Tetangga Kumendan

WELASAN. Sebelas tahun sudah forum yang tak terdefinisikan ini berproses. Sebelas tahun pula dinamika internal maupun eksternal menyerta sebagai bumbu kenikmatan di dalamnya. Shalawat dan salam kepada junjungan kita, Kanjeng Nabi Muhammad saw. Serta Al-Fatihah dan salam penuh ketakdziman bagi beliau-beliau yang telah berperan bagi forum ini sejak September 2006 lalu –atau bahkan momen pra sebelum BbW ada.

Saya yang bukan siapa-siapa hanyalah anak kemarin sore dalam luasan forum ini. Bagai satu asteroid kecil dalam sebuah galaksi yang sebisa mungkin ikut berputar mengitari pusat tata surya agar tak terlempar ke ruang hampa. Karena itulah, bisa menjadi satu bagian kecil dan pelan-pelan ikut berproses dalam kompleksitas BbW sudah menjadi anugerah tersendiri bagi saya.

Tak usah saya ceritakan sejak kapan dan bagaimana saya mulai mengenal BbW. Namun, jalan nasib yang membuat saya mececap ilmu di Unesa (Kampus Lidah Wetan) menghantarkanku indekost di dekat sebuah rumah yang kemudian saya sadari bahwa itu merupakan rumah Kumendan Dudung –begitulah panggilan mesra saya pada Pak Dudung.

Ingin menjadi lebih intens dalam forum mulai dirasa, ketika sekadar datang, duduk, dan mendengarkan saat forum berlangsung telah bersua titik jemu. Berusaha keluar dari zona nyaman dan syukur-syukur kalau bisa lebih berperan bagi BbW walau hanya bermodal tenaga seadanya. Namun bagaimana caranya? Mana pintu masuknya?

Beruntunglah saya yang menjadi tonggone Kumendan. Pintu masuk itu mulai terbuka ketika tahun 2010 Gunung Merapi nduwe gawe. Saat itu kediaman Kumendan Dudung menjadi posko pengumpulan bantuan –yang selanjutnya akan dikirim kepada pengungsi Merapi di Yogyakarta– untuk wilayah Surabaya Timur dan Gresik bagian Selatan.

Seseorang –yang kemudian saya mengenalnya sebagai Mas Atril– berkata kepada sekelompok pemuda yang Beliau terka sebagai mahasiswa. “Nang kene ora ono sing kuliah Unesa Lidah ta?“, tanya Mas Agung. “Aku, Mas. Enten nopo?“, sahut sahabat saya. “Nek nganggur tulungono Pak Dudung po’o“, jawab Mas Agung lagi.

Berawal dari dialog singkat sahabat saya itu pintu masuk terbuka. Sejak itulah saya banyak sekali menemukan sesuatu yang lain dari forum ini. Sesuatu yang tidak saya temukan ketika masih duduk manis sembari ketawa-ketiwi di tengah terop depan panggung BbW.

Saya tetaplah bukan siapa-siapa, namun saya beruntung pernah menjadi tonggone Kumendan Dudung. Selamat ulang tahun yang pertama dalam hitungan dasawarsa kedua bagi BangbangWetan. Tetaplah menjadi sesuatu yang tak terdefinisikan.

Salim….

 

*) Bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Bisa disapa melalui akun twitter @wahyokofajar