“Warisan Nilai Untuk Generasi Mendatang”

 

Majelis Masyarakat Maiyah BangbangWetan (BbW) bulan Oktober ini diselenggarakan pada Selasa, 15 Oktober 2019, di Taman Budaya Cak Durasim Surabaya. Rutinan BbW kali ini bernuansa penuh kemesraan, kehangatan, dan kekhusyukan. Sebab, pada rutinan bulan ini, pusat sinau bertempat tepat di pendopo utama Taman Budaya Cak Durasim—yang biasanya menjadi tempat pagelaran rutin seni dan budaya Jawa Timur. Nuansa hangat dan khusyuk tersebut tetap disajikan dengan panggung rendah khas Maiyahan. Tema “Calling All #Z” dipilih untuk menyambut semangat juang dan pencarian diri yang dilakukan oleh Generasi Z—sebutan bagi generasi yang lahir pada dekade 2000-an—sebagai rujukan bersama dalam keseimbangan laku, kedewasaan berpikir, dan kristal pendalaman batin menghadapi masa depan.

Majelis BbW diawali dengan nderes Surah An-Naml oleh perwakilan beberapa jamaah, disambung dengan pembacaan bersama Wirid Akhir Zaman yang dipandu oleh Cak Huda. Sesi pembuka dipungkasi dengan sholawat bersama sebagai salah satu cara merayu Kasih Sayang Allah dan rasa tak tega hati Kanjeng Nabi kepada umatnya yang cinta kepada Allah dan Allah mencintainya. Sehingga, diri kita menjadi lebih kuat secara ruh-jasad untuk menjalankan pengabdian selama hidup di dunia.

Sesi berikutnya—diskusi tema—dipandu oleh Cak Amin dan Mas Yasin. Keduanya meminta perwakilan jamaah yang masuk kategori Generasi Z untuk naik ke panggung dan menceritakan pengalamannya bermaiyah, serta menuturkan bagaimana mereka menjalani hidup ala zaman now. Seperti biasa, kejenakaan jamaah dalam bercerita, ditimpali jokes segar dari Cak Amin, menambah gembira dan santai suasana BbW. Grup musik akustik Risya and Friends tak ketinggalan turut memeriahkan atmosfer malam tersebut. Kehadiran mereka mampu membangkitkan kemesraan sinau bareng.

Di tengah alunan akustik apik Risya and Friends itulah, Mas Sabrang dan Kiai Muzammil hadir di panggung, membersamai diskusi BbW yang sejak tadi berlangsung gayeng. Terdengar bunyi applause serentak, menandai antusiasme jamaah. Pada wajah mereka tergurat ekspresi yang lahir dari perpaduan rasa rindu dan dahaga akan sosok serta ilmu para marja’ Maiyah. Selama ini, apa yang disampaikan oleh para marja’ memang seolah tak pernah usang untuk didiskusikan, sehingga nilai-nilai yang dikandungnya pun terus berkembang seiring perubahan situasi.

Sebelum melanjutkan diskusi, perwakilan Jamaah Maiyah Bangkalan memohon izin dan meminta restu atas lahirnya “Paddhang Ate”—simpul Maiyah kedua di wilayah Madura setelah “Damarate”. “Paddhang Ate” bermaksud menyelenggarakan Maiyahan pertamanya pada Oktober 2019. Selanjutnya, Mas Acang melambari diskusi inti dengan menyampaikan, “Ada masa ketika generasi tua merasa tidak tahu apa-apa, karena percepatan teknologi yang semakin cepat.”

Masa Syok Peradaban, Tetap Pertahankan Nilai

Mas Sabrang mengatakan bahwa perpindahan generasi selalu membuat syok generasi sebelumnya. Jadi, sekarang ini, kita masih berada pada masa shock peradaban akibat perpindahan dari Generasi Milenial ke Generasi Z. Contohnya, kita masih belum mampu bijak menyikapi keberadaan media sosial dan belum bisa meletakkan kemudharatannya di tempat yang tepat.

