Rahim

BEBERAPA TANTANGAN YANG DITEMUI DISAAT HOME LEARNING

Oleh : Ningrum

Tahun ajaran 2021/2021 masih sama dengan tahun sebelumnya karena dari awal dilaksanakan secara online. Siswa mengikuti rangkaian pