Oleh: Rifi Hadju

 

Eyel-eyelan pun berlangsung. Haay, kapten tim dadakan Persebaya berusaha menawarkan jalan tengah setengah-tengahnya. Ia seolah memosisikan diri Kamituwa dalam persoalan yang ada di sebuah desa. Namun, ego manusia selalu saja mencoba memiring-miringkan perkara ke arah kebenaran diri.

Karena itu, yang sempat duduk manis di tribun Gelora Bung Tomo mulai bangkit gusarnya. Jelas saja, wong mereka tidak kanthi dengan apa keputusan wasit.

“Satus ewu.”

(Seratus ribu.)

“Rong atus ewu.”

(Dua ratus ribu.)

“Jaban-jaban….”

(Pasang-pasang.)

Melalui HT, Azrul Ananda, Presiden Persebaya, menginstruksikan dari tribun VVIP kepada Ketua Panitia Pelaksana pertandingan agar secepatnya dilanjutkan apapun yang menjadi keputusan wasit. Ini kaitannya dengan sponsorship, jatah siar, citra dan pertaruhan Surabaya dalam menggelar pertandingan.

Haay lamat-lamat mendengarnya. Tanpa diduga, Haay merengkuh HT yang digenggam oleh Ketua Pelaksana Pertandingan yang sedang menyelami intruksi.

“Heee, Bapak? Masih pakai sepatu di kanan pakai sandal di kiri?” goda Haay.

“Haay, sudah cepat. Lanjutkan pertandingan. Gak ada waktu buat guyon.”

“Aih, Bapak. Yang guyon ini wasitnya. Bukan saya.”

Ketua Pelaksana Pertandingan merengkuh balik HT dari genggaman Haay. Dengan suara yang melembut rendah dan agak memelas-melas, Ketua Pelaksana Pertandingan berjanji akan menyelesaikan masalah ini. Ia juga berjanji  tidak akan korupsi, jujur, adil, dan pro rakyat cilik.

Wasit Utama pada akhirnya memutuskan, bahwa tetap akan memberikan hanya tendangan sudut untuk Persebaya. Ia juga menyelipkan kata-kata maaf kepada seluruh yang ada di pinggir lapangan. Ia menyadari telah salah memberikan keputusan. Namun, ia terkungkung statuta yang tak memungkinkan adanya space untuk mengubah keputusan dari yang keliru menjadi benar.

“Prit….”

Wasit Utama memberi isyarat agar pemain kembali ke arena. Haay mengembalikan ban kapten ke Kakak Ruben. Irja, sapaan akrab Irfan Jaya, menemui bola yang dari tadi menganggur di bawah bendera corner. Coach Bejo tak berdaya, kecuali berdiri dengan mengganjal hidung dengan tangannya yang tersiku di perut.

Tribun bergemuruh. Hampir seperempat jumlah penonton memenangi tebakan. Tidak penalti. Hanya tendangan sudut. Rata-rata, dapat 150 ribu dari hasil tebakan dadakan yang diinisiasi diantara mereka.

Peluit wasit tampil kedua kalinya. Ketika Irfan Jaya hendak mengeksekusi, Da Silva mengangkat tangannya. Meminta wasit untuk sejenak menunda (lagi). Da Silva menudingkan telunjuknya ke arah gawang sambil membalikkan badan, 180 derajat. Mulut lebarnya menghadap ke tribun penonton. Jala gawangnya membelakangi lapangan.

Gawang yang pernah hilang itu murung. Ia memprotes keputusan tidak adil dari wasit. Haay mengajak Wasit Utama menghampiri gawang itu. Sedangkan yang lain menanti di dalam kotak penalti.

“Kenapa kawan?” tegur Haay.

Gawang yang pernah hilang itu hanya menggeleng-gelengkan mistarnya. Ia masih enggan menjawab. Wasit Utama pun kebingungan. Dalam sejarah karirnya, baru kali ini ia memimpin pertandingan seribet ini. Biasanya, kendati keputusannya berat sebelah sebab manusiawi atau sebab pesanan karena harus memenangkan satu tim, tak ada yang protes sedetail ini.

Wasit Utama tak kalah memohon kepada gawang yang pernah hilang agar membalikkan badannya. Namun gawang yang pernah hilang tetap membatu. Sekian lapis kekuatan yang menjaganya dari Sentel Ban mulai ancang-ancang. Khawatir jika gawang yang pernah hilang itu hilang untuk kedua kalinya.

Haay menggigit bibir bawahnya. Wasit Utama menyimpulkan salah satu sudut bibirnya. Yang ada di tribun benar-benar dibuat naik turun oleh teatrikal konyol di atas lapangan hijau.

