Titipan yang Mendekatkan

Oleh : Mashita Charisma Dewi Eliyas

Satu kata bisa memiliki ribuan makna tergantung dalam konteks apa, kapan, dan di mana kata tersebut digunakan. Makna denotatif dan konotatif kadang memiliki muatan positif ataupun negatif. Istilah “titip” misalnya. Kata itu baik jika diiringi dengan niat kebaikan, namun bisa bermakna negatif jika konteksnya berbeda.

“Titip” kerap terdengar di telinga masyarakat. Dalam konteks berbeda,  “titip” bisa memululuskan jalan tanpa hambatan. Kata ini tidak asing digunakan dalam perpolitikan terlebih dalam pemilu. Mulai dari pemilihan perangkat desa, gubernur, hingga presiden sekalipun.

Demokrasi yang seharusnya bersih tidak menutup kemungkinan dikotori oleh kalangan masyarakat atau kelompok tertentu. Tidak peduli apapun imbasnya di kemudian hari. Istilah “titip” disampaikan Mbah Nun pada majelis ilmu Bangbang Wetan bulan lalu dengan istilah makelar.

Dalam seleksi penerimaan perangkat desa misalnya. Meskipun pembuat soal bukan dari kalangan desa namun “titipan” tetap melaju kencang. Entah bagaimana caranya, merekalah yang tahu. Manipulasi sedemikian rupa dilakukan, salah satunya adalah pelantikan dalam jangka waktu yang pendek agar keputusan yang tak dapat diganggu gugat ini berjalan lancar.

Siapa yang dekat dia yang dapat, itulah pegangannya. Kedekatan ini bisa semakin dilekatkan dengan cara “titip” entah kepada panitia seleksi atau kepala desa. Akhirnya para perangkat desa baru ini akan mencari jalan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya agar “titipannya” kembali. Alhasil, bukan pelayanan sepenuh hati yang menjadi pedoman  mereka, namun bagaimana mencari keuntungan sebanyak-banyaknya untuk memperkaya dirinya. Dari peristiwa ini dapat kita simpulkan  bahwa politik menghalalkan segala cara tanpa mempedulikan keadilan.

Itu adalah contoh kecil ketidakjujuran di negeri yang katanya Gemah Ripah Loh Jinawi ini . Berkaca dari lingkup kecil tersebut,  bukan tidak mungkin lingkup yang lebih besar akan menerapkan hal yang demikian. Semakin  banyak biaya atau “titipan” yang digelontorkan, semakin besar pula keuntungan yang akan dikeruk dari masyarakat kecil nantinya.

Bukan hanya dalam ranah politik, makelar “titipan” sudah merambah dunia pendidikan. Miris, bukan? Menjelang penerimaan tahun ajaran baru, tak jarang wali murid yang mengenal guru atau kepala sekolah tidak segan “menitipkan” nama anaknya untuk diterima di sekolah yang diinginkan. Lingkungan adi wiyata mulai dari SD hingga universitas sudah terkontaminasi akan hal ini meskipun seleksi secara ketat sudah dilakukan.

Contoh di atas adalah titik awal sebuah korupsi kecil yang mengajarkan manusia untuk berbuat ketidakjujuran dalam skala besar di masa datang. Jujurlah meskipun kejujuranmu tidak mendapat tempat di masyarakat sekalipun! Tempat orang jujur adalah di surga. Mari menjadi satu dari banyak orang jujur di muka bumi ini!

 

Penulis adalah Jamaah Maiyah asal Sidoarjo yang berkecimpung dalam bidang pendidikan anak usia dini serta aktif menulis .Bisa disapa di akun instagram @sitaeliyas