Oleh: Rifi Hadju

 

Haay memegang erat kertas basah lengket itu. Tak hanya memegang, ia menggenggamnya erat-erat. Ia masukkan kalam itu pada brankas hati. Satu hal, Haay tak paham maksud kalam yang dilemparkan seorang bertopi pet putih dari balik pagar tribun. Pikirannya tak kuat menampung. Satu-satunya yang kuasa menampungnya adalah iman.

Ya! Keimanan Haay-lah penggenggam kalam itu, meletakkan sebaik-baiknya di brankas hatinya. Haay, menjaga apa yang sementara ini tak dipahaminya.

Haay bernapas panjang, berat, di bawah payung bench. Ia memandangi Coach Bejo yang tengah berdiri mengamati punggawanya di atas lapangan hijau. Lama memandangi Coach Bejo, Haay nggeleyang, terkantuk-kantuk. Haay kelelahan mengunyah kalam “Hatinya tidak mendustai apa yang telah dilihatnya” itu.

Sak sliut. Haay terjingkat ketika rekan-rekan setim dan pelatih berteriak-teriak memprotes wasit yang tidak memberikan pinalti ke Persebaya. Quick Supri dilanggar di kotak terlarang ketika memenangi adu sprint dengan bek sayap lawan yang terlanjur kepayahan. Jelas pelanggaran. Tapi wasit hanya memberikan tendangan penjuru.

“Wasit Jancok!!! Wasit Jancok!!!” menggema dahsyat di lingkar tribun GBT.

Kendati hanya ekshibisi, seharusnya fair-play tetap dijunjung kepala. Coach Bejo bersama asisten pelatih berlari tegas sambil berteriak-teriak menuding-nuding menuju wasit keempat, memprotes keras keputusan kontroversi wasit. Pertandingan dihentikan sejenak.

Lingkaran tribun yang sedikit legawa banyak kesalnya, makin menggemakan umpatan yang ditujukan kepada wasit. Beberapa botol mineral melayang bergantian. Terjun bebas ke pinggir-pinggir lapangan.

Announcer pertandingan mencoba menenangkan.

“Dulur, ayo uwis dulur. Ojok sawat-sawat dulur. Sanksi-ne gedhe. Ayo, dulur. Uwis dulur. Salam Satu Nyali!

(Saudara, ayo sudah saudara. Jangan lempar-lempar, saudara. Sanksinya besar. Ayo, Saudara. Sudah saudara. Salam Satu Nyali!)

Wasit utama tampak dikerubungi pemain dari kedua tim. Pemain Persebaya menghendaki itu penalti. Sedangkan pemain lawan mendukung keputusan wasit yang hanya memberikan tendangan sudut. Wasit makin detik makin tertekan. Tapi wasit masih belum mengeluarkan kartu. Protes masih dalam batasan.

Kakak Ruben, kapten tim Persebaya, tampak berbincang dengan wasit di antara kerumunan. Ia mengusulkan agar wasit melihat VAR. Wasit utama menyanggupi.

Wasit utama dan kapten kesebelasan kedua tim berlari menuju pinggir lapangan. Menuju meja wasit yang berada di antara mulut lorong pemain. Di situ sudah ada wasit keempat yang masih sibuk menenangkan Coach Bejo, juga Ketua Pelaksana yang meminggang – men-tidak mengerti-i apa yang ia tak mengerti.

“Pak, kita cek dulu di VAR,” ujar wasit utama kepada tiga yang ada di pinggir.

Tiga yang ada di pinggir itu melongo bebarengan. Pada satu titik sama, wajah wasit utama. Wasit utama ikutan melongo. Semua melongo. Berjamaah; ibadah melongo.

Hampir lima menit pertandingan terhenti. Perlahan-lahan gusar itu ada. Pertandingan ekshibisi yang kontroversial. Ini menyangkut citra Persebaya yang baru saja recovery dari masa-masa hilangnya gawang. Gawang yang hilang. Yang kini, diawas ketat lintas & lapis sekian kekuatan.

Waktu terus bergulir. Pertandingan menyentuh menit ke-40. Hanya lima menit menuju turun minum. Skor masih kaca mata. 0-0.

Kakak Ruben lagi-lagi membuyarkan ibadah melongo yang sedang dijalankan dengan penuh khidmat.

“Eh, Bapak semua. Kenapa ini saling pandang. Jatuh cinta, kah?” seloroh Kakak Ruben sambil menepukkan tangan ke masing-masing pasang mata.

Semua tersadar.

Wasit keempat memasuki pembicaraan. “Pak Wasit Utama. Bukankah kita ini tak punya VAR? Dan apalagi, menurut statuta yang juga saya tidak hafal di pasal berapa, apapun keputusannya, keputusan wasit yang pertama kali harus dipatuhi siapapun.”

“Lho iya-ya. Kita kan gak punya VAR. Terus bagaimana?” tawar Wasit Utama pada kedua kapten tim.

“Sudah tidak usah, Pak. Benar tadi keputusannya.” Kakak Ruben menyergah kapten tim lawan. “Eee, tidak bisa begitu kawan. Kita ini pemain profesional. Junjung fair-play lah. Mana asas keprofesionalanmu? Begini Bapak Wasit. Berhubung ternyata kita tidak punya VAR, kita lihat saja dari rekaman kamera siaran. Bagaimana? Deal?”

“Tidak bisa, Ruben. Itu melanggar aturan,” sahut Wasit keempat.

Tim Persebaya hampir seluruhnya berada di kawasan bench. Diskusi-diskusi kecil muncul dari mulut mereka. Dengkur-dengkur kecil muncul dari mulut Haay. Ia makin tenggelam di lautan lelap.

Sementara sayup-sayup di tribun sedikit demi sedikit mereda. Bukan sebab legawa, rupanya. Sekian kelompok-kelompok cair di tribun penonton itu menginisiasi deal-deal kecil yang mereka sepakati sendiri. Kira-kira begini:

“Kiro-kiro penalti ta gak? Ayo satus ewuan.”

(Kira-kira penalti apa tidak? Ayo seratus ribuan.”

“Ayo! Penalti!”

“Aku mbedek gak penalti. Rong atus ewu lho wani!”

(Aku nebak gak penalti. Dua ratus ribu loh berani!”

“Lek gak penalti yo gak kornel?”

(Kalau gak penalti ya gak corner?)

“Cok, malah totoan….”

(Cok, malah judi….)

“Gak ngoros! Lumayan menang, kenek gawe tuku susu’e cindilku.”

(Gak peduli! Lumayan menang, bisa buat beli susunya anakku.)

“Ya Allah, Mat…. Yowis aku melok jaban. Gak penalti!”

(Ya Allah, Mat…. Yaudah deh aku ikut judi. Gak penalti!)

 

***

 

Konferensi dadakan di pinggir lapangan stuck. Tak ada titik temu. Seluruh komponen teguh menarik kebenaran berdasarkan limitasi pengetahuannya. Coach Bejo frustasi. Nyaris memasrahkan hilangnya kesempatan penalti yang berpotensi besar membuat Persebaya unggul skor sebelum turun minum.

Haay tampil. Ia bangkit dari lelapnya. Sambil mengusap-usap muka & air liur yang menetes sela-sela mulutnya, ia menghampiri kerumunan di pinggir lapangan.

“Kalau masih ngotot, kita tukar nasib saja. Wasit Utama bertukar dengan Supriadi. Silakan tukar kostum. Kita reka ulang. Sama-sama. Semua kembali pada pos-nya. Dimulai dari Supri yang dapat umpan terobosan dari Rendi Irwan. Lalu Supri yang tukar posisi, ganti wasit. Lalu wasit berlari dan dijegal oleh bek lawan yang tadi. Dan Supri sebagai wasit memutuskan tidak penalti. Biar apa? Biar wasit tahu bagaimana jika keputusan yang dibuat itu tidak berdasarkan kenyataan di lapangan.”

Haay meneruskan. “Biar wasit tahu betapa sakitnya dilanggar tapi tidak diputuskan pelanggaran. Biar wasit memahami pemain yang sudah susah payah bangun serangan sedemikian, tapi keputusan wasit malah membuat pemain sakit hati. Itu tidak adil namanya. Tidak jujur.”

“Eh, kamu siapa? Datang-datang langsung ngerocos…,” sekat Wasit Utama.

“Lho, gimana sih kok gak kenal. Saya Osvaldo Haay, pemain Persebaya & Timnas U-23 yang berposisi sebagai winger. Saya pakai nomor punggung 20. Digadang-gadang bakal jadi salah satu penyerang hebat pengganti Bambang yang baru saja menjalani laga pamungkas,” seloroh Haay menyodorkan tangannya.

“Bukan. Bukan begitu maksudnya. Yang saya maksud. Yang boleh berbicara di sini hanyalah kapten tim. Hanya kapten tim!”

“Saya kapten tim!” tegas Haay yang kemudian merenggut dan menyilangkan ban kapten yang ia renggut dari lengan Kakak Ruben.

Haay berkacak pinggang.

 

Penulis Min Turobil Aqdam, Tadabbur Cinta & Gadis Pattani Dalam Hati, bagian dari Cak & Ning Surabaya 2018, Bondo Nekat. Bisa disapa di @rifihadju