Oleh: Rifi Hadju

 

Locker Room gaduh. Seluruh pemain riwa-riwi bersama fisioterapis; bersiap diri menyambut first friendly match sebelum menghadapi liga yang disponsori aplikasi gratis ongkir. Lima menit menuju kick-off. Lima menit menuju lapangan hijau berseri.

Cuma Kit Man dipusingkan oleh laku Osvaldo Haay yang enggan memakai sepatu yang bukan sepatunya. Ia sama sekali menolak untuk mengenakan sepatu pinjaman yang bukan miliknya.

“Walau sama, warna agak beda, ukuran sama, tetap saja tidak bisa, Bapak. Struktur kaki setiap orang beda. Sepatuku ini hanya cocok saya pakai, tidak cocok orang pakai. Ini tentang kecocokan, ketepatan koordinat.”

“Haay! Sudahlah jangan kamu bikin sulit yang mudah. Sebentar lagi main. Kamu starter, ayo cepat pakai!” sergah Coach Bejo.

“Oh tidak, coach, tidak bisa…,” katanya sambil menggeleng-gelengkan jari telunjuknya. “Ini urusannya lebih dari sekadar sepatu saya ke mana dan juga saya dipaksa pinjam sepatu siapa,” eyelnya.

Salah seorang panitia pelaksana masuk ke Locker Room, memberi pengarahan kepada starting eleven untuk segera berbaris di lorong. Yang mengenakan ban kapten berada di depan, memimpin barisan, di belakang ketiga wasit yang juga berada di belakang bendera fair play. Seluruh pemain Persebaya, termasuk Haay, yang masih nyeker. Haay masih batu enggan mengenakan sepatu. Padahal sama-sama berwarna biru metalik. Tapi bukan sepatu yang ia kenakan sewaktu menginjak si kulit bundar ketika bengong memandang gawang yang hilang.

Terpaksa Coach Bejo mencoret Haay dari sebelas pemain yang bertanding dan menggantikannya dengan Wonderkid Persebaya, Quick Supri. “Merepotkan,” gumam Coach Bejo.

Pemain cadangan mulai duduk di bench. Dari lorong, terdengar sayup-sayup Bonek yang kembali menggeliat, melantang, dan menggetarkan mental lawan. Walau hanya pertandingan ekshibisi, tak ada rumusnya mengendurkan teror. This is Bonek.

Haay masih berkutat di dalam Locker Room. Barangkali, sepatunya terselip di sela-sela box, di atas wuwung, atau mungkin katut di tas salah satu pemain. Nihil. Ia malah ditertawakan oleh Si Kulit Bundar yang menggelinding dengan sendirinya, tanpa sebola mata pun yang tahu.

“Kawan kecil, mana bapak kau itu Si Topi Pet Putih?”

Si Kulit Bundar memutar ke kanan ke kiri, tanda lain menggeleng. “Kakak…. Kenapa memilih urung main di awal hanya soal sepatu. Kan kakak ini primadonanya, kakak yang ditunggu-tunggu…,” lanjut Si Kulit Bundar.

Haay menjawab dengan terus mencari sepasang sepatunya. Membolak balik lini Locker Room. Seingatnya, ia sudah menyerahkan kepada Kit Man sewaktu di mess pemain tiga jam sebelum keberangkatan. Seingat Kit Man, ia sudah memasukkannya ke dalam troli sepatu pemain, di antara sepatu milik Miswar dan Ovan – sapaan akrab Oktavianus Fernando. Tapi, manusia, seingat-ingatnya, tetap saja kalah dengan salah satu sifat manusiawinya – teledor.

Dari corong suara terdengar seruan “Salam Satu Nyali!” yang disauti gemuruh “Wani!” dari seisi stadion yang tak ada sisa satupun tempat duduk. Sold out. Seruan dari corong suara itu menandakan pertandingan babak pertama baru saja dimulai. Persetan dengan itu, Haay masih mencari-cari dan sekali lagi tetap mencari, mencari, dan mencari.

Seketika Haay ingat. Pada suatu waktu di mimpinya, seorang pria bertopi pet putih itu pernah melemparkan celananya hingga tak sejangkauan mata ketika ia sedang “khusyuk beribadah” buang air besar di jublang yang menghadap pemandangan pegunungan. Entah apa yang jadi landasan di pikiran Haay, ia membanting telapak tangannya di lantai sebanyak tiga kali. Mirip seperti yang ia lakukan dalam mimpi yang membuat celananya kembali.

