Metaforatma

Tempat Pelepas Kepenatan Ibukota

Oleh: Tamalia Yunia N.

(Untuk 12 tahun BangbangWetan)

Ngelaras rolas, selaras dengan perjalanan Forum Maiyah BangbangWetan yang mencapai akil balig. Selaras pula dengan tanggal kelahiran baginda Rasul Muhammad saw. pada tanggal 12 Rabiul Awal. Banyak keberkahan dirasakan oleh siapapun yang turut hadir di dalamnya. Rutinan sebulan sekali yang dilaksanakan di ibukota Jawa timur seakan menjadi magnet bagi orang-orang yang selalu merindukan perjumpaannya.

 

Semenjak hijrah dari kota dingin Malang, takdir membawa saya untuk ditempatkan bertugas di kota dengan hiruk pikuk kemacetan dan suhu panasnya. Surabaya menjadi tempat saya merantau selepas lulus kuliah. Kalau dulu hanya ikut Maiyahan melalui acara Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng dengan jadwal tentatif, semenjak di Surabaya saya dikenalkan oleh seorang teman dengan rutinan sebulan sekali di BangbangWetan.

 

Pertama kali datang di Balai Pemuda, yang saya amati adalah suasana sekeliling yang heterogen, forum yang sangat cair, forum seribu podium karena siapapun diberi kesempatan berbicara di panggung. Saya teringat akan pesan salah satu narasumber bahwa ketika sudah niat Maiyahan, jangan bertanya Mbah Nun hadir atau tidak, hadirkan Mbah Nun di hatimu. Jangan hanya mencari sosok, cobalah untuk belajar melihat apa yang tidak terlihat.

 

Dari forum BangbangWetan, saya memperoleh fadilat Maiyah dengan bertemu saudara baru yang disebut Mbah Nun sebagai Al-Mutahabbina Fillah—rasa sambung sedulur karena Allah semata. Bersaudara tidak karena hubungan darah, kesamaan golongan atau motivasi kekuasaan dan transaksi keduniaan. Karena ketika sudah duduk bersama jemaah apapun latar belakangnya, kita akan melebur menjadi satu sebagai hamba yang mengharap syafaat Rasulullah dan CintaNya. Rasa seperti ini yang tidak saya temukan di lingkungan kerja. Forum Maiyahan seperti pelepas dahaga ketika saya lelah dengan kepenatan ibukota.

 

Di momen 11 tahun BangbangWetan tahun lalu, di sesi awal Cak Amin mengajak beberapa penggiat ke panggung untuk berbagi pengalamannya. Di BMJ edisi September 2017 ditulis pula oleh Mbak Viha bahwa kalau setelah tulisan ini ada wanita yang tertarik ikut ngulek di dapur BangbangWetan, saya akan siap untuk berbagi banyak pengalaman. Dari situ hati saya terketuk meskipun awalnya bingung dan canggung bagaimana cara bisa kenal dengan beliau-beliau yang sudah istiqomah menjaga terselenggaranya simpul maiyah di Surabaya.

 

Banyak peristiwa tak terduga terjadi di Maiyah, seperti menerapkan ilmu semut yang bersilaturrahim saat bertemu sesama. Saya diajak silaturrahim dengan ngopi bersama di Warkop Arjuno (Lidah Wetan) oleh dulur-dulur BbW. Momen itulah awal saya berinteraksi dan mencoba untuk srawung. Banyak ilmu dan pengalaman yang saya dapat dari dulur-dulur yang lebih dulu mengenal Maiyah.

 

Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat, sementara saya baru merasakan seperempat momen Sinau bareng di BangbangWetan. Terima kasih saya haturkan untuk dulur-dulur yang menemani saya berproses. Selamat milad yang ke-12 BangbangWetan. Semoga yang dinanti-nanti akan muncul dari timur, Minaddulumati ila nur.

 

Surabaya, 1 Muharam 1440 H

 

Tamalia Yunia Nurrahmah. Alumni Teknik Elektro Polinema yang tersesat di dunia perbankan. Bisa ditemui melalui akun twitter @tamaliayunia