Wijil di Satu Edisi Makan Siang

Oleh : Ungsaka

Di suatu tengah hari, sesudah wijil makan siang dan menikmati waktu istirahat kerjanya, tetiba ada yang membisiki tapi tak tampak wadagnya. Wijil hafal betul, ini pasti Mbah Gatruh. Beliau adalah guru yang tak mau disebut guru, pembimbing yang selalu memposisikan diri sebagai teman karib, setidaknya bagi Wijil. Kenyataan ini sangat menggemberikannya.  Sebab dari beliau-lah Wijil belajar banyak tentang nilai, ilmu, dan hikmah dari segala peristiwa.

Kali ini Mbah Gatruh hadir secara sirri. Bukan karena Wijil mampu kasyaful hijab. Namun lebih disebabkan keakraban di antara keduanya. Wijil mampu membaca kehadiran gurunya itu dalam gelombang dan aliran di luar kewajaran fisika. Wijil membaca getaran suara Mbah Gatruh yang sampai ke dalam dadanya dan mengatakan,”Allah memang membuatmu lupa, sehingga ada usaha dirimu untuk berusaha ingat dengan terus mengalami setiap perjalanan merangkai kesadaran yang kian luas dan mendalam. Juga Allah menganugerahkan potensi malas untuk menjadi giat, tergesa-gesa untuk lebih waspada dan hati-hati. Jadi bukan Allah bermaksud mencelakakanmu, tetapi untuk menjadikan dirimu makhluk masterpice  dan Khalifah di bumi sesuai apa yang difirmankan-Nya”. Sambil mengangguk-anggukan kepala, Wijil menjawab dengan suara sirri-nya, “Oh, ngoten to mbah, dados e kulo niku memang makhluk pilihan dan  khalifah di bumi nggih. La nggih, kulo wingi-winginane berprasangka bahwa, la lapo Gusti Allah lalar gawe ngekeki menungso sifat males, lupa, tergesa-gesa dan sifat negasi lainnya. La kok tibak e malah gae menungso.

Semakin berkembang kesadaran dan pengalamannya. Sehingga lahir ilmu baru sebagai cara bersikap dan husnudzon kepada Allah. Suwon lo nggeh, Mbah. Jenengan pancen Mbah sing tresno tenanan kalih tiyang nem.“. Belum usai Wijil menutup mulutnya, Mbah Gatruh telah hilang dari sisinya.

Wijil beranjak bangun dari duduknya sambil merenungi apa yang dimaksud Mbah Gatruh. Ia langsung hanyut dalam upaya menterjemahkan kata-kata sang Guru ke dalam bentuk nyata aplikasi. Ini pastilah karena ia memegang teguh warisan nilai, “Ngilmu kelakone kanthi laku“. Sambil melanjutkan kerja yang tertunda,  dijaganya alur nafas agar tetap tenang, Wijil akhirnya menemukan bahasa konkrit dari apa yang Simbah Gatruh bisikkan tadi. Setidaknya, penafsiran eksklusif versi seorang murid

Dalam gumam lirih, dicobanya menyusun runtutan logisnya sebagaimana  asal- usul sifat “La” (negasi) yang ada dalam diri manusia adalah upaya untuk menemukan “Illah”; Tuhan (kodrat kesejatian). Masih menurut  Wijil, ia mnempati satu ruang bernama “semoga”. Artinya, ada wilayah tertentu yang harus terus dilakukan pemilahan dan pembacaan. Dan perangkat yang dibutuhkan adalah sepasang mata tajam; Ainun Nadjib. Kristlisasi pemahaan itu menjadi energi bagi Wijil untuk melanjutkan hidup  menggunakaan penafsiran atas Laa dan Illah. Temuan ini membawanya ke  “cuaca roso” yang menariknya ke situasi  kesadaran yang berbeda, kondisi yang ilang roso wadag-e.

Matahari seolah tiba-tiba senja ketika Wijil bersuka karena sampai di hitungan waktu yang memungkinkannya melepasa beban dan kewajiban kerja. Segera dicucinya tangan, kaki dan muka. Mengumpulkan perlengkapan ke dalam tas kerja yang begitu lusuh. Langkah dan perangainya terlihat ceria. Percakapan dengn Mbah Gatruh di makan siangnya mengguratkan kesan dalam untuk segera dibawa pulang.

 

Surabaya, 27 Agustus 2019