THE TRUE AUDIENCE – Prolog Tema BangbangWetan April 2017

Mungkin, ketika Abraham Maslow merumuskan piramida kebutuhan manusia, dia tidak pernah membayangkan betapa logika kehidupan modern menuntut kita untuk menjadikan eksistensi sebagai kebutuhan utama. Maslow tidak berada pada era di mana kewajiban sebelum makan bukanlah berdoa melainkan mengambil gambar dan mengunggahnya di media sosial. Atau bahwa manusia jaman sekarang memberitakan ke dunia tentang penambahan hartanya, kendaraan, renovasi rumah dan bahkan prosesi gantung dirinya!

Kebutuhan fisiologis, dalam piramida Maslow berada paling bawah, paling utama dan pertama untuk segera dipenuhi. Pada saat yang sama, kebutuhan aktualisasi diri menempati langkah teratas. Dengan kata lain, tak usah kita bersusah payah memenuhinya. Namun hal ini terasa usang kini. Semua orang berlomba untuk bisa aktual. Karena bukankah indikator sukses mutakhir adalah kepemilikan aset ekonomi, posisi tertentu dalam konstelasi sosial dan daya tarik secara seksual.

Urutan logis berikutnya adalah bahwa orang menempatkan orang lain, tunggal dan majemuk sebagai audiensnya. Mereka mengusahakan apapun cara agar audiens itu terpikat dan dalam banyak keadaan memberikan timbal balik yang diharapkan. Pola pikir ini bisa kiranya bila kita percaya bila tidak ada hari setelah hari ini. Bila hidup hanya di sini dan saat ini. Dan yang lebih penting adalah bila kita percaya bahwa mereka, audiens kasat mata kita punya kuasa untuk menanggung segala hajat hidup dan kelengkapan kita.

Di kesempatan BangbangWetan satu bulan menjelang Ramadhan ini, mari kita cari dan temukan siapa sesungguhmya sosok yang paling pantas menjadi audiens dalam jalan panjang usia kita. Diakah yang bernama guru atau dosen penentu kelulusan atau calon mertua yang memastikan berlangsungnya pernikahan? Ataukah mereka yang punya otoritas akan mulusnya jalan karir dan pekerjaan? Seseorang atau sekelompok orang yang menentukan apa yang bisa kita makan?

Potongan lagu dari KiaiKanjeng berikut ini layaknya dapat dijadikan pemandu arah perbincangan:

“Bukanlah apa kata manusia yang kuikuti
Tetapi pandangan Allah Tuhanku yang kutakuti”
[KiaiKanjeng – Sayang Padaku]

Pelataran Taman Budaya Cak Durasim akan menyerap segenap pendapat, dalil, kemauan dan harapan diam-diam diskusi kita bersama.

Sampai Bertemu di Pendopo Cak Durasim , Surabaya .