Prolog

The Sense of Obedience – Prolog BangbangWetan Desember 2021

The Sense of Obedience
Oleh: Tim Tema BangbangWetan

“Anak itu menjawab, selancar teman-temannya sebelumnya: “Saya dan kami semua berlindung kepada Allah atas kemungkinan itu. Tetapi kalau menurut Allah yang terbaik bagi kami adalah dihinggapi penyakit itu, kami meyakini bahwa Allah mengetahui persis apa yang baik bagi kami. Sami’na wa atha’na. Mungkin kami harus membayar kepada Allah dosa-dosa kami. Kami akan tanamkan benih keimanan kepada pernyataan Allah lau anzalna hadzal Qur`ana ‘ala jabalin laroaitahu khosyi’an mutashoddi’an min khosyyatillah…” [Emha Ainun Nadjib, Corona 9, “Corona Vs Qur’ana”]

Pada salah satu momen Padhangmbulan, Mbah Nun pernah menyampaikan peristiwa saat Bu Chalimah banyak diminta untuk menyembuhkan berbagai mcam penyakit. Melalui kesaksian Mbah Nun, Ibu Chalimah menjadi perantara kesembuhan dari Allah dengan mengusap anggota badan yang sakit dibarengi membaca lau anzalna hadzal Qur`ana ‘ala jabalin laroaitahu khosyi’an mutashoddi’an min khosyyatillah; Wa tilkal amsaalu nadribuhaa linnaasi la’allahum yatafakkaruun (Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir).

Ayat Lau Anzalna itulah yang selalu Bu Chalimah pakai untuk menjadi perantara kesembuhan berbagai penyakit masyarakat yang minta tolong kepada beliau. Berdasar tadabbur Mbah Nun, Bu Chalimah memilih ayat itu sebagai media permohonan atau doa Bu Chalimah untuk memohon kesembuhan dari Allah, karena jika kita terapkan filosofi innalillahi wa innailaihi roji’un maka terang benderang sudah bahwa dari Allah segala situasi kondisi berasal dan kepada-Nya pula akan kembali.

Di dalam ayat 21–24 surah Al Hasyr itu, Allah mengamsalkan bagaimana Maha Besar kekuasaan-Nya sehingga bahkan gunung pun akan terpecah belah karena takut kepada Allah. Ketidakberdayaan gunung yang dianalogikan dalam ayat itu seyogyanya menjadi materi pembelajaran dan perenungan bagi kita semua untuk kian meneguhkan bangunan keimanan. Pengakuan yang terucap, diyakini, dan jalani dari syahadat menjadi keniscayaan kepada kita untuk tunduk dan pasrah atas segala ketentuan Allah. Salah satu manifestasi yang bisa kita lakukan adalah mewujudkan pola hidup syukur dan sabar atas segala hal yang kita alami.

Kesadaran untuk selalu tunduk, patuh, dan menaati Allah akan lahir jika kita mau berpikir dengan merenungi fenomena yang kasat mata di alam sekitar. Bahkan Allah sendiri berbaik hati dengan memberi alat bantu berupa ayat-ayat Al-Qur’an sehingga kita bisa mengamati, mempelajari, dan merenungkannya.

Istilah peneguhan keimanan itu diibaratkan sebagai tongkat yang menegakkan dan menunjukkan jalan keimanan kita kepada Allah. Melalui ayat Lau Anzalna, Marja’ Maiyah terutama oleh Mbah Fuad dan Mbah Nun mengajak kita untuk senantiasa hidup dalam “cuaca” Maiyah seperti yang digambarkan pada ayat di atas.

Muhasabah diri yang kita peroleh dari pengalaman hidup bersama Corona yang kita jalani hampir dua tahun akan memudahkan upaya dalam memandang dan memaknai peristiwa erupsi Semeru sebagai bentuk peneguhan keimanan. Artinya bagi yang terkena dampak erupsi untuk semakin meneguhkan keimanannya dengan bersabar, bersyukur, dan meyakini akan mampu menjalani masa-masa sulit. Adapun bagi kita yang tidak terdampak secara langsung juga diuji dalam bentuk sejauh mana kepedulian kita kepada penduduk di lereng Semeru.

Kiranya penghujung bulan di akhir tahun 2021 ini bisa mewadahi niat kita untuk belajar dan terus mengupayakan tetap teguhnya keimanan dalam menjalani kehidupan. Dengan membaca fenomena alam dan peristiwa-peristiwa di keseharian, kita terus mencoba menangkap maksud Allah atas segala yang kita alami. Produk dari perenungan kita itu adalah agar kita menemukan kadar akurasi yang semakin tinggi dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku; sebuah bekal penting dalam proses pengambilan keputusan-keputusan yang akan menjadi penentu bagi nasib kita di akhirat dan di hadapan Allah. Mari melingkar dan hangatkan forum rutinan Majelis BangbangWetan edisi Desember ini dengan semangat

Leave a Reply

Your email address will not be published.