Oleh : Prayogi R Saputra

Pagi masih buta. Matahari belum juga muncul di cakrawala. Hawa dingin meliputi sudut-sudut Desa Tjigrok. Gerimis baru saja usai subuh tadi. Jalanan becek. Pekarangan dan halaman rumah juga becek. Bulir-bulir embun menempel di ujung rerumputan. Sapi-sapi melenguh malas di musim penghujan yang mengasyikkan. Pohon-pohon menggigil kedinginan.

Di pagi yang tenang itu, mendadak ada kabar mengejutkan: kabar kematian. Di kejauhan, terdengar pengumuman dari TOA sebuah musala yang mengabarkan bahwa Arjo meninggal dunia. Arjo anak muda, baru kelas 3 SMA. Dalam beberapa bulan ini, Tjigrok dikejutkan oleh kematian anak-anak usia SMA. Dan penyebabnya pun sama: kecelakaan jalanan.

Kabar kematian Arjo segera beredar, dibawa oleh angin musim penghujan dan burung-burung yang sebenarnya enggan beterbangan. Begitu mendengar kabar kematian, sebagian orang langsung melayat ke rumah duka. Sebagian yang lain menunggu hari agak siang. Sementara beberapa orang langsung pergi ke pemakaman, kerja bakti menggali kubur.

Demikian halnya dengan Bu Guru Parti. Karena dia hendak pergi mengajar, maka pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke sekolah, Bu Guru Parti menyempatkan melayat ke rumah duka. Bu Guru Parti mengajar di Sekolah Dasar Negeri desa sebelah. Di desa, guru yang hidupnya sederhana jauh lebih dihormati dibanding saudagar kaya raya. Kata-katanya akan didengarkan, nasihatnya akan diikuti oleh para tetangga.

Sepulang dari melayat, Bu Guru Parti buru-buru mencari Mbarep, anak laki-lakinya yang sudah SMA. Dia mencari Mbarep di kamarnya: kosong. Di dapur: kosong. Kamar mandi di halaman belakang: juga kosong. Bu Guru Parti mulai panik. Tidak biasanya Mbarep berangkat sekolah pagi-pagi buta. “Jangan-jangan, Mbarep keluar semalam. Main sama teman-temannya. Dan jangan-jangan…”, pikiran Bu Guru Parti menjelajah ke mana-mana.

Kecemasan Bu Guru Parti memang beralasan. Tadi di rumah duka, Bu Guru Parti mendapat kabar bahwa Arjo meninggal karena menabrak truk. Anehnya, Arjo tidak menabrak truk dari depan, melainkan dari belakang. Dan lebih malang lagi, Arjo menabrak truk yang sedang enak-enakan parkir di pinggir jalan. Sementara sopirnya sedang tidur nyenyak di kabin kemudi.

“Kenapa bisa terjadi?” tanya ibu-ibu para tetangga sembari duduk mengitari jenazah Arjo.

“Si Arjo sedang mabuk,” bisik tetangga yang lain.

“Mabuk?”

Orang yang ditanya memberi kode “ya” dengan mimik wajah dan kedipan mata.

“Si Afif kemarin juga sedang mabuk waktu sepeda motornya tercebur ke sungai,” sambut Kasmi yang berperawakan pendek dan berkulit hitam.

“Afif kan belum 40 harinya,” timpal Warti pemilik warung kopi.

“Iya,” sahut Murtini.

“Belum 7 bulan, sudah 6 anak Tjigrok yang tewas karena kecelakaan,” tambah Murtini.

“Itu bukan kecelakaan Mbak Mur, tapi mabuk. Nabrak. Trus mati!” kata Purwani yang terkenal sinis dan pendengki.

“Coba saja,” lanjut Purwani, ”Mulai dari Dian, Mul, Dedik, Wid, Afif, dan sekarang Arjo. Padahal belum tujuh bulan Dian meninggal. Mereka semua kan meninggal di jalanan. Bukan karena kecelakaan, Mbak Yu, tapi karena mabuk, jadi nabrak-nabrak,” katanya mencoba menanamkan pengaruh.

Emak-emak yang lain hanya mengangguk-angguk. Entah setuju entah tidak dengan ucapan Purwani. Mereka melirik ke wajah Ibu Arjo yang nampak menangis sesenggukan. Sementara di sampingnya, seorang gadis hitam manis berambut panjang juga menangis tersengal-sengal. Sudah beberapa kali dia jatuh pingsan. Kabarnya, dia kekasih Arjo.

“Masak kalau cuma pacar sampai begitu,” kata Warti.

“Pasti sudah…” mereka saling pandang.

Si gadis yang merasa sedang dijadikan bahan perbincangan melirik sekelompok emak-emak yang duduk di sudut rumah duka ini. Mereka pun segera memutar tema obrolan.

“Kabarnya Mbak Yu, ini mau digenapi 7 orang?” kata Purwani tiba-tiba, masih dengan berbisik.

“Maksudnya?” sahut Kasmi.

Emak-emak yang lain melongokkan kepala mendekati Purwani.

“Danyang desa ini minta tumbal 7 pemuda. Sekarang kan baru 6. Berarti kurang satu,” kata Purwani meyakinkan.

Mata emak-emak yang berkumpul di sekeliling Purwani mendadak mendelik. Kepala-kepala ditarik menjauh dari wajah Purwani. Mereka semua diam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Apalagi bagi emak-emak yang memiliki anak laki-laki yang sudah remaja, pikirannya semakin kalut. Murtini, Kasmi, Warti, dan beberapa emak-emak lain buru-buru pamit pulang. Mereka memiliki anak laki-laki remaja. Demikian pula dengan Bu Guru Parti. Siapa yang tidak cemas ketika mendengar bahwa Danyang Tjigrok meminta satu tumbal lagi.

Maka, ketika Bu Guru Parti tidak menemukan Mbarep di rumah, dia menjadi kalut. Mbarep adalah satu-satunya harta paling berharga yang dimiliki Bu Guru Parti. Sejak dia ditinggal pergi suaminya entah ke mana, Mbarep menjadi satu-satunya alasan Bu Guru Parti memiliki semangat hidup. Bu Guru Parti pun melepas sepatunya dan memutuskan mencari Mbarep ke rumah para tetangga.

Marwan, Mbuthir, Japan, dan Giyono yang rumahnya paling dekat dengan kediaman Bu Guru Parti ditanyai. Siapa tahu mereka melihat Mbarep. Namun, tak ada yang melihat Mbarep keluar rumah. Bu Guru Parti pun berjalan menjauh dari rumahnya, mencari Mbarep dalam radius yang lebih besar. Dia telanjang kaki menerabas jalanan becek dan sesekali terjebak genangan air. Air keruh pun memercik ke kaki-kakinya yang kurus. (Bersambung)

 

Prayogi R. Saputra : adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra