Wujud Puasa dari Lapangan Hijau

 

“Pada orang shalat, dunia di belakangnya. Pada orang berzakat, dunia di si sisinya namun sebagian ia pilih untuk ‘dibuang’. Sementara pada orang berpuasa dunia ada di hadapannya namun tak boleh dikenyamnya.” – Emha Ainun Nadjib

Lihatlah tatapan nanar dari para pemain Juventus saat Si Kuping Besar, Piala Liga Champions, tepat berada di depan mereka namun tak boleh mereka rengkuh. Lihat pula saat Gianluigi Buffon dkk yang menahan untuk tidak tertunduk di lapangan dan memilih untuk memberi applaus kepada para Juventini yang telah jauh-jauh datang ke Cardiff untuk mendukung mereka.

Itulah sedikit dari sekian banyak perwujudan puasa yang bisa saya tangkap dari lapangan hijau. Khususnya dari laga pamungkas Liga Champions di Stadion Millennium Cardiff, Wales, Minggu dini hari waktu Indonesia.

Maaf sebelumnya, saya ingin tekankan bahwa tulisan ini tidak berniat mengejek salah satu tim dan membesar-membesarkan tim lainnya. Toh, suka tidak suka, inilah sepakbola dengan segala dinamika baik di dalam maupun di luar lapangan hijau. Dinamika yang tak jarang lebih asik daripada sepakbolanya sendiri.

Dalam hitungan tahun ke belakang, walau semakin dirasuki komersialisasi dan industrialisasi, pada hakikatnya sepakbola tetaplah sebuah olahraga yang bertujuan untuk kesehatan dan hiburan baik untuk pemain sendiri maupun para penonton. Terlepas dari hal di atas, wujud puasa tak akan pernah hilang dari lapangan hijau.

Selain dua contoh pada paragraf awal, masih banyak sekali contoh lain puasa dari permainan sepakbola. Dimulai dari jatuh bangun penyelamatan-penyelamatan sang penjaga gawang yang seolah tak berarti apabila timnya kalah dan juga tak bermakna saat timnya menang. Itu yang bagi saya membuat penjaga gawang bagai pejalan sunyi dalam hingar persepakbolaan. Lihat juga kesediaan para bek sayap dan gelandang yang susah-susah merebut bola, berlari menyisir lapangan, hanya untuk mengumpan kepada seorang penyerang agar terjadi sebuah gol.

Bayangkan andai pemain-pemain tersebut tak melakonkan laku puasa. Dapat bola, berlari, tendang sendiri ke gawang lawan. Atau lebih parahnya lagi sang penjaga gawang ikut melepas kesunyiannya berharap namanya terpampang di papan pencetak gol. Berapa persen kemungkinan timnya akan menang?

Silakan lanjut dan cari sendiri wujud puasa lainnya. Kalau jeli, bukan hanya puasa, namun kita juga akan menemukan prinsip syahadat, salat, zakat, serta mabrurnya haji dari lapangan hijau.
Selamat untuk Real Madrid dan para Madridista atas gelar ke-12 dari liganya para juara. Namun ingat, jangan berlebihan dalam euforia. Untuk Juventus dan Juventini, walau kalah kalian tetaplah yang terbaik dari Italia. It’s time to be proud. Terimakasih sudah menemani waktu sahur kami.

Dengan ditiupnya peluit akhir dari laga final Liga Champions kemarin, berakhir pulalah kalender sepakbola musim 2016-2017. Bagi para penggemar lima liga teratas Eropa (Spanyol, Jerman, Inggris, Italia, dan Perancis) serta Liga Champions silakan berpuasa hingga akhir Agustus mendatang, saat musim baru resmi dimulai. Sembari menunggu waktu berbuka mari sejenak ngabuburit dengan sajian Liga Indonesia atau laga persahabatan lainnya.

 

Penulis : Wahyoko Fajar

*) Bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Bisa disapa melalui akun twitter @wahyokofajar