Oleh : Muhammad Ali Yasin,

Ada persamaan teknik dalam pembangunan antara era saat ini dan masa lalu, teknik kontruksi bangunan dan sistem penataan ruang terlihat dari susunan dan tekstur fragmen yang saya temukan di area tersebut.

Dusun Sawangan, Desa Tumenggungan, Kab. Wonosobo menjadi kawah candradimuka bagi implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, tiga pilar utama yang biasa menjadi satu dasar berpikir insan akademis dengan berpijak kepada pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Ketiga komponen itu menjadi satu kegiatan dalam mengekskavasi dan meneliti situs Watu Gong di Dusun Sawangan. Sebutan ‘tim independen’ yang disematkan oleh media dan beberapa institusi membuat apa yang kami lakukan menjadi sebuah “kegiatan formal”, sehingga membuat kami harus bertanggung jawab penuh untuk menterjemahkan proses penelitian itu. Tapi ada satu hal yang sangat berharga dari penelitian tersebut, kami bisa saling berbagi pengetahuan tentang kajian situs sesuai bidang ilmu masing-masing; karena selain berbeda kampus, konsentrasi bidang keilmuan pun berbeda, mulai dari Geofisika ITS, Industri ITS, Despro ITS, Hukum Unitomo, dan saya sendiri dari Arsitektur ITATS.

Penelitian secara spesifik juga melibatkan masyarakat dan komunitas di daerah tersebut. Antusiasme dan dukungan materiel maupun morel dari masyarakat membuat kami lebih fokus dan mampu menciptakan ikatan emosional yang sangat dekat. Bagi saya, proses penelitian itu membuat beberapa pola pikir yang awalnya hanya sebatas garis literasi dan intervensi media, kini terbalik dan terbantahkan. Tetapi kadang saya harus sedikit berkompromi dengan beberapa teori kampus untuk dibenturkan dengan kenyataan yang  terjadi di lapangan.

Di pertengahan semester yang lalu, saat saya masih duduk di bangku kuliah,  sebuah goresan teori barat masih jelas warnanya di buku catatan kecil saya. Teori tersebut menyiratakan bahwa literasi perkembangan arsitektur lebih menjunjung tinggi suatu peradaban Romawi dan Yunani kuno, berdasar pada satu karya arsitek yang megah dan heroik. Yunani dengan nilai estetika pada Kuil Parthenon sebagai langgam klasiknya, pun Romawi dengan sistem kontruksi bangunan busurnya, sehingga Filippo Brunelleschi berhasil merekayasa kubah Gereja Santa Maria del Fiore di Firenze, Italia. Hal ini sedikit membuat dasar desain suatu tempat hunian dan gedung lebih berkiblat ke arah literasi tersebut. Bahkan sampai saat ini kurikulum masih belum bisa menjawab dasar filosofi dan beberapa kearifan lokal pada keberadaan gedung-gedung megah Eropa yang dianggap sebagai acuan pengetahuan utama.

Ketika melakukan sedikit kajian arsitektur Nusantara mulai rumah adat sampai candi saat saya masih duduk di semester tiga, bagi sebagian mahasiswa hal itu merupakan suatu kajian yang tidak menarik, karena mungkin secara visual desain sudah tidak mengikuti perkembangan serta teknologi bahan yang dianggap sudah stagnan. Hal itu yang membuat saya mengalami kemunduran pengetahuan  tentang arsitektur Nusantara.

Tertanggal 13 Oktober 2016, tepatnya di Dusun Sawangan, saya memulai penelitian dari membaca satu persatu fragmen batu candi yang tertata rapi di basecamp Watu Gong, yang jaraknya ± 200 m dari area ekskavasi. Beberapa memori muncul kembali tentang pengetahuan fragmen tersebut, saya mulai tertarik mencari satu persambungan (lock and key) pada bagian fragmen batu candi, karena ini cara agar bisa berimajinasi tentang bentuk dan ruang. Dari keingintahuan ini munculah satu pertanyaan, “Untuk apa semua ini dibuat?”

Pertanyaan mulai terjawab dengan jelas ketika saya terjun langsung esoknya di area ekskavasi situs Watu Gong. Beberapa temuan membuat saya berpikir ulang dan menarik mundur suatu keilmuan dari garis waktu. Imajinasi yang muncul adalah perbandingan teknologi dan tolok ukur peradaban yang berkembang di masa itu. Ada persamaan teknik dalam pembangunan antara era saat ini dan masa lalu, teknik kontruksi bangunan dan sistem penataan ruang terlihat dari susunan dan tekstur fragmen yang saya temukan di area tersebut. Teknologi bahan ditunjukan dari berbagai perbedaan jenis olahan bahan mulai fragmen batu candi yang dicetak dengan sistem pemadatan tanpa pembakaran. Susunan batuan yang memiliki fungsi ruang berbeda menandakan suatu pengetahuan tentang kelimuan perencanaan yang semakin jelas arah bidang ilmunya.

Pembuktian secara sistematis tersebut setidaknya cukup membuka ruang berpikir saya untuk jauh lebih kompleks dalam memandang satu fenomenologi sejarah. Kaitannya dengan sebuah situs adalah cara menggabungkan antara teori dan kenyataan, agar kajian ilmu tidak berhenti pada satu hipotesa yang masih diragukan sebagai kebenaran ilmiah. Salah satu contoh adalah Candi Borobudur yang sekarang menjadi salah satu cagar budaya yang di akui oleh UNESCO, tapi di sisi lain Candi Borobudur berhenti pada kata wisata. Padahal kajian ilmu pengetahuan masih punya kewajiban untuk membuka tabir misteri dibalik matematika fratal stupa, jajaran genjang yang menjadi bentuk bulatan, relief, struktur bawah, dan teknologi pembangunannya. Yang menjadi pertanyaan, sampai kapan situs-situs di Nusantara berhenti pada kata wisata dan bernasib seperti Candi Borobudur?

 

Sekilas tentang Penulis : Manusia yang masih resah atas pendidikan dan status hubungan. Bisa ditemui di akun instagram : @yasinainawa