Reportase

Tawassuth dan Tawazun: Nilai Moderasi Pahlawan Masa Kini dan Datang – Reportase BbW November 2022

Oleh: Imroah

 

Majelis Ilmu BangbangWetan (Minggu, 20 November 2022) yang bertempat di Royal Durian Medokan Semampir, Surabaya, mengangkat tema Infiltrasi Pseudo-Epik. November yang syarat akan makna pahlawan selaras dengan tema malam itu. Tidak dipungkiri, tema gagasan BangbangWetan muncul dari kegelisahan tentang “pahlawan” yang dimaknai sempit oleh masyarakat.

Ditemani rintik hujan yang sejak sore mengguyur kota Surabaya, Jamaah Maiyah satu persatu mulai memadati karpet yang telah disediakan: ada yang membawa bekal camilan dari rumah, ada yang memesan minuman hangat di kedai Royal Durian, ada yang saling berbagi dengan teman sebelah, dan ada juga yang menandai tempat duduk temannya dengan makanan atau minuman. Jamaah laki-laki dan perempuan berbaur tanpa sekat, saling bertegur-sapa, menambah kehangatan suasana yang sudah lama terjalin saat rutinan BangbangWetan.

Kehangatan pun didukung nuansa dekorasi berbeda dari rutinan biasanya. Beberapa pertemuan setelah dinyatakan bebas dari pandemic Covid-19, dekorasi BangbangWetan berbeda dari tahun sebelumnya. Di sekeliling terop tidak terpasang spanduk yang identik sebagai jargon BangbangWetan. Namun malam itu nampak empat pasang spanduk yang terpasang dengan tulisan,“Matahari Memancar dari Timur. Orang-orang Perlu Berkumpul di Timur. Yang Dinanti-nanti Muncul dari Timur. Untuk Menguak Rahasia Bangun dari Tidur”. Beberapa Jamaah tampak lamat melirik sekeliling terop dan memperhatikan tulisan yang terpampang.

Bukan hanya dekorasi, Buletin Maiyah Jatim (BMJ) yang sejak pandemi tidak terbit, pada bulan November ini terbit perdana setelah sekian purnama. Memang pada bulan ini dapat dikatakan sangat istimewa, Original Merchandise dan Omah Padhangmbulan juga menerbitkan kalender 2023 untuk Jamaah Maiyah Nusantara.

Tepat pukul 20.00 WIB acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan dilanjutkan mbeber tema Infiltrasi Pseudo-Epik yang dimoderatori oleh Yasin. Seperti yang telah dipaparkan dalam prolog edisi November 2022 bahwa tema Infiltrasi Pseudo-Epik merupakan “intisari” kegusaran penyematan kata pahlawan yang dinilai hanya sebagai abang-abang lambe, karena hanya berhenti pada perayaan, upacara kepahlawanan, pengenaan busana pahlawan di sekolah-sekolah, berpose di media sosial dengan atribut pahlawan, dsb. Apa kata pahlawan hanya sebatas itu? Atau sebenarnya ada penjabaran pahlawan yang lebih luas dan mendalam? Artinya dapat dimaknai dan diterapkan bukan hanya sebagai simbol, namun juga pada karakter dan sikap seorang pahlawan.

Jamaah ada yang merespons dari paparan moderator yakni Nurul dari Kediri yang sekarang menetap di Kalimantan Barat. Ia yang saat ini diberi amanah menjadi seorang guru di pedalaman Kalimantan Barat merasa bahwa sosok guru terutama yang mengabdikan diri di pedalaman adalah pahlawan. Karena bukan hanya kepandaian namun kepiawaian me-manage anak yang belum, bahkan tidak ada kemauan untuk sekolah adalah tantangan yang harus dihadapi. Nurul juga menambahkan bahasa dan penampilan juga menjadi faktor yang urgent dalam proses belajar-mengajar. Perbedaan bahasa atau logat dan penampilan yang kurang menarik acapkali menuai “ejekan” dari para murid. Problem seperti ini yang menurut Nurul guru pedalaman pantas diberi predikat sebagai pahlawan.

Napak Tilas Kota Surabaya

Pak Tri Priyo Wijoyo dari komunitas Begandring Soerabaia salah satu narasumber yang akan menyampaikan tentang sejarah klasik: sejarah yang mulai dari periodesasi zaman kerajaan. Beliau menjelaskan mulai dari asal mula lambang Sura dan Baya yakni ikan hiu dan buaya yang berebut makanan. Ini tertuang dalam naskah Ramayana dari bahasa Sansekerta yang bertuliskan “wuhaya len hyu maso marebut daging” yang artinya buaya dan hiu saling berebut daging. Kata Surabaya sendiri muncul pertama kali pada prasasti Canggu tahun 1280 Saka atau 1358 M.

Menurut data yang beliau kumpulkan, logo kota Surabaya dari masa ke masa mengalami perubahan. Perubahan yang sangat berbeda dari logo-logo sebelumnya adalah logo yang saat ini dipakai. Perbedaannya terletak pada posisi sura dan baya atau ikan hiu dan buaya yang tempo dulu digambarkan sejajar vertikal; ikan hiu bagian atas dan buaya di bagian bawah. Sedangkan logo yang digunakan sekarang ikan hiu dan buaya yang saling melilit satu dan yang lain.

Selain menjelaskan tentang logo kota Surabaya, Pak Tri juga menyampaikan sejarah asal mula hari jadi kota Surabaya yaitu 31 Mei 1293 yang merujuk pada peristiwa kemenangan Raden Wijaya yang mengusir pasukan Tar-Tar dari Hujung Galuh (Surabaya). Seperti diketahui Raden Wijaya merupakan pendiri dan maharaja pertama kerajaan Majapahit. Kemudian Surabaya ditaklukkan Sultan Agung (Mataram) pada tahun 1625 M. Saat itu penguasa Surabaya bernama “Jayalengkara”. Jayalengkara mempunyai putra bernama “Pangeran Pekik” yang dinikahkan dengan adik Sultan Agung, bernama “Ratu Mas Pandan”. Sebelumnya Pangeran Pekik adalah keturunan ketujuh dari Sunan Ampel.

Beberapa dokumnetasi yang dipaparkan juga menggambarkan toponimi desa tempo dulu yang masih dipakai hingga saat ini, misalnya Sarba (Serbo, Balongbendo), Waringin Pitu (Wringin Pitu, Balongbendo), Lagada (Legundi; masih indikasi), Pamotan (Pamotan, Porong), Tulangan (Tulangan), Panumbangan (Penambangan, Balongbendo), Jruk (Jeruk Legi, Krian), Trung (Terung, Krian), Kambang Cri (Bangsri, Sukodono), Tda (Tado Singkalan, Tarik), Gsang (Pagesangan, Surabaya), Bukul (Bungkul, Surabaya). Termasuk juga letak atau posisi Keraton Surabaya yang diprediksi berada di kawasan Kantor Gubernur Jawa Timur dengan beberapa temuan-temuan yang telah dikumpulkan. Misalnya petunjuk yang menyebutkan letak Keraton Surabaya antara Kali Mas dan Kali Pegirian, dan sebagian lagi di sebelah baratnya. Bagian ini tempat keraton berada, dilindungi oleh tembok- tembok tinggi.

Diskusi yang gayeng membuat jamaah lupa pada waktu yang semakin larut malam. Kopi dan rokok menjadi saksi kesungguhan para jamaah dalam menyerap pengetahuan baru. Penggiat mempersilakan Nurul untuk membacakan puisi dan Dewo and Friends untuk mebawakan satu-dua lagu sembari menunggu Mas Sabrang naik ke panggung.

Siapakah Pahlawan itu?

