Wa Ma Adraka Ma Syahrul Huzni

Oleh : M Hasanuddin 

Fajar di akhir Muharram.
Langit masih temaram.
Ekor kata ajma’in shalawat tarhim al-Qusyairi masih sayup mengendarai ruang mencairkan kebekuan
Syahrul Huzni, tulisnya di fajar akhir Muharram.

Wa mâ adraka ma syahrul huzni ?

Dengan penuh rasa sungkan, pakewuh dan rasa bersalah,
Dengan nyunggi permohonan maaf yang tak tahu mesti dibayar dengan tirakat apa,
Dengan kaki dirantai oleh kebodohan dan ketidakmampuan dan ketidaktahuan harus berbuat apa,
Dengan ingsutan yang dibebani ketidakacuhan dan ketidakpedulian,
Dengan bisu tertunduk penuh kekhawatiran akankah kami adalah saudara-saudara Yusuf as yang membebani sang ayah Ya’qub as, meninggalkannya dalam zawiyyah sunyi untuk mewiridkan ” Innama asyku batstsi wa huzni ilayka”?

Masihkah ada ketersambungan ruhani, untuk sekedar meraba “Syahrul Huzni” itu ?

Tidak hanya sekedar turut tergetar dengan huzni, lebih jauh dan penuh harap adalah perkenanNya untuk mendapatkan cipratan ‘ilmu’Nya berupa pengetahuan harus berbuat apa, untuk mendapatkan pendaran af’al-Nya berupa kemampuan menggerakkan diri dalam ke-MahaLembutan-Nya.

 

 

M Hasanuddin adalah jamaah maiyah BangbangWetan dan PadhangmBulan yang berdomisili di Sidoarjo. Penggiat desain arsitektur , bisa disapa di akun twitter @acan9 .