Oleh: Wida Purnama

            Kali ini, saya janji akan membuat mukadimah yang singkat, padat, jelas, sangkil, mangkus, sekaligus titis. Pokoknya benar-benar akan saya sesuaikan dengan kaidah penulisan yang baik menurut para ahli. Baiklah, mari kita tengok sejauh mana perkembangan beberapa keluarga di komplek sebelah.

“Manuk podhang menclok neng pager, ati padhang awak pun seger! Mashok Pak Eko!”, suara Pak Darmo yang sedang berkelakar dengan burung-burungya terdengar sampai pinggir jalan.

“Godhong sere dipangan prenjak, met sore caaak! Haahaa, parikanku pancen mantul!”, demikianlah Pak Darmo, suami Bu Ningsih, memang rutin membuat parikan terutama pada jam-jam ngedus burung peliharaannya. Dia percaya bahwa dengan mengajak burungnya berpantun ria akan membuatnya awet muda sekaligus menyelamatkan mereka dari stres dan penyakit mematikan.

“Ning, Ningsih! Kopi!”, teriaknya pada Bu Ningsih.

“Se-ge-ra, jangan lama-lama, Ning! Kiamat sudah dekat!”, imbuhnya. Selang tujuh menit keluarlah Bu Ningsih sambil membawa secangkir kopi untuk Pak Darmo.

Nyoh, pa! Mbok ya jangan teriak-teriak kayak nyuruh pembantu gitu kenapa to? Dulu aja, pas aku masih semlohay, semledhot, sintal dipanggil yayang-lah, darling-lah, cintalah, ibu dari anak-anakkulah. Sekarang, mentang-mentang sudah turun mesin, badan sudah selawang, pupu sudah segede debog, boro-boro manggil yayang. Tiap hari yang dikudang cuma manuk. Yang disayang manuk. Hidup isinya cuma manuk, manuk, dan manuk.  Lama-lama tak potas burungmu, pa!”, cerocos Bu Ningsih yang emosi tingkat Zeus.

Wuoske! Suami capek kerja, minta kopi kok malah kena semprot. Ya masak to Ning, sudah tahun-tahunan bersama kudu rasa manten anyar terus? Yang penting kan aku tidak menduakanmu, nafkah lancar, aku tidak aneh-aneh. Tengok jal, sing yangyangan di depan pasangan terus tiba-tiba poligami, po ra yo mending Pak Darmo ke mana-mana?”, jawab Pak Darmo santai. Bu Ningsih terdiam, antara membatin “Benar juga ya.” dan dongkol tak terkira.

“Kamu itu kebanyakan mantengin Instagram pejabat sama artis, Ning! Apa yang ada di dunia maya itu ya maya belaka. Kamu jangan serta merta terinspirasi. Membandingkan hidupmu dengan hidupnya. Mending dolanan manuk.”, tambah Pak Darmo.

Mboh, pa! Bye!”, Bu Ningsih lantas masuk rumah.

Lhawong dia sendiri ke suami mbah mboh mbah mboh gitu kok ya minta suaminya yangyangin dia. Hemm, mbel!”, gumam Pak Darmo sambil menuang pur untuk burung-burungnya.

Tak sengaja Ima dan Bu RT lewat depan rumah Pak Darmo, “Monggo Pakdhe, rajin amat pulang kerja masih sempat ngurus burung.”, sapa Bu RT.

Lho ibu-ibu syantik mau pada ke mana ini? Duh duh duh, Mbak Ima kok tambah uayu. Kayaknya isi nih?”

“Hahaha, ngiih mugi-mugi, Pakdhe. Kan memang itu yang sedang ditunggu.”, jawab Ima, kalem.

Wes Pakdhe, kita mau sambang bayi dulu ke tempat Mbak Ratna.”, Bu RT menyudahi percakapan.

Yayaya, hati-hati lho ibu-ibu syantik.”, Pak Darmo menyahut.

Mak grobyaaaaaakkkk! Suara bantingan panci terdengar dari belakang. “Teruskan pa! Teruskan mesra dengan tonggo tapi senewen dengan bojomu! Percuma pa, aku mati-matian diet, mati-matian dandan demi Papa!”, lantas bunyi Mak grobyaaaaaaakkkk sekuel dua menyusul, menggenapi sebuah sore dengan matahari yang mulai slulup di ufuk barat.

