Too-Soon-isasi Kehidupan

 

Setiap pemain game PUBG pasti paham maksud dari kata “Too Soon” yang berarti “Terlalu Cepat”. Terlepas dari halal-haramnya game ini, saya hanya meminjam istilah “Too Soon” untuk menggambarkan kehidupan yang memang sedang bergerak dengan luar biasa cepat saat ini. Berawal dari rumah yang mulai membuka jendela, tiap-tiap bangsa tidak lagi menutup diri dalam rumah dan mulai membuka mata terhadap bangsa lainnya. Kemudian berkembang menjadi sebuah pintu yang terbuka, tidak hanya saling pandang lewat jendela tapi antar bangsa saling memberi akses yang lebih luas dengan sesamanya. Hingga tiba-tiba saat ini tembok dan tiang rumah ini sudah tidak terlihat lagi. Batas-batas yang memisahkan bangsa sudah mulai hilang seolah ditelan Bumi.

 

Dari hancurnya sekat-sekat antara bangsa ini menghasilkan arus yang sangat cepat sehingga membentuk manusia menjadi setidaknya menjadi tiga golongan dalam menghadapi kehidupan yang begitu “Too Soon” ini.

 

Orang Pertama

 

Tipe pertama menganggap kehidupan yang terbuka ini sebagai sesuatu yang mempesona, karena membuka peluang penjelajahan baru terhadap bangsa lain. Dengan kebebasan menjelajah setiap orang bisa belajar apa saja dari kultur di luar untuk kemudian dinikmati. Tidak hanya itu, kebebasan juga menyediakan banyak hal untuk dibawa pulang sebagai buah tangan bagi bangsanya, sehingga kebebasan ini justru memperkaya bagi tipe orang pertama ini. Bahkan bagi tipe orang pertama kebebasan ini bukanlah ancaman karena dengan kebebasan berpergian tak lantas membuat orang tipe pertama ini kehilangan identitas. “Jika Orang Jawa pergi ke Arab, tak lantas membuat orang ini kehilangan Jawanya”, kurang lebih seperti itu.

 

Orang Kedua

 

Berbeda dengan tipe orang pertama yang menganggap kehidupan yang terbuka sebagai penemuan hal baru, tipe orang kedua menganggap keterbukaan yang ada sebagai sesuatu hal yang tidak sepenuhnya baru tetapi mampu menawarkan pandangan baru untuk lebih jauh mengenali dirinya sendiri dan semakin menguatkan keyakinan yang sudah ada. Seperti contoh ketika melakukan ibadah haji, kita pergi ke rumah Allah bukan untuk menemukan hal baru tapi untuk lebih mengenal diri melalui proses penyerahan bahkan peniadaan diri, melalui pelepasan pangkat, jabatan, juga status sosial.

 

Sama seperti ibadah haji yang sebenarnya sebagai upaya penghambaan diri, tetapi ada juga penyalahan arti menjadi sebuah upaya mencari gelar “haji” bisa juga sebagai upaya cuci tangan dihadapan Tuhan setelah melakukan korupsi atau mungkin sebagai wisata untuk pulang membawa air zam-zam, sajadah, dan peci putih. Begitupun kehidupan yang terbuka ini tidak hanya bisa menjadi peluang tetapi juga menjadi sebuah ancaman. Karena dengan keterbukaan kita tidak hanya dapat mengenal tapi juga kehilangan pengetahuan tentang rumah kita sendiri.

 

Orang Ketiga

 

Bagi tipe orang ketiga kehidupan yang terbuka tidak menawarkan hal baru tetapi juga bukan sesuatu yang lama, tapi ini adalah sesuatu yang tiba-tiba terjadi sehingga kita terjebak dalam era ini. Kehidupan yang berlangsung terbuka menjadi sebuah ancaman terhadap identitas diri karena ketidakmampuan untuk menghadapi persaingan secara global. Seperti halnya ketika orang desa yang kemudian tiba-tiba diajak ke kota. Kita dikagetkan dengan modernitas, dan menganggap ini sebagai sebuah ancaman. Bahkan seperti sarung yang menjadi kebanggaan orang madura, saat ini mereka harus berpikir ulang untuk menggunakannya ke mall.