Haay mengulanginya sebanyak tiga kali tiga ditambah sekali lagi; gagal. Ia mencoba lagi dua kali terakhir; tetap gagal. Si Kulit Bundar sampai putus asa melihat kakaknya itu yang sedang mempertunjukkan kekonyolan di hadapannya. Saking dongkolnya, Haay menginjakkan kakinya ke ubin Locker Room sebanyak tujuh kali dengan penuh kegegeretan. Tiba-tiba kepalanya tertimpa sepatu. “Bergh!” begitulah kira-kira bunyi sepatu yang jatuh entah dari mana itu.

Si Kulit Bundar memantul-mantul – kegirangan. Haay – entah apa yang ia rasakan. Pastinya ia lebih memilih lekas mengenakan sepatu dan bergabung bersama rekan setimnya yang sudah lebih dari seperempat jam lalu bertarung di lapangan hijau. Haay diburu waktu. Dimainkan atau tidak itu urusan lain. Yang pasti, sesuai regulasi, ia harus stay di bench pemain, seperti lainnya.

Ia bergesa-gesa menemui hilir lorong pemain yang menyambung pada lautan hijau. Tampak di mulut lorong, Alwi Slamet, berebut bola dengan pemain lawan. Bola out. Lemparan ke dalam untuk Persebaya. Bola yang out itu menggelinding menyamperi Haay yang mengarah keluar dari mulut lorong.

Seketika seluruh stadion bertepuk tangan. Ditujukan kepada Haay. Ia menjawabnya dengan lingung. Tepuk tangan dan kelinglungan itu bertahan hingga semenit. Pertandingan berhenti sementara sebab kemunculan Haay yang dinanti sedari tadi. Sambutan itu setara seakan Haay baru saja memenangi Ballon D’Or. Kelinglungan Haay buyar ketika ada seorang penonton dari tribun VIP yang berdiri di pagar hitam dan mencemoohnya.

“Ha-ha, Haay goblok. Haay goblok!!!” serunya menudingkan tangan ke Haay.

Tak lain dan tak bukan, pencemooh satu-satunya adalah seorang bertopi pet putih. Ia berdiri di pagar tribun itu bersama Si Kulit Bundar yang sudah nangkring di pundaknya, Si Buta dari Goa Hantu 2.0.

Haay menuding-nuding seorang bertopi pet itu. Anehnya, tudingan Haay membuat orang-orang yang turut menyambutnya dengan tepuk tangan menjadi gantian linglung. Mereka linglung, saling menoleh, mencari siapa yang dituding Haay. Haay terlambat sadar, ternyata pria bertopi pet putih yang sedang ngakak itu tak bisa dilihat orang lain kecuali dirinya, Si Kulit Bundar, dan kawanan gawang.

Haay berusaha tak mengacuhkan kekeh bernada perbuatan tidak menyenangkan itu. Ia membalikkan badan Belum utuh selangkah, ia tertelungkup. Ada dorongan hebat dari belakang. Rupanya, baru saja seorang bertopi pet putih itu melemparkan Si Kulit Bundar kepadanya yang jika ditempeli speedometer, kecepatannya setara dengan tendangan gledek Cristiano Ronaldo. Si Kulit Bundar itu juga lekas kembali ke pundak seorang bertopi pet putih, seperti bumerang.

Umpatan keluar dari dirinya kepada dirinya. Seluruh stadion bergemuruh. Baru saja mendapatkan tepuk tangan, secepatbalikan tangan ia mendapat tawa. Haay berusaha bangkit nan merapikan jersey-nya. Segumpal kertas yang bercampur air liur jatuh ketika ia merapikan jersey. Ia mengambil gumpalan kertas yang kuyup bercampur air liur itu.

Ia yakin air liur itu berasal dari mulut Si Kulit Bundar yang ia memuntahkan tik-tak ketika menabrakkan diri ke punggung Haay. Haay membukanya perlahan, setengah jijik, setengah menahan napas. Hanya tertulis sebuah kalimat, tepatnya pesan, yang diberikan seorang bertopi pet putih kepadanya. “Hatinya tidak mendustai apa yang telah dilihatnya,” isi pesan itu.

 

Penulis Min Turobil Aqdam, Tadabbur Cinta & Gadis Pattani Dalam Hati, bagian dari Cak & Ning Surabaya 2018, Bondo Nekat. Bisa disapa di @rifihadju