Kolom Jamaah, Rubrik

Urat-Urat Aurat

Oleh : Danang Y Riyadi

Saya bertempat tinggal di suatu desa yang biasa dikatakan nggunung di wilayah Kabupaten Blitar. Kata ini sangat khas terdengar di telinga saya. Kesan yang kuno dan tertinggal lekat memaknai penggunaan kata ini. Nggunung adalah suatu kondisi yang biasa menjadi bahan ejekan dalam komunikasi sehari-hari khususnya di Kabupaten Blitar. Ada juga yang menyebutnya khayangan karena memang tempatnua berada di ‘atas awan’.

“Oo, ancen cah nggunung” begitu ejekan yang sering saya dengar dari masyarakat kota.

Kalau sudah muncul kalimat tersebut, kondisi percakapan yang terjadi adalah saling ejek antar komunikator. Saling ejek ini bukan karena kesombongan atau saling membenci, tetapi lebih karena kemesraan yang sudah terbangun dalam hubungan baik. Saya bukannya terganggiu, tetapi malah menikmati istilah tersebut.

Kondisi georafis berupa dataran tinggi di daerah saya sangat berbeda dengan daerah-daerah pegunungan yang lain, terutama berkaitan dengan ketersediaan air bersih. Umumnya daerah pegunungan memiliki ketersediaan air ang melimpah, tetapi tidak dengan daerah saya. Bahkan dingin pun sangat jarang dirasakan selain pada pergantian musim yang biasa kami sebut bediding. Ketika musim kemarau tiba, setiap keluarga harus berbagi dengan keluarga lain untuk bergiliran memompa air dari sumur swadaya masyarakat. Bagi yang tidak tergabung dalam ‘klub’ swadaya, membeli air bersih adalah solusi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Tentunya dengan syarat wajib berupa pengiritan penggunaan air karena harganya yang tak pernah turun seperti harga sembako.

Membicarakan desa saya  dengan segala dilematis air bersihnya, ada satu hal yang mungkin masih terasa asing bila dibandingkan daerah-daerah kota. Kami, masyarakat desa Panggungrejo, biasa mandi di mbelik. Mbelik adalah tempat mandi umum yang berada di sekitar sungai, kebun, atau sawah. Jangan dipikir bahwa ini adalah tempat mandi dengan aturan dan kualitas SNI. Jauh dari itu. Terkadang, bahkan tempat mandi sekaligus mencuci ini tidak memiliki sekat. Entah sekat dari orang luar ataupun sekat pembatas antara laki-laki dan perempuan. Unik, bukan?

Yang ingin saya bahas di sini bukan keasikan mandinya, meskipun nantinya agak menjurus ke arah itu. Taste saat mandi di mbelik bagi saya adalah hal yang biasa, tetapi bagi orang ‘asing’ mungkin merupakan pengalaman yang sangat berkesan sekaligus mendebarkan. Pernah suatu ketika saya mengajak beberapa teman yang berasal dari daerah kota untuk mandi di mbelik tak bersekat. Bisa ditebak bagaimana reaksinya. Canggung, senang, malu, aneh, bahkan rasa jijik mungkin menggelayuti pikiranya. Namun itulah kenyataanya.

“Orang-orang itu tak malu auratnya terbuka, ya?” Begitu celetuk salah satu teman setelah selesai menunaikan ibadah mandi di mbelik.

“Punya malu kok, buktinya mereka menutupnya dengan pakaian dalam dan juga tangannya masing-masing.” Saya menanggapinya dengan sedikit tertawa ketika itu.

Tempat mandi umum di daerah saya bisa dikatan sebagai tempat terbukanya aurat. Tidak salah dikatakan demikian, tapi lihat juga kondisi sosial masyarakat di dalamnya. Tradisi mandi dan mencuci pakaian di mbelik adalah budaya yang sudah turun-temurun dilakukan di daerah saya. Hubungan sosial berjalan beriringan di sana, meskipun kini sudah mulai terkikis karena meningkatnya kesejahteraan masyarakan untuk membuat sumur pribadi yang dalamnya bisa mencapai lebih dari 25 meter. Bisa dibayangkan, berapa biaya yang digunakan untuk membangun sumur.

