Oleh: Rifi Hadju

 

“Bagi saya, minimal jangan sampai ada pengkhianatan kepada diri saya. Jujur sejak itu (Kejadian Gawang Hilang), sungguh mengubah paradigma berpikirku, kawan. Bahwa, tujuan sepak bola, atau apapun saja, ialah menyatukan yang kasat mata & tak tampak, menggerakkan hati, dan mengontrol pikiran. Membangun kesadaran anyar jika mencetak gol – kebobolan, menang – kalah, juara – degradasi, ialah prestasi terkecil dari sejatinya sepak bola.”

Kalam Haay sejenak menyepikan Locker-Room Persebaya yang semula riuh. Omelan-omelan dari masing-masing pemain yang merasa dicurangi Wasit Utama makin lenyap seketika menadah kabar dari Steward. Wasit Utama diam-diam telah kabur naik ojol yang nangkring di warung seberang pos masuk stadion.

Wasit 4 yang juga tak menyadari kaburnya Wasit Utama bukan enggan menggantikan kala dipasrahi babak kedua. Namun, peluit, jam pertandingan, kartu kuning & merah katut digondol Wasit Utama.

Sisa turun minum kurang dari 7 menit.

Haay berinisiatif mengumpulkan manajer, pelatih & kapten kedua tim, kedua asisten wasit & wasit 4 dan juga panpel. Haay yang tak jelas jabatannya sebagai apa, memimpin perkumpulan singkat yang dilaksanakan di Ruang Wasit. Haay memulainya. “Karena terlanjur seperti ini, dan demi lanjutnya babak kedua, saya mengusulkan agar semua pihak menjadi wasit bagi dirinya sendiri dan lainnya.”

Usulan Haay direaksi diam. Tak ada yang menyangkal, juga yang tak ada mengiyakan. Dalam lapangan pikiran mereka, rasanya tak akan sanggup bagi diri untuk menjadi wasit bagi dirinya dan juga wasit bagi yang lainnya. Seadil-adilnya, sejujur-jujurnya, setepat-tepatnya. Urusannya soal mental.

Mental pesepak-bola di negara +62 sudah terlanjur meyakini bahwa ukuran kemenangan itu ya ketika unggul secara angka poin dari lainnya, ketika klub yang dibelanya berhasil menyabet tahta juara, mboh piye carane.

“Sudahlah, kita coba semampu-mampunya, 4 menit lagi pertandingan dimulai. Tak ada pilihan lain. Ayo!” ajak Haay.

Babak kedua digulirkan.

Seluruh yang ada di tribun sempat shock berjamaah melihat pertandingan dilanjutkan kendati tak ada wasit yang berada di tengah lapangan. Suara peluit digantikan kode dari kedua belah kapten tim yang menelenjukkan jari ke awan. Haay masih menghangatkan bangku cadangan. Coach Bejo belum jua mengisyaratkan ia bakal dimainkan. Skor tetap kacamata; 0-0.

10 menit pertama pertandingan masih berlangsung dalam tempo yang sedang-sedang saja. Kedua tim masih mencoba beradaptasi dengan “Wasit” yang baru. Pasca, penalti yang diberikan tadi urung dieksekusi oleh David Da Silva yang terlanjur mengambil ancang-ancang.

Pertandingan eksebisi yang menyimpan catatan khusus. Menjadi perhatian serius. Evaluasi yang harus.

Hingga Azrul Ananda, Presiden Persebaya tak mampu menyengapkan noda wajahnya kepada para tamu undangan yang hadir didampinginya di tribun VVIP. Ingin berdalih sabotase, tapi satupun bukti tak punya. Azrul benar-benar tak mampu berbuat apa-apa selain memohon maaf semampu-mampunya atas apapun kejadian tak terduga selama pertandingan.

Memasuki menit 60, Coach Bejo memasukkan beberapa pilar utamanya untuk menambah gaya gedor, diharapkan memecah kebuntuan. Di bench cuma tersisa Koko Ari Arya, Bayu Nugraha, Zulfikar dan Haay yang masih belum mendapatkan kesempatan bermain.