Pahlawan menurut KBBI adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanan dalam membela kebenaran. Lalu pertanyaannya adalah membela kebenarannya siapa? Pertanyaan pemantik ini menjadi awal diskusi. “Siapakah sebenarnya yang dapat dikatakan sebagai seorang pahlawan?”, Mas Sabrang memberikan sudut pandang tentang pahlawan yang menurut beliau semua orang bisa menjadi pahlawan sekaligus penjahat pada waktu yang bersamaan. Misalnya orang yang berperan untuk mencapai sebuah tujuan dikatakan sebagai pahlawan tetapi juga sebagai penjahat oleh orang yang berseberangan tujuan dengan orang tersebut.

Pahlawan memiliki skala yang berbeda mulai dari personal, tingkat negara, hingga dunia. Tingkat personal contoh dalam kehidupan sehari-hari misalnya dalam pertarungan dua pemuda yang ingin mendapatkan seorang wanita yang sama, pihak ketiga dapat menjadi pahlawan dan musuh dalam waktu yang sama. Menjadi pahlawan bagi A karena membantu dan menjadi penjahat bagi B karena menghalangi B dan membantu A. Sedangkan dalam skala nasional misalnya memimpin perubahan disebut penjahat dan yang mempertahankan keadaan disebut pahlawan. Pada film juga menceritakan sama halnya dengan dunia nyata. Tokoh pemimpin perubahan “Joker” dikenal sebagai penjahat, sedangkan yang mempertahankan keadaan “Batman” dikenal sebagai pahlawan. Termasuk juga tingkat dunia misalnya Elon Musk secara tidak langsung ia adalah pahlawan karena kesadaran kita terpengaruh dari keputusan yang kita kenal.

Dari sudut pandang Mas Sabrang, sosok pahlawan yang paling dibutuhkan peradaban, orang, kelompok, maupun negara adalah belajar tentang sejarahnya atau yang sekarang dikenal track record. Belajar sejarah itu sangat penting. Sejarah bukan berarti sebuah pelajaran yang ada di sekolah, namun yang dimaksud adalah bagaimana kita tahu apa, kenapa, dan bagaimana berpikir yang tepat.

Tawassuth dan Tawazun Harus Menjadi Karakter Bangsa

Tawassuth adalah sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak condong kiri-kanan. Seperti firman Allah pada Q.S. Al-Baqarah: 143 yang artinya:

Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian.”

Selain itu Tawazun atau seimbang dalam segala hal termasuk dalam penggunaan akal pikiran.  Dalam firman Allah SWT  Q.S. Al-Hadid: 25 yang artinya:

Sungguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti kebenaran  yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka al-kitab dan neraca (penimbang keadilan) supaya mereka dapat melaksanakan keadilan.”

Mas Sabrang menerangkan beberapa pengalaman yang beliau dapat: bahwa jika belajar sejarah kita dapat melihat bahwa yang menang selalu yang tengah artinya yang mampu memanfaatkan dua sudut pandang pada waktu dan tempat yang tepat. Tetapi terjemahan dari titik tengah itu sulit untuk dapat diterjemahkan apabila kita tidak mengetahui mana titik ekstrim kanan, kiri, atas, maupun bawah. Sehingga penyebutan pahlawan dapat kompatibel pada zaman yang tepat.

Memang tidak mudah untuk mencari titik tengah, maka diperlukan orang-orang yang kompeten dan ini yang tidak banyak dalam populasi manusia. Sehingga untuk menemukannya juga sangat sulit: diperlukan kemampuan adaptif untuk dapat menjawab tantangan zaman yang cepat dan terus berubah. Maka nilai atau karakter Tawassuth dan Tawazun sangat diperlukan minimal tidak untuk menjadi pembuat masalah baru, namun menjadi orang yang bijaksana dalam menyikapi permasalahan pada skala personal, negara, dan dunia.

Imroah. Perempuan kelahiran Kediri penikmat suasana Surabaya. Bisa dihubungi di @imroah73

Leave a Reply

Your email address will not be published.