Aurat dalam pengertian awam diartikan sebagai satu bagian yang tidak boleh kelihatan. Aurat merujuk kepada suatu benda yang harus disembunyikan. Bila benda ini kelihaan, maka malu lah yang akan didapatkan. Batasan-batasan aurat sangat jelas jika dilihat dari sudut pandang agama khususnya ketika salat. Batasan aurat ketika salat tidak boleh dilanggar karena itu merupakan aturan baku dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Dilihat dari sudut pandang perbedaan jenis kelamin, pria maupun wanita memiliki batasan aurat yang berbeda. Dalam hal ini batasan bagi pria lebih longgar daripada wanita. Tak perlu saya jelaskan lebih lebar tentang hal ini.

“Aurat itu aturan Pemilik Kehidupan tentang sebagian prinsip yang harus dijaga oleh makhluk-Nya”. (Sistem Aurat, Daur 194)

Satu nukilan kalimat dari daur di atas seolah menampar saya yang kemudian mencoba mentadabburinya dalam kehidupan sosial. Khususnya dalam budaya mbelik di lingkungan saya.

Ternyata pengertian aurat dari sudut pandang agama tidak serta-merta bisa diterapkan pada batasan-batasan sosial di luar ibadah mahdoh. Ketika mandi di mbelik tak bersekat adalah salah satu contoh nyatanya. Seluruh warga desa yang memutuskan untuk mandi di mbelik menempatkan aturan aurat secara berbeda dari orang kebanyakan. Aurat adalah sistem nilai yang menumbuhkan kesadaran pada diri manusia. Maqomnya bukan hanya bagi si pembuka aurat, namun lebih kepada apa yang terlihat. Penglihatan ketika aurat terbuka bisa diolah seketika itu juga oleh hati dan pikiran, sehingga tidak menimbulkan nafsu birahi bagi si penglihat.

Kalau aurat hanya dipahami dari sudut pandang awam, maka sudah tak terhitung peristiwa pelecehan seksual yang terjadi di desa saya. Tetapi faktanya tidak demikian. Tak pernah saya mendengar peristiwa-perustiwa menyimpang yang dialamatkan kepada mbelik tempat saya biasa mandi. Bahkan kami mandi dan mencuci pakaian dengan saling obrol meskipun berbeda gender. Namun jangan coba-coba mempraktikkan kegiatan ini selain di daerah saya, terlebih di kalangan masyarakat kota modern. Bisa runyam jadinya. Foto sana-sini dan akhirnya menjadi viral. Tak bisa saya bayangkan.

Membuka aurat dalam pengertian yang berbeda adalah tindakan-tindakan menelanjangi. Substansinya bukan hanya pada pengertian telanjang secara denotasi. Lebih dari itu, kegiatan menelanjangi bisa diartikan segala kegiatan membuka apapun yang seharusnya tidak dibuka. Informasi contohnya. Cak Nun pernah menyampaikan dalam beberapa kali kesempatan bahwa media sosial saat ini adalah pornografi total. Auratnya terbuka. Tidak ada filter yang jelas dalam setiap informasi. Like and share adalah trend manusia modern dengan meninggalkan budaya tabayyun. Dampaknya adalah banjir informasi, hoax, dan lain sebagainya.

Saya rasa, Masih lebih baik orang-orang di desa saya yang mandi di mbelik. Kami masih memiliki batasan dalam ketelanjangan. Setidaknya kami tidak menelanjangi apa yang seharusnya tidak telajang dalam arti yang lebih substansial. kami masih mempunyai urat-urat aurat untuk membatasi diri agar tidak larut dalam ketelanjangan. Urat-urat aurat kami tak terputus seperti halnya kaum media sosial yang gemar memanjakan pornografi total ramai-ramai.

 

Penulis adalah Jamaah Maiyah, tingal di Blitar. Berbagi dan mencari ilmu sebagai seorang guru magang. Sehari hari bisa ditemui di twitter @DanangJunior