Kolom Jamaah

Tasyakur di Titik Keberangkatan Nomor Sekian

Catatan rasa oleh: Agung Tri Laksono

 

Minggu, 14 Oktober 2018. Pukul 12.00 merupakan sepenggal waktu yang tidak lazim bagi pertemuan sedulur Maiyah BangbangWetan yang bertempat di Angkringan “Mak Joss”, Jl. Bendul Merisi No. 38 milik Abah Pusoro, salah satu sedulur BangbangWetan asli Sumobito, Jombang. Sebagian penggiat hadir, komandan Dudung yang meski gips yang terpasang di engkel kanannya sudah dilepas namun masih harus memakai alat bantu jalan nampak sudah hadir berdampingan dengan Ahid yang datang dengan formasi lengkap, istrinya, Nita, beserta keempat anaknya. Ada juga Pasangan Acang dan Aya plus putranya, Jembar yang bermain main akrab dengan putra-putri pasangan Aris dan anak-anak lainnya.

 

Para pemuda jomblo anyaran maupun jomblo berpengalaman juga hadir. Ada manajer Very, Fajar, Mus, Yasin, Debby, Rochman, dan masih banyak lagi yang apabila ditulis semua maka penuh tulisan ini dengan nama-nama mereka.

 

Sita dan Tamalia menjadi srikandi terkini BangbangWetan yang begitu energik menghadapi “serangan-serangan” para jomblo.

 

Setelah bercengkerama cukup lama sambil menunggu beberapa nama, tibalah acara dibuka oleh Fajar.

 

Abah Kanib (Cak Kanib Mentoro) yang kebetulan sering berkomunikasi dengan Abah Pusoro,  juga sengaja diundang.

 

Secara berturut-turut, Mas Dudung, Cak Kanib, Ahid, Abah Pusoro, Very, dan perwakilan srikandi menyampaikan prakata yang berkaitan dengan penyelenggaraan 12 tahun BangbangWetan, dan pastinya tentang paseduluran di BangbangWetan.

 

Mas Dudung yang masih menggunakan gips saat 12 tahun BangbangwWetan mengatakan, “Yang pertama saya bersyukur atas nikmat sehat walaupun lewat sakit. Yang Kedua nikmat usia karena masih bisa ngintili generasi muda BangbangWetan”.

 

Abah Pusoro sebagai tuan rumah dan Pak Kanib sebagai sesepuh juga diminta untuk memberi warna. Keduanya memang baru pertama kali ini berkumpul dengan penggiat BangbangWetan, maka tidak banyak yang bisa mereka katakan selain menyampaikan beberapa harapan ke depan untuk bisa membangun paseduluran yang lebih karib.

 

Very sebagai manajer yang sesungguhnya pada acara 12 tahun BangbangWetan, tentu memegang peran paling vital dalam memobilisasi semuanya. Very menyampaikan rasa syukur dan terima kasih tak terhingga atas semua dukungan, semua bentuk antusiasme dari semua penggiat, dan eksponen yang terlibat dalam panitia Ad-hoc.

 

Setelah Tamalia diminta Fajar selaku moderator untuk menyampaikan sesuatu dari sudut pandang srikandi BangbangWetan. Acara dipuncaki dengan shalawatan yang dipimpin oleh Cak Lutfhie dan dipungkasi doa oleh Mas Dudung.

 

Semua sepakat bahwa ini bukanlah akhir. Bukan pula pembubaran panitia. Karena semua juga yakin bahwa ini bukan hanya sekadar satu bentuk kepanitiaan. Ini adalah bentuk kesungguhan akan pengabdian dan pelayanan atas nilai-nilai paseduluran.

 

Maka semua mempunyai keyakinan yang sama bahwa pertemuan siang itu adalah bagian dari usaha meningkatkan rasa paseduluran yang pada gilirannya akan menambah kualitas maupun kuantitas paseduluran. Paseduluran yang dibangun dengan kesungguhan untuk menggapai cinta dan syafaat Kanjeng Nabi Muhammad saw serta tentunya ridho Allah Swt.

 

Nuwun

 

Agung Trilaksono : Penggiat BangbangWetan. Pemegang sabuk hitam di sebuah aliran bela diri. Baginya, bekerja bukan untuk mencari rejeki melainkan untuk mendapat percikan barokah dari rejeki. Bisa dihubungi di Facebook dengan nama akun : Agung Trilaksono