14th BangBang Wetan

Transformasi Hutan ke Kebun Persemaian*

 

Kita memulainya dari sini: satu adegan dimana sekelompok manusia sedang melakukan kegiatan yang dengan bahasa stylist disebut sebagai bercocok tanam. Dari urutan historis pencapaian budaya,, bercocok tanam jauh lebih rumit dari sekedar “kalau cocok ya ditanam” atau “tanamlah hanya yang cocok saja”. Ada rangkaian panjang daya upaya, kreativitas, rekayasa berdasar teori dan daya cipta, sejumlah tertentu energi serta–bagian terpentingnya–do the best and God take the rest; kepasrahan kepada Dia, Sang Maha Kuasa yang otoritasNya sampai kepada seberapa padat volume setiap bulir padi, sejumlah apa perolehan palawija.

 

Mari lanjutkan adegan di atas dengan menarik garis imajiner jauh ke belakang. Satu masa dimana, sebut saja leluhur dari kelompok manusia itu mengandalkan pemenuhan hajat hidupnya dengan hanya memetik buah-buahan, kuncup daun atau reranting muda serta berburu dengan beragam variannya (memanah, menjerat, memancing, menyebar tuba). Kegiatan yang terkesan “tribal” ini pun tak terjadi begitu saja. Terdapat proses pengenalan nama-nama, langkah identifikasi, memilih dan memilah, kepiawaian yang tidak tercipta begitu saja dan kesadaran betapa terdapat invisible hand maha perkasa yang memungkinkan ini semua tersedia.

 

Yups, dimulainya era bertani adalah satu tonggak penting dalam sejarah peradaban manusia. Setelah sebelumnya hidup dengan mengandalkan apa yang ada, maka bertani mengajarkan manusia akan jerih payah pengolahan. Lebih dari itu budaya ini mengharuskan mereka yang berkhidmat di dalamnya untuk bersetia kepada apa yang menjadi porsi. Dalam hal kepemilikan maupun hasil akhir. Adagium sapa nandur bakal ngunduh memang masih bisa diharapkan namun siapa berani bertaruh akan absurditas Tuhan sehingga nerima ing pandum menjadi lebih utama.

 

Demikianlah kiranya perjalanan 14 tahun BangBang Wetan. Sekian waktu berasyik masyuk di belantara kronika dan persoalan masyarakat mengandalkan kapabilitas lebih sebagai kemampuan survival, saatnya kini kompetensi dan keahlian yang teruji menjadi  punch line berkesan tak terkalahkan. Kebisaan dan kebiasaan yang terasah melalui seleksi alam saatnya mengejawantah ke dalam life skills yang metodologis dan bermuatan strategi.

 

Saat ini, peralihan dari bertahan hidup di hutan ke arah pranata keteraturan kebun atau taman memang masih berupa pembibitan serta persemaian. Target atau ancangannya masih jauh dari hamparan batang besar yang menaungi dengan kedalaman akar yang menguatkan. Ia ada di tunas-tunas hijau muda dengan energi potensial yang siap melakukan diaspora ke segala arah, menuju bermacam ranah.

 

Dari sisi teknis bertani, BangBang Wetan harus mengoptimalkan diri pada empat pilar bercocok tanam yakni: bibit, media, pupuk dan perawatan. Tak kalah penting, bertahan di jalur nandur, sodaqoh, pasa adalah takdir yang mentenagai setiap langkah.

 

Catatan di 14 tahun BangBang Wetan adalah cerita panjang tentang mereka yang teguh dalam lelaku  “menanam, menabur, menyebar, dan menyebarkan” [Mbah Nun, “Bangbang Isim”, Maret 2015]. Sejak kelahirannya, ia adalah entitas yang menginfaqkan hidupnya bagi kerja sepanjang jaman: mengumpulkan orang di timur karena, bagi dan untuk rekahan fajar peradaban.

 

*Tafsir kinetik dari Khasanah Mbah Nun 25 Agustus 2020

 

Oleh : Tim Tema BangbangWetan