 

“Too Soon” dalam PUBG adalah sebuah gelar yang diberikan bagi mereka yang mati “terlalu cepat”. Dan sama seperti tipe orang ketiga ini, mereka seolah sudah tidak memiliki tempat dalam kehidupan yang mulai terbuka ini. Sehingga tipe orang ketiga ini adalah mereka yang mati sebelum ajal, mereka yang bergentayangan terbawa arus zaman. Nasib mereka tergantung pada siapa yang datang jika yang datang adalah mereka yang memiliki cinta dan kasih sayang kemanusiaan maka mereka akan beruntung. Jiika yang datang adalah mereka dari kelompok garis keras yang siap memasangkan ransel bom untuk diledakkan,  maka tipe orang ketiga ini yang siap untuk dididik dengan cara ini karena meraka sudah tidak memiliki tempat lagi di kehidupan ini.

 

Tipe orang ketiga tidak dapat menjadi seperti tipe orang pertama karena mereka tidak cukup kemampuan untuk bersaing secara global, tetapi tidak juga untuk menjadi orang kedua karena sebenarnya mereka adalah orang-orang yang sudah tidak memiliki tempat tinggal, maka mau kemana lagi mereka akan pulang. Maka kehidupan seperti ini berakhir hanya sekedar menjadi seorang fans, membanggakan pihak lain. Tanpa pernah mengenal siapa dirinya sendiri.

 

Di sinilah kita hidup. Kita terkadang terpaksa mengikuti arus karena jika tidak maka kita akan tertinggal lebih jauh lagi. Cobalah menjadi seseorang yang hidup tanpa sosial media, pasti kita akan kehilangan tempat dalam kehidupan ini. Di sisi lain, perkembangan yang ada juga menjadi sebuah ancaman kultural. Jika dulu untuk mengirim pesan kita harus menggunakan tata bahasa dan etika dalam mengirimkan surat, kemudian berkembang menjadi lebih singkat dengan email sehingga tak perlu kita memikirkan bahasa yang baku atau mungkin puitis, berkembang lagi melalui SMS sehingga lebih singkat lagi, hingga menjadi media sosial gratisan seperti Line dan Whatsapp yang mungkin untuk sekedar mengucap salam kadang terlupakan.

 

Revitalisasi

 

“Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) mengajak kita membuka yang sebelumnya belum pernah dibuka. Memandang, merumuskan dan mengelola dengan prinsip dan formula yang sebelumnya belum pernah ditemukan dan dipergunakan.”-Caknun.com-

 

Jika ada yang merasa sudah mati sebelum datangnya ajal mungkin sudah saatnya untuk revive (menghidupkan kembali) diri sendiri. Karena sebenarnya kehidupan ini adalah suatu upaya pencarian terus menerus. Sebagaimana diajarkan melalui kisah perwayangan Dewa Ruci yang dijumpai oleh Bima saat melakukan pencarian air kehidupan (jati diri). Inilah upaya pencarian yang berujung pada usaha untuk kembali pulang tanpa membebek pada sesuatu yang pernah ada. Sehingga pencarian yang dimaksud bukanlah sekedar ikut pihak A maupun pihak B, tidak juga memilih jalan tengah antara A dan B tapi kita harus berani mengambil jalan kita sendiri.

 

Dalam sejarah Yunani juga disebutkan bahwa tujuan kita hidup adalah untuk mendapatkan apa yang namanya “kleos” (dikenal secara abadi). Sehingga kisah hidup kita akan terus diulang-ulang seperti siapa yang kita sebut dengan pahlawan. Tapi bukan berarti kita harus menjadi sok pahlawan. Karena pahlawan itu bentuk glorifikasi terhadap darma seseorang. Sehingga kita cukup memahami diri lalu mengembangkan apa yang sudah menjadi potensi diri. Semoga “Cooming Soon” kehidupan ini tidak terasa “Too Soon”.

 

JUNIOR DANY WIBISONO

Pernah dilantik sebagai manusia. Bisa disapa melalui instagram @Prof.Yordan