Tegak Bersambung – Memasak Bekal Bagi Delegasi Masa Depan

PROLOG BANGBANGWETAN OKTOBER 2017

Katanya, alasan mengapa diciptakan ruang dan waktu adalah agar semua hal tidak terjadi secara bersamaan. Satuan ruang dan waktu seperti sendok takar bagi sirup yang harus diminum manusia sepanjang hidup. Melalui keduanya pula manusia punya ukuran atas keputusan yang diambil semasa di dunia. Apakah merugi sebab sekarang dan nanti tidak ada perubahan, beruntung sebab mengalami transisi positif ke depan, atau justru terhina karena malah mengalami kemunduran dari hari ke hari.

Gap antara masa kini dan masa depan berisi ruang penuh keputusan-keputusan. Pada setiap keputusan yang diambil, manusia mengantongi beragam konsekuensi. Salah satunya adalah perubahan. Sayangnya, sebagaimana masa depan yang ghoib, arah perubahan tidak selamanya selaras dengan harapan yang telah direncanakan. Pada perjalanan selanjutnya manusia menemui banyak ketidak-seimbangan. Dan dalam turbulensi keseimbangan itu, manusia harus mampu mempertahankan posisi tegak lurusnya terhadap gravitasi Tuhan.

Dalam diri setiap individu sendiri, transisi terjadi setiap saat dan terus menerus. Kenyataan bahwa waktu tidak bisa diputar ke-belakang membuat manusia harus sadar bahwa mereka perlu punya banyak persiapan untuk masa yang akan datang. Kita pun familiar terhadap harapan tiap orang tua kepada anaknya: “Semoga anak-anak saya punya masa depan yang lebih baik.” atau “Saya pengen anak-anak nggak (hidup) susah nanti kalau sudah tua.” kemudian diikuti ungkapan bahwa kerja keras mereka saat ini adalah demi menatakan jalan yang lebih mulus bagi keturunannya.

  • Belum Siap, Sebuah Apologi

Latihan keseimbangan manusia-manusia di zaman ini mungkin jauh lebih akrobatis. Sebab ruang dan waktu diperluas melalui teknologi informasi. Mau tidak mau kita harus tahu apa yang terjadi di berbagai tempat dalam satu waktu sekaligus. Jadi sulit untuk tidak terhubung dengan penderitaan orang lain. Tidak juga mudah untuk menahan keinginan punya ini itu, meski tidak sedang butuh ini itu.

Pada potret yang lebih besar seperti kebijakan-kebijakan pemerintahan suatu negara, tiap perubahan memungkinkan terjadinya konflik horizontal. Setuju atau tidak setuju, pertimbangan visi misi, perdebatan baik-buruk, dan pemaparan alasan bahkan memicu kontroversi sebelum kebijakan diputuskan.

Beberapa transisi yang sempat menjadi isu publik di Indonesia misalnya peralihan kompor minyak tanah ke kompor gas, sistem meteran listrik pascabayar menjadi sistem token, sampai yang masih hangat akhir-akhir ini terkait perubahan gaya pengguna transportasi publik dari konvensional ke pemesanan berbasis aplikasi telepon genggam. Meski penuh polemik, pada akhirnya setiap kebijakan yang diputuskan pemerintah tetap dijalankan oleh masyarakat dalam keadaan setengah atau sepenuh hati.

Tetapi apakah benar saat ini arus perubahan terjadi semakin pesat? Sehingga wajar jika kita katakan apologia “belum siap” terhadapnya. Atau memang kita saja yang tidak pernah siap sebab terlalu sibuk berada dalam kekhawatiran – alias sibuk memenuhi kebutuhan materi agar tidak terlalu khawatir akan ketidak-pastian hidup?

Barangkali yang lebih menyedihkan lagi, ketidak-siapan menghadapi transisi ternyata karena kita khawatir berada di kondisi tidak ideal. Memilih untuk tertidur nyaman di pemberhentian dunia dan tidak tertarik untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk yang nantinya mungkin dihadapi.

  • Mendelegasikan Zaman

Di belahan dunia yang lain berbagai penelitian  digalakkan untuk menemukan banyak alternatif sumber energi. Masyarakat dunia mulai memperhatikan isu kelangkaan pangan yang mungkin dihadapi oleh manusia di masa depan. Bahkan meneliti kemungkinan migrasi penduduk bumi ke planet lain jika bencana besar datang. Upgrade garis besar capaian negara-negara dunia dari Millennium Development Goals 2015 menjadi Sustainable Development Goals 2030 mengisyaratkan kesadaran proses siklikal dan pembangunan berkelanjutan kembali menjadi perhatian.

Kesadaran kontinuasi yang baru mulai diterapkan oleh negara-negara di luar sana barangkali merupakan respon dari konsekuensi logis pembangunan yang bersifat fisik saja. Sehingga banyak ditemui ketimpangan sosial dan efek negatif terhadap bumi. Khususnya kerusakan sumber daya alam dan terabaikannya pembangunan manusia. Sayangnya kesadaran mewariskan bumi untuk masa depan di sini semakin redup, meskipun telah jauh lebih dulu diajarkan oleh nenek moyang bangsanya.

Pada akhirnya, siap tidak siap, manusia mesti dihadapkan regenerasi. Keberlangsungan generasi yang akan datang ikut ditentukan oleh bekal generasi saat ini. Maka persiapan memasak perbekalan untuk generasi yang akan datang bukan sekedar membangun gedung-gedung dan memperluas petak tanah warisan. Tetapi lebih menjadi individu yang berperan baik pada wilayah pengaruhnya masing-masing.

Bagaimanapun juga, kita tidak boleh lupa tentang prinsip dasar proses. Bahwa proses bukan sekedar perpindahan dari titik mula ke titik akhir, proses adalah pergerakan menuju yang baik ke yang lebih baik. Maka resistensi terhadap transisi berarti berhenti. Padahal kehidupan di dunia saat ini adalah proses yang berlangsung tanpa henti hingga masa depan nanti. Sejalan dengan tugasnya sebagai pemelihara bumi, manusia yang terus menerus belajar mendelegasikan zaman kepada penerusnya.

 

Oleh : Redaksi /

Pengantar Forum Majelis Masyarakat Maiyah BangbangWetan Oktober 2017