Matahari mulai naik. Panasnya seperti Surabaya. Kami nyicil napak tilas perjalanan Mbah Nun di Tinambung. Salah satu yang menjadi pilihan adalah mandi dan lomba slulup di sungai Tinambung. Mbah Nun juga pernah bersenang senang slulup di sungai ini. Tentu saja kebiasaan ini telah mendarah daging karena sering dijalani semasa kecil di Mentoro yang dikelilingi kali.

 

Sungai di Tinambung

 

Kami merasakan hawa dan udara sungai dari gazebo yang sekaligus menjadi TPQ ketika malam. Tempat ini lebih tepat disebut surau daripada gazebo. Menjelang Maghrib ketika senja mulai memerah, kami dari Tinambung bertolak ke Majene untuk ziarah ke makam Syekh Abdul Manan yang merupakan wali pertama di tanah Majene yang berasal dari Tanah Jawa. Dari sini lahirlah kesimpulan bahwa Tanah Mandar dan Tanah Jawa sejak dulu punya ikatan persaudaraan.

Di makam ini, ketika kami bermunajat dengan menggetarkan Al-Fatikhah dan shalawat bersama terasa saling bersautan getaran kekhusyukan dan ketulusan dengan kesucian laku dan peran beliau, Wali Poralle Salabose. Tetesan air mata kami adalah tanda bahwa kedatangan kami diterima.

 

Pintu masuk Makam Syekh Abdul Manan

 

Tiba waktu malam, mandi bergiliran serta beristirahat adakah cara yang tepat untuk mengembalikan tenaga fisik kami. Jamuan selanjutnya adalah sop bersaudara dan bakaran ikan bandheng yang juga menjadi usaha warung makan Bang Sidiq, anggota Teater Flamboyan generasi pertama. Tanpa henti kita dijamu makanan demi makanan yang dihadirkan spesial oleh sahabat Mbah Nun di Tinambung sebagai rasa saudara dan cinta kepada Mbah Nun. Saudara tertua kami selalu memiliki cara teraktual untuk menyambut saudara muda dengan penuh cinta.

 

Salabose Majene, 21 November 2019