan budget dan finansial kepanitiaan dan volunteer divisi PERLENGKAPAN, untuk persiapan dan realisasi pementasan sebuah lakon teater ‘WaliRaja RajaWali’.

Saya menjadi saksi dan turut merasakan langsung bagaimana kawan-kawan volunteer dan penggiat BangBangWetan begitu solutif mengurai dan menciptakan nilai-nilai dari sebuah ‘keterbatasan’. Khususnya kawan-kawan divisi PERLENGKAPAN.

‘Keterbatasan’ memaksa kita untuk lebih intens melingkar dalam diskusi-diskusi sebagai syarat untuk kita bisa memecahkan setiap persoalan dari budget yang terbatas. Namun positifnya kita menjadi lebih cair antara satu dengan yang lainnya, yang saya sendiri atau beberapa kawan yang lain bahkan tak saling mengenal sebelumnya.

Ide-ide itu pun sahut-menyahut dalam satu ruang diskusi, seperti kicauan burung di pagi hari yang menjadi elemen keindahan alam ketika kita sedang berada di puncak-puncak gunung.

Perlahan satu-persatu kendala terkait pendanaan mulai terurai dan menemukan titik terang. Min haytsu laa yahtashib

Kemudian kebersamaan itu mulai berkembang dari ruang diskusi menuju ruang eksekusi. Ya, sebagai salah satu solusi untuk menekan pengeluaran dan biaya produksi, kita tidak mungkin menyewa tukang untuk menyelesaikan semua projek perlengkapan. Dengan gotong-royong kita bahu membahu mengeksekusi ide dan konsep dari secarik kertas menjadi wujud nyata benda-benda yang akan menjadi sarana dan prasarana pendukung dalam pementasan teater nanti. Dan makna yang bisa saya simpulkan hingga saat ini adalah bahwa semangat gotong-royong itu masih ada, sesuatu yang sulit di temukan di era saat ini. Sebuah konsep hidup bersosial warisan dari para pendahulu yang mulai hilang di telan zaman.

Kita bukan insinyur, arsitek, atau orang-orang yang memiliki keahlian khusus di bidang yang saat ini sedang kita kerjakan. Tapi kawan-kawan telah membuktikan bahwa sebuah keterbatasan memaksa kita melampaui hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kita sangka bahwa kita mampu untuk menyelesaikan.

Saya membayangkan jika kita tidak memiliki keterbatasan di segi budget dan finansial produksi, mungkin kita tak perlu mengeluarkan banyak waktu dan tenaga, mungkin kita akan menjadi lebih praktis karena mampu membayar dan mempekerjakan orang yang ahli di bidangnya untuk menyelesaikan semua projek divisi PERLENGKAPAN.

Akan tetapi mungkin pula kita tidak akan bisa secair hari ini, kita tidak akan intens berkonsolidasi, berdiskusi, berbagi ide dan berpikir untuk mencari alternatif solusi. Kita tidak akan menemukan sebuah kolaborasi, keakraban, gotong-royong, dan keindahan yang lebih baik dari yang kita miliki hari ini.

Saya sungguh salut dengan energi kawan-kawan yang begitu membara, membakar setiap keraguan yang kadang kala hadir. Saya sungguh salut dengan keikhlasan dari setiap mereka, yang rela mengorbankan waktu dan tenaga tanpa alih-alih apapun selain untuk kelancaran dan terselenggaranya pementasan teater WaliRaja-RajaWali dan permenungan milad ke 16 BangBang Wetan.

Saya turut melebur dan merasakan langsung keakraban yang kian nyata di antara kami, yang menjadi bahan bakar setiap kita berproses. Melihat bagaimana kawan-kawan berbagi banyak hal, makan bersama dalam satu lingkaran dan deretan kertas minyak yang menjadi satu piring raksasa. Melihat bagaimana kawan-kawan bisa menertawakan lelah dengan candaan-candaan ringan yang senan tiasa menjadi pengiring saat bekerja atau istirahat bersama.

Pada dasarnya keterbatasan ada di manapun, di antara, dan setiap kita, di setiap ruang dan waktu.
Tak di pungkiri mungkin beberapa atau semua di antara kita sedang memiliki keterbatasan masing-masing di luar kebersamaan hari ini, dari yang sederhana hingga yang paling rumit untuk di selesaikan.

Semoga dalam kebersamaan kita hari ini terkandung makna, hikmah dan pelajaran bagaimana kita bisa menemukan titik terang dari sebuah keterbatasan. Dan semoga titik terang itu turut membersamai kita untuk menyelesaikan dan menjawab keterbatasan yang ada pada masing-masing kita.

Jika belum terjawab sekalipun, jangan menyerah dan berputus asa. Mungkin Tuhan tak benar-benar menempatkan keterbatasan pada proses dan perjalanan hidup kita sebagai beban, mungkin itu adalah teka-teki yang kita belum bisa untuk menemukan jawabannya. Atau mungkin kita belum benar-benar berusaha lebih keras, lebih yakin, dan lebih ikhlas dari setiap yang kita terima.

Sidoarjo, 17 September 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published.