Generasi Z, kaum muda yang hari-harinya sangat lekat dengan teknologi informasi ini, pada dasarnya tidak berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Hal yang membuat Generasi Z terlihat baru adalah jenis teknologi yang dikembangkan pada zaman mereka berbeda dengan jenis teknologi yang dikembangkan pada masa generasi-generasi sebelumnya. Karena berbeda teknologi, maka sikap/ekspresi untuk merespon teknologi tersebut pun berkembang secara berbeda pula.

Apa yang harus kita pertahankan dalam kencangnya perubahan zaman ini, menurut Mas Sabrang, adalah nilai-nilai. Sebab, nilai lah yang akan tetap bertahan sebagai sebagai dasar ekspresi diri sesuai perkembangan zaman. Berbeda dengan ekspresi diri orang zaman dulu yang cenderung memproduksi sesuatu, ekspresi diri orang zaman sekarang lebih mengarah pada memilih sesuatu. Generasi muda saat ini penuh potensi, sedangkan generasi tua penuh aktualisasi. Yang muda menang untuk belajar, sementara yang tua menang karena pengalaman. Supaya utuh, generasi tua harus punya kemampuan mentransfer pengalaman sebagai bahan belajar generasi muda.

“Wong kang sholeh kumpulono”, Mas Sabrang menganalogikan sinergi generasi tua-muda tersebut dengan selarik kalimat dari syair Tombo Ati. Kalau kita berkumpul dengan orang yang baik cara berpikir dan tingkah lakunya, maka tanpa sadar, kita akan meniru perilaku mereka. Sebab, setiap hari, kita bercermin kepada mereka. Tidak ada pendidikan yang lebih baik dibandingkan memberikan contoh langsung bagaimana nilai-nilai baik mewujud ke dalam perilaku nyata. Melalui teladan, nilai-nilai baik dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Pertahankan nilai-nilai yang dianggap benar, tetapi jangan lupa untuk terus memperbaikinya, ucap Mas Sabrang.

Belajar tentang Generasi Z, Belajar kepada Generasi Baru

Beberapa pertanyaan jamaah membuat jalannya diskusi terfokus pada karakter Generasi Z yang cenderung mengutamakan kebebasan berekspresi dan eksistensi/popularitas. Salah seorang jamaah, yang berprofesi sebagai guru, bahkan meminta saran mengenai cara membimbing anak-anak didiknya yang tidak mau mematuhi aturan.

Tujuan pendidikan, jelas Mas Sabrang, bukan hanya belajar pengetahuan, melainkan juga belajar patuh pada suatu sistem yang telah disepakati bersama. Melalui orang tua dan guru, anak belajar tentang batas dan berlatih mengenal otoritas. Jika guru hanya mempertahankan otoritasnya saat melakukan pendekatan kepada murid-muridnya, maka ia tidak akan bisa mempertahankan sistem untuk dipatuhi. Generasi Z akan selalu mencoba cara baru dalam mengekspresikan nilai-nilai sesuai zamannya. Oleh karena itu, mereka tidak bisa dibatasi dengan otoritas penindasan. Tetapi, mereka bisa dibatasi melalui peraturan yang telah disepakati bersama. Sebab, kesepakatan bersama merupakan cerminan nilai keadilan. Untuk memenuhi nilai keadilan tersebut, sang guru juga harus berada di bawah sistem peraturan yang sama dengan murid-muridnya. Jika diberlakukan sistem denda untuk sebuah pelanggaran, maka sang guru pun turut didenda jika melanggar.

Mengenai kebebasan berekspresi, Mas Sabrang mengaitkannya dengan kedaulatan. Berdaulat, kata Mas Sabrang, bukan berarti kita bisa berbuat “sakkarepe dhewe”. Konsekuensi nomor satu dari kedaulatan adalah kesediaan menanggung akibat dari apa pun yang sudah kita perbuat. Kita juga tidak boleh lupa, supaya mudah hidup bermasyarakat, ada norma-norma dari kesepakatan bersama yang perlu diikuti. Mengenai kecintaan Generasi Z terhadap eksistensi/popularitas, Mas Sabrang menujukkan bahwa kecenderungan itu tumbuh karena kondisi lingkungannya sangat mendukung. Sebagai contoh, ruang publik saat ini masih menitikberatkan popularitas daripada kapabilitas, misalnya pada peristiwa pemilihan pemimpin. Ditambah, media sosial dan teknologi yang ada saat ini lebih mengembangkan ekspresi daripada perbaikan masyarakat.

Seiring lajunya peradaban, pesan Mas Sabrang, Generasi Z harus mau terus belajar agar siap memecahkan cangkangnya sendiri, dan mau memenuhi ruang publiknya dengan esensi, tidak cuma mencari eksistensi. Generasi Z juga harus tahu bahwa kapabilitas lebih diutamakan daripada popularitas. Sebab, jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, sambung Kiai Muzammil, tunggulah kehancurannya.

Selanjutnya, Seno Bagaskoro bersama dua orang kawannya—perwakilan dari Aliansi Pelajar Surabaya, sekaligus mewakili Generasi Z, malam itu mengungkapkan bahwa fenomena Generasi Z bukan berasal dari dekonstruksi dirinya sendiri, melainkan hasil dari dekonstruksi generasi sebelumnya. Berkaitan dengan syok peradaban, Seno menambahkan, keterkejutan generasi lama akan lahirnya generasi baru harus dijembatani dengan proses komunikasi dan kesadaran berbagi peran yang baik.

Menegakkan Amanat Allah

            Dalam diskusi mengenai Generasi Z malam itu, terselip pesan dari Mbah Nun untuk mendiskusikan pula makna “amanat” yang tercantum dalam Surah Al-Ahzab 72. Oleh Kiai Muzammil, diskusi tentang kata “amanat” tersebut dimulai dari Surah Al-Fatihah dengan kata “mustaqim” pada ayat ke-6. Umumnya, ayat tersebut ditafsirkan sebagai “tunjukilah kami jalan yang lurus”. Sementara, menurut Kiai Muzammil, “mustaqim” memiliki arti “menegakkan”. Hal yang ditegakkan itu, kata beliau, adalah amanat dari Allah—yaitu potensi diri yang ada pada masing-masing diri manusia. Sayangnya, manusia banyak terjajah oleh unsur-unsur di luar dirinya, sehingga menjadi tidak setia mengembangkan potensi aslinya. Nilai-nilai lokal suatu daerah, misalnya, justru malah diinterlokalkan. Alih-alih melakukan kontinuasi/melanjutkan nilai-nilai dari generasi sebelumnya, generasi penerusnya malah mengadopsi nilai-nilai asing.

Kiai Muzammil berpesan agar kita teguh menegakkan amanat Allah, meskipun dipandang sebelah mata oleh dunia. Ibarat bekerja dengan mengelap kaca mobil atau bekerja di angkringan sekalipun, kita tetap melakukan, asal Allah menyukainya. Karena, baik atau buruk suatu pekerjaan didasarkan pada dijalankan atau tidaknya amanat dari Allah.

Forum BbW bulan ke-10 tahun ini diakhiri dengan sholawat Antal Adhim yang dilantunkan serentak bersama Mas Hakam. Dengan harapan, Kanjeng Nabi berkenan memberkahi ilmu yang mengalir dalam kemesraan malam itu. Dipimpin oleh Kiai Muzammil, jamaah memanjatkan doa agar Allah senantiasa melimpahi kita cahaya hidup, kasih sayang, dan memberi kita kekuatan agar istiqomah menjaga tali persaudaraan. Saat beranjak pulang, jamaah Maiyah tak lupa bersalaman dengan Mas Sabrang dan Kiai Muzammil untuk mempererat kemesraan sebagai sesama saudara. Semoga kebersamaan ini terjaga sampai kelak kita bertemu di surga. Dan, semoga apa yang kita diskusikan kali ini dapat menjadi bekal bagi generasi muda Indonesia untuk melangkahkan kaki menuju masa depan yang lebih baik.

 

[Tim Reportase BangbangWetan]