“Haay, andai kamu tetap meneruskan ini berlanjut, apakah kamu sudah menyiapkan jawaban untuk yang kau sebut seorang bertopi pet putih itu? Apakah kamu menyia-nyiakan hikmah yang telah kau kandung atas apa yang terjadi? Apakah kamu tak lagi peduli? Haay, melihat ini, aku seperti gak onok ajine. Sebagai gawang, harapanku besar. Bola yang bersarang di tubuhku hanyalah bola yang diproses melalui kejujuran, keadilan dan kesadaran bahwa mencetak gol hanya bagian kecil dari pengembaraan besar. Akankah, Haay?”

Pikiran Haay hening. Ia menundukkan kepala. Masih menggigit bibirnya. Kali ini gigitannya lebih keras. Sampai-sampai darah segar mengucur dari lekuk bibir bawahnya. Terserap di jersey hijaunya, mengalir di logo ‘sakral’ Persebaya.

Wasit Utama juga termenung. Sedangkan pemain yang menanti di dalam kotak penalti cuma bisa mematung. Sama seperti aparat keamanan yang mematung seperti robot di lingkaran Sentel Ban.

“Tambahan waktu … 2 menit,” siar announcer pertandingan.

Atas dasar gawang yang pernah hilang tak akan mau membalikkan badan jika Wasit Utama tak meralat keputusannya, maka Wasit Utama memilih untuk meniupkan peluit dan menunjuk titik putih. Haay kembali ke bench.

Penalti untuk Persebaya.

Para pemain lawan sempat memprotes keputusan wasit yang dianggap tidak konsisten. Namun, kapten tim lawan berusaha menenangkan, menganggap ini semua jalan terbaik. Bek lawan yang tadi melanggar Quick Supriadi pada akhirnya juga mengakui kelakuannya kepada Wasit Utama jika ia telah melanggar, mengenai tumit Quick Supri dan bukan mengenai bola.

Gawang yang pernah hilang perlahan menerbitkan rona sumringah. Ia melirik-lirik belakangnya. Ketika tahu bahwa bola sudah membundar di atas titik putih, ia berkenan membalikkan badan. Sembari melirik malu kepada Haay, ia mengatakan kepada Haay bahwa seperti itulah sikap yang seharusnya. Jangan setengah-setengah terhadap kebenaran. Haay menghampiri dan mengelus manja salah satu tiang dari gawang yang pernah hilang itu.

Haay menyimpul senyum. Darah yang mengucur dari bibirnya perlahan reda. Ia mencuci bibir berdarahnya dengan  air mineral dari botol yang terlentang menikmati mentari sore di sisi tiang gawang yang pernah hilang.

Pemain yang menanti di dalam kotak penalti bergeser di batas luar kotak penalti. Kiper lawan ancang-ancang. Membentuk kuda-kuda. Sorot matanya mulai memperhitungkan kemana arah bola yang ditendang oleh si eksekutor.

Da Silva, sang eksekutor, berjalan mendekati bola.

Memungutnya, menciumnya, melirik kiper beserta gawang yang pernah hilang, meletakkannya kembali. Di atas titik putih. Da Silva mundur 11 langkah ke belakang, agak menyerong ke kanan dari hadapan kiper.

Ia menghela napas. Konsentrasi penuh. Keringat menetes di pelipisnya. Penonton di tribun kembali bersorak, bergelora. Ada yang bersorak karena berharap Da Silva sukses menceploskan bola ke gawang yang pernah hilang. Ada yang bersorak karena yang awalnya tadi menang tebakan, uangnya harus beralih tangan. Sebagian lainnya karena awalnya tadi kalah tebakan, rezeki dilimpahkan kepadanya. Ada juga yang bersorak karena saking tidak kerasannya pertandingan sempat terhenti lama.

Wasit Utama meniup peluit.

David Da Silva hendak melangkahkan kaki penuh keyakinan. Belum genap selangkah, Wasit Utama meniup peluit lagi. Dua kali peluit. Sama panjang. Para pemain, khususnya Persebaya, tercengang.

“Waktu habis, turun minum…,” teriak Wasit Utama menunjuk jam tangannya sambil mengarahkan pemain memasuki Locker-Room. Hal ini memicu amarah pemain Persebaya, juga gawang yang pernah hilang. Mereka merasa dipermainkan oleh Wasit Utama.

Tanpa ada intruksi, pemain mengejar Wasit Utama yang berlari tunggang langgang sambil nyengir; memasuki lorong pemain. Aparat keamanan sigap melindunginya dari amuk pemain dan lemparan dari tribun VIP.

Seorang bertopi pet putih dan si kulit bundar yang nangkring di pundaknya terpingkal-pingkal kegirangan bukan main.

 

Penulis Min Turobil Aqdam, Tadabbur Cinta & Gadis Pattani Dalam Hati, bagian dari Cak & Ning Surabaya 2018, Bondo Nekat. Bisa disapa di @rifihadju