“Haduh, nuk! Kapan ya ada toko tukar tambah bojo? Pusing aku, aku pusing.”, bisik Pak Darmo pada burung-burungnya sambil terkekeh.

***

Mukadimah di atas sama halnya dengan perasaan kita pada sepasang sepatu. Ketika masih baru tentu akan kita eman sedemikian rupa. Jangankan diinjak orang, kena debu secuil saja, kita gupuh minta ampun. Dengan sigap, kita segera mengambil tisu basah untuk mengelap kotoran itu sebelum menjadi kerak dan sulit dihempas. Tapi kalau sepatu kita sudah lama, kita pun bosan, kurang perhatian, dan tak seprotektif dulu. Ya kalau sepatu, sekali bosan jika uang dalam dompet sedang tebal-tebalnya dengan mudah kita bisa ke toko untuk beli yang baru. Lha kalau bojo? Bosan, cari bojo baru? Wah wah wah bisa dirajang morotuwo plus diuleni jadi campuran adonan donat dong yes!

Meski pasangan kita bukan sepatu, bukan sesetel baju, namun perasaan bosan dan jengah tentu bisa datang menghampiri. Apalagi jika pasangan tak semuda dulu, performansinya sudah tak se-watwet saat berbulan madu (ahihirrr!), atau seperti Ningsih yang body-nya telah banyak berubah. Alhasil, sebagai perempuan yang senantiasa ingin mempertahankan bojonya, sosok-sosok seperti Ningsih ini berjuang tanpa berpikir lebih panjang dan mendalam. Senam mati-matian. Diet mati-matian. Macak mati-matian. Nyandang mati-matian. Hanya agar sekadar dirinya tetap berdiri kokoh di hati Pak Darmo, melawan gempuran waktu, menerjang ancaman pelakor, memenuhi kepantasan fisik dan mental sebagai Nyonya Darmo yang tak ingin diduakan baik secara perlakuan, pikiran, apalagi perasaan.

Lantas, jika sudah begitu, menurut saya, rumah tangga berubah menjadi satu kesatuan yang manipulatif dan melelahkan. Kita cenderung menjadi gampang memanipulasi diri sendiri karena ketakutan-ketakutan tertentu. Perasaan ini seringkali melanda perempuan, utamanya perempuan yang tidak menekuni profesi di luar rumah. Bukankah rumah tangga itu harusnya didasari suatu ketulusan, termasuk tulus menerima perubahan pasangan kita? Atau justru karena untuk menjaga sesuatu yang sejatinya selalu berubah itu, kita justru perlu memanipulasi diri? Untuk sebuah tujuan, supaya semua baik-baik saja misalnya?

Kalau dipikir-pikir, memang benar caption Kimmy Jayanti yang tertera di postingan Instagram-nya. Model ternama itu menuliskan analogi super manis tentang rumah tangga. Cekidot!: a marriage is like home maintenance, when the smoke detector starts beeping, you fix it. You don’t buy a new house. Sebuah pernikahan itu seperti merawat rumah, ketika pendeteksi kebakaran (ada masalah) berbunyi, kamu hanya cukup mengatasinya, bukannya membeli rumah baru. Didukung pula oleh petuah dari ular-ular temanten dalam acara buwuhan  yang beberapa waktu lalu saya datangi. Pak Kyai itu berpesan “nikah niku seneng Mas-Mbak, tapi jangan dibalik lho ya! Nanti jadinya seneng nikah. Nikah niku seneng, ananging aja seneng nikah.Sambil menikmati rawon saya turut ngakak bersama undangan lainnya.

Baiklah, mari kita berpikir. Pertama, kita akan pikirkan soal perubahan suhu dalam rumah tangga (Damen! Sudah kayak expertorian aja nih gaya!). Rumah tangga, pada mulanya dibina oleh dua manusia. Nah, manusia itu berubah-ubah gaes.  Percayalah, petuah bijak bahwa time flies people change memang benar adanya. Jangankan 10 tahun cuy, yang pacaran baru dua bulan terus bilang “Kamu berubah”  juga seabrek! Kalau kita tidak menyadari bahwa manusia dan perubahan itu layaknya sepur dan rel sepur, ya sampai tuwir mlintir kita hanya akan sendirian. Eh! Tapi perubahan yang seperti apa dulu ini maksudnya?

Gini lho, perubahan itu jelas ada dua: jadi lebih baik atau lebih ndledek a.k.a buruk (dalam bahasa Jawa cabang Magetan). Tapi ukuran baik buruk ini kan standarnya beda-beda jadi kurang jelas juga. Kebanyakan kita katakan baik kalau perubahannya sesuai sama kemauan kita. Sebaliknya, kita bilang itu ndledek kalau kontradiktif sama kriteria yang sudah kita ada-adakan. Perubahan akan selalu ada dan kita tak akan bisa lepas dari hal tersebut baik perubahan dalam bentuk fisik, mental, bahkan perasaan ke arah lebih baik maupun buruk. Kepret-nya, kita harus siap menghadapi problematika itu. Hadapi atau binasa! Kejem mak! Barangkali atas dasar itulah Seno Gumira dalam Trilogi Senja menyampaikan petuah dengan kata-kata: Kehidupan mungkin saja memancar gilang-gemilang api dia berubah dengan pasti. Waktu mengubah segalanya tanpa sisa. Nah! Jadi seyogyanya memang kita harus sadar bahwa kita bukan anggota dari Ganteng-Ganteng Srigala yang immortal itu kan yes? Kita akan berubah bentuk, berubah pemikiran, juga berubah rasa terhadap segala yang ada. Kalau kita bisa berubah, sudah barang pasti orang lain pun akan demikian bukan?

Setelah menyadari bahwa perubahan merupakan keniscayaan, selanjutnya yang harus kita pikirkan adalah bagaimana menyikapinya? Bagaimana menjaga suhu yang tak tentu dalam hidup? Bagaimana menghadapi istri yang berubah bentuk? Bagaimana menghadapi suami yang cuek bebek, sibuk sendiri dengan pekerjaan dan hobinya? Apakah pegat saja? Apakah cari mama baru saja? Cari papa baru? Poligami? Atau ra sah ibar mesisan? Hemm, ngelu dhewe saya gaes. Tapi, Cak Nun pernah ngendikan kalau setia itu bukanlah rasa cinta yang meluap-luap, tapi bagaimana tetap bertahan di antara naik turunnya, onak duri, juga ujian demi ujian yang datang silih berganti. Kita sering mengenal itu dengan sebutan Istiqomah (FYI: kata-kata ini dah tak bumbuin ya gaes. Heuheu). Dalam kesempatan lain beliau juga pernah meling kalau jatah kita tempe ya kita nikmati tempe tersebut. Jangan memikirkan rawon ketika makan tempe, nanti nikmatnya tempe itu jadi hilang karena kita terus mengharapkan dan membayangkan rawon.

Dari sini saya merasakan betapa pentingnya membangun rumah tangga atas dasar cinta. Bukan cinta yang menggebu terus hilang, tapi cinta yang teruji pasang surut, cinta yang teruji dusta dan pengampunan, cinta yang tahan banting. Tapi bagaiamana untuk bisa konsisten pada jalan cinta yang seperti itu? Dan bagaiamana kalau ternyata kita tidak bisa cinta? Bagaimana jika cinta yang kita miliki redup suatu saat nanti? Bagaimana jika Fatwa Jancukers yang “menikah adalah nasib mencintai adalah takdir, kau bisa berencana menikah dengan siapa saja tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa” by Mbah Tejo itu kita alami? Saya rasa hanya ada satu jalan: teguhlah untuk menjadi manusia, gaes.

Menjadi manusia? Bukankah kita ini manusia? Ya, secara fisik tak dapat kita tampik bahwa kita ini manusia. Konstruk lahir kita tentu beda dengan kesemek maupun rambutan. Tentu beda dengan bedhes maupun garong. Lha tapi, kalau kita bebrayan terus bosan, terus kita pegat  bojo kita, lantas kita cari bojo lagi, kita bosan lagi, terus pegat lagi, terus rabi lagi inhale exhale 40 kali, apa bedanya kita dengan garong? Jadi kunci untuk menjaga suhu ruang rumah tangga bisa dikatakan salah satunya adalah terus belajar dan berusaha menjadi manusia. Manusia yang mengasihi. Manusia yang kalau istri atau suami dirasani tetangga kita ikut sengkring-sengkring. Manusia yang kalau meminta bantuan bisa melakukannya dengan cara yang aji. Walau toh yang kita perlukan hanya secangkir kopi dari istri sendiri. Manusia yang kalau menuntut dan meminta tetap dengan cara yang mesra. Walau toh kita yang kita mintai itu suami sendiri. Yang mungkin sudah tak kita sadari lagi jika dia punya perasaan, punya pride dalam dirinya yang harusnya kalau kita bisa sopan pada tetangga bisa juga kan kita sopan pada pasangan? Kalau bisa sopan pada atasan di kantor bisa juga kan sopan pada bojo? Dan untuk melakukan itu tidak ada jalan lain selain memunculkan kesadaran dalam diri sendiri. Berpikirlah, “Oh iya ya, nanti kalau saya tua, saya sudah kadaluarsa, anak-anak sudah pada bebrayan, ujung-ujungnya dengan pasangan sayalah saya akan berbagi kisah di hari tua”.

Setelah sanggup menjadi manusia tentunya kita akan lebih mudah untuk berkompromi. Kompromi merupakan langkah konkret untuk mewujudkan kesadaran akan perubahan dan rasa kemanusiaan yang kita pupuk dalam jiwa. Kunci dari kenyamanan adalah seberapa luas spektrum kompromis kita terhadap orang lain ataupun suatu masalah. Jiwa kompromi ini bukan berarti lunak selunak-lunaknya terhadap beragam problem hidup. Namun, lebih kepada proses menerima, menyerap, mencerna, dan mengeluarkannya sebagai output berupa tindakan tertentu yang mengutamakan kebaikan bersama. Misalkan masalah istri yang enggan memasak atau memilih cuci baju di loundry daripada ngucek sendiri, itu kan tidak perlu diperdebatkan, namun cukup dikompromikan. Masalah suami lebih suka bakso sedang istri tidak suka bakso tapi lebih suka Bebek Sinjay kan tetap bisa dikompromikan. Minggu ini makan bakso, minggu depan makan bebek.

Waduh Mbak kok akeh temen PR kita dalam berumah tangga ini? Lho, yaiya. Makanya kalau dibilang menikah itu adalah ibadah sepanjang masa ya jelas worth it kan kalau begini? Yang namanya ibadah pasti gampang-gampang susah. Lha maumu yang gampang saja? Susahnya wegah? Mana bisa! Anyway, untuk memungkasi tulisan ini, saya mau cerita. Di Batu tepatnya di daerah Ngaglik, ada penjual gethuk gerobagan, suami istri, sudah separuh baya. Kalau berangkat beliau berdua naik motor, grobag-nya dikatrol pakai motor, begitu terus setiap hari, tampak istiqomah, qonaah, dan indah disawang. Di Malang, di tikungan Sigura-gura, tepatnya depan warung Ayam Nelongso, ada penjual rujak, suami istri, setiap hari kecuali Jumat beliau berdua melayani pembeli bersama, tampak mesra, penuh cinta, dan indah disawang. Kalau melihat yang begitu-begitu, rasanya hati meleleh kayak es krim, dan saya optimis kembali bahwa pasti ada alasan tertentu mengapa Rasulullah menyarankan kita untuk menikah. Tentunya bukan sekadar meneruskan garis keturunan apalagi sebagai genap-genap hidup belaka, pasti ada motif tertentu dan motif seorang Rasul tidak mungkin abal-abal. Sekian dulu untuk kali ini, sampai jumpa di ruang rindu berikutnya. Pamit untuk beli es krim, gethuk, dan rujak manis.

 

*Penulis berasal dari Magetan. Bisa disapa di akun IG @purnamawida