Urip Malaikatan

 

Pernahkah Anda mendengar cerita ini? Seseorang yang berjalan kaki melihat dengan iri orang lain yang mengendarai mobil. Pada saat bersamaan, si pengendara mobil menengadahkan kepalanya dan berpikir, “Alangkah asyiknya kalau saya bisa naik pesawat pribadi seperti miliarder itu.” Tahukah Anda apa yang ada di benak sang miliarder? Yups, dia sedang berandai-andai, “Betapa indahnya hidup pejalan kaki di bawah sana. Kemungkinan terburuk dari perjalanannya hanyalah terantuk batu atau tabrakan dengan sesama pejalan.”

 

Hidup memang menawarkan informasi yang membawa kita kepada komparasi-komparasi. Setinggi apapun ekspektasi dan pencapaian kita atasnya selalu diikuti rasa ingin memperoleh apa-apa yang lebih yang ironisnya dimiliki orang lain.

 

Kondisi diperparah oleh kian surplusnya informasi. Segala bentuk fakta dan data bersifat orang perorang, kelompok, hingga bangsa dan negara beserta aliansi yang mereka pilih menjadikan transparansi sebagai sajian utama hidup kita sehari-hari.

Coba urutkan saja apa yang bisa kita dapakan dari sekali membuka laman, misalnya Facebook. Dari tetangga masak apa, kawan sekolah piknik ke mana, saudara mendapat promosi di tempat mereka bekerja, bawahan yang melaporkan pandangan mata perjalanan dengan mobil baru, sampai keponakan jauh yang diwisuda di akhir perkuliahan S3-nya.

 

Sementara kondisi di rumah kita sungguh 180 derajat perbedaan yang nyata. Anak yang malas belajar, istri yang memilih membeli sayur dan lauk jadi, mobil tua yang membutuhkan biaya lebih untuk perawatan, sampai ke situasi di mana tamasya hanya bisa dilakukan ke taman kota.

 

Di manakah letak keinginan? Atau bagaimana memastikan ini sekadar klangenan atau sejatinya kebutuhan? Pemilahan atas muatan rasa tidak, belum, dan keharusan memiliki mungkin bisa kita ajukan sebagai premis awal dari konklusi. Walau, tentu saja hal ini punya kelemahan yang masih bisa diperdebatkan. Karena asas relativitas adalah variabel yang selalu mengiringi proses kategorisasi.

 

Mbah Nun pernah menulis tentang metode menyikapi hidup dengan–misalnya–membawa segala fenomena ke perhentian sementara di pitstop bertajuk “sik…“. Kata “sik…” mengajak kita untuk menata dengan cermat apapun reaksi kita terhadap fakta dan data.

 

Islam sendiri punya ajakan untuk menjalani hidup yang qona’ah. Secara definitif, kata ini bisa diartikan sebagai “rezeki yang sederhana dan kita merasa cukup atasnya”. Sederhana sendiri mengandung makna cukup, tercukupi, dan jauh berada di bawah garis berkelebihan.

 

Kalau pandangan kita arahkan ke kosmos lain pada kehidupan, cobalah sedikit berfokus bagaimana para malaikat menjalani hari-harinya. Bukannya diam menunggu waktu, mereka terus bekerja dengan tanpa mengharap, meminta atau menuntut perolehan hasil yang bisa jadi adalah hak sebagai imbalan atas energi yang telah dikeluarkan.

 

Lebih jauh, Mbah Nun mengemukakan satu “gaya hidup” yang beliau istilahkan “Urip Malaikatan”. Satu bentuk pilihan sadar akan sikap sekaligus strategi menjalani kehidupan yang membutuhkan sedikit saja ongkos kecuali niat dan kesungguhan.

 

Lebih rinci dan bersifat dua arah, mari kita perbincangkan itu semua di bawah temaram akhir purnama. Malam dingin di puncak kemarau di pelataran TVRI Jawa Timur, Surabaya, yang akan menjadi latar bagi pertemuan cinta kita bersama.

 

[Tim Tema BangbangWetan]