Rupanya usulan Haay yang awalnya diragukan mampu diperankan dengan baik. Ketika Da Silva & Patrich Wanggai berada dalam posisi offside, keduanya bersama sebaris bek lawan dan asisten wasit kompak mengangkat tangan sebagai tanda bahwa memang dalam posisi offside. Begitupun dalam urusan corner-kick, bola deflektif, hands-ball, pelanggaran maupun throw-in.

Seharusnya beginilah sepak bola. Seluruhnya, harus mampu menjadi wasit untuk dirinya sendiri. Saling mengamankan satu sama lain. Meskipun, dalam urusan pertandingan sepak bola menuntut tim manapun untuk menang. Namun, caranya itu yang harus dipikirkan kembali. Asas, nilai, proses, dan goals.

Hingga menit 85, jual beli serangan digencarkan kedua tim. Masih belum pecah telur. Di bench Persbeya hanya tersisa Haay. Ia tak kunjung diberikan kesempatan bermain oleh Coach Bejo. Padahal, menggema suara di tribun meneriakkan nama Haay, agar segera dimainkan. Haay santai-santai saja di bench, memainkan secarik kertas yang sudah kering, namun tetap membasahi jiwanya.

Yang gupuh malah tim pelatih ketika teriakan itu makin detik makin menggema. Haay dimainkan terserah, tidak dimainkan juga gak masalah. Kepentingan Haay adalah memastikan pertandingan persahabatan ini berjalan dengan lancar. Meskipun tidak jelas jabatannya apa di sini selain sebagai penyerang andalan Persebaya yang masih terikat kontrak profesional.

Ia masih teguh dengan secarik kertas dari seorang bertopi pet putih yang “Hatinya tidak mendustai apa yang telah dilihatnya” itu. Letak duduknya yang di ujung paling kanan bench, memudahkannya melirik-lirik seorang pria bertopi pet putih itu yang selalu terpingkal-pingkal ketika kedapatan Haay melihatnya.

“Tambahan waktu 7 menit…,” seru announcer pertandingan.

Skor masih 0-0. Kendati, banyak sekali peluang yang tercipta di babak kedua. Kegigihan kiper lawan dan mistar gawang turut serta menggagalkannya.

Tak ada jalan bagi Coach Bejo selain memasukkan Haay walaupun pertandingan cuma tersisa 4 menit. Ia menggantikan Irfan Jaya yang sudah kepayahan ngosek sepanjang pertandingan. Masuknya Haay mendapatkan standing applause dari seluruh pengisi tribun yang hadir.

Tendangan gawang dilaksanakan Ernando Ari, kiper jebolan internal Persebaya yang juga merupakan pahlawan atas juaranya Timnas U-16. Keberhasilannya menepis tendangan pemain Thailand pada babak adu penalti mengukuhkan Indonesia under 16 menjadi juara di ASEAN.

Bola melambung nan berhasil disundul oleh Hidayat dari tengah lapangan, sedikit mengarah ke barisan pertahanan. Syaifuddin menguasai bola. Ia mencari pemain yang memiliki ruang memungkinkan untuk ia passing. Alwi Slamet membuka ruang, menerima operan. Ia membalikkan badan. Mengocak satu dua pemain lawan yang disiplin memperagakan gegen-pressing.

Kontra strategi. Umpan satu dua juga diperagakan pemain Persebaya di sisa waktu yang ada. Mereka berhasil melewati 2/3 pertahanan lawan yang beralih dari gegen-pressing ke parkir bus. Hampir seluruh pemain Persebaya berada di setengah lapangan pertandingan, merapatkan jarak antar lini.

Kini bola menggelinding di sisi kanan pertahanan lawan. Ada Osvaldo Haay di sana. Ia mengumpan ke dalam kotak penalti. Da Silva menyambut bola di antara dua bek lawan yang kalah loncatan darinya, menanduknya, dan sayang sekali bola mampu diamankan dengan sangat baik oleh kiper lawan.

Last-chance. Rendi Irwan mengotak-atik bola. Marseille-turn ia unjukkan di mata pemain yang baru saja ia lewati. Ia melirik Haay yang berlari di belakang garis terakhir pertahanan lawan. Lebih bebas dar sudut pandangnya jika ia mengoper ke Da Silva yang dikawal ketat dua bek lawan sekaligus.

Cekat Rendi mengirimkan umpan manja membelah lautan. Haay menerimanya, hendak menembak, namun bek lawan terlanjur menutup ruang geraknya. Ia menggocek. Satu, dua, tiga kali gocekannya membuat bek lawan terkecoh.

Haay lolos dari kawalan, hanya tinggal berhadapan dengan kiper. Ia mengayun kaki. Dikit lagi ia menendang, Haay mendengar erangan keras dari telinga kirinya. Bek lawan yang baru saja ia gocek mengerang kesakitan, tersungkur di lapangan.

Di detik-detik terakhir pertandingan, di detik-detik penentuan. Ia mengangkat kaki kanannya kembali, bersiap menendang, Haay menendang. Kiper lawan tercengang, bek-bek lawan tercengang.

Seluruh mata tribun terperangah. “Wasit” dari kapten kedua tim pun demikian. Bola itu menggelinding lirih. Melewati garis putih. Bola out.

Haay membuangnya. Ia kemudian berlari menuju bek lawan yang mengerang kesakitan itu. Berteriak-teriak ke arah tim medis agar segera menghampiri. Bek lawan yang mengerang itu shock. Ia tak kuasa melihat engkel kakinya yang bengkok 90 derajat dari normalnya kaki manusia.

Ini kecelakaan. Ketika berusaha melakukan tackle tadi, kakinya tersangkut di rumput dan tertindih sendiri oleh tubuhnya. Engkel kakinya patah. Pemain-pemain yang melihat kejadian itu bercampur aduk. Di satu sisi menyesalkan mengapa Haay tak menceploskan bola yang 99% bakal gol, di sisi yang lain tidak tega melihat bek lawan yang berjibaku dengan kecelakaan yang dialaminya.

Ambulan yang stand-by di sudut lapangan lekas ke lapangan. Membopong pemain tersebut dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Sekian pemain lawan menepuk pundak dan memeluk Haay simbol terima kasih, salut, bangga dan terenyuh dengan Haay yang memilih membuang bola dibandingkan menceploskan bola yang besar kemungkinannya menjadi gol kemenangan untuk Persebaya.

Goal-kick menandai selesainya pertandingan persahabatan. Wasit 4 mengkode dari pinggir lapangan; pertandingan selesai. Skor 0-0. Seluruh pemain berjabat tangan. Mayoritas yang memenuhi tribun bertepuk tangan. Haay lagi-lagi menjadi centre of interest. Ia dipantaskan menjadi ‘Man of the match’ pada pertandingan kali ini.

Seluruh lensa kamera menyorotnya. Baik ketika berjabat tangan, melingkar di tengah lapangan – menyanyikan Song For Pride, hingga ia berjalan menunduk menuju lorong pemain. Ia sempat dicegat oleh salah satu reporter yang juga menjadi sponsor pertandingan ini.

Haay menjawab, “Keselamatan rekanku ini jauh lebih utama dibandingkan saya mencetak gol kemenangan untuk Persebaya. Kemenangan yang sebenar-benarnya ya itu, yang kita lihat bersama-sama. Tak soal angka, tapi hati yang bersuara.”

Seorang bertopi pet putih bertepuk tangan sambil meloncat-loncat dari pagar tribun VIP laiknya anak kecil yang melihat balon terbang. Sebelum memasuki lorong, Haay sempat mendongakkan kepala. Betapa terkesiapnya Haay. Di celah-celah tepuk tangan kencang seorang bertopi pet putih itu menyiratkan cahaya yang indahnya menaklukkan indahnya cahaya dunia. Cahaya di atas cahaya.

 

Penulis Min Turobil Aqdam, Tadabbur Cinta & Gadis Pattani Dalam Hati, bagian dari Cak & Ning Surabaya 2018, Bondo Nekat. Bisa disapa di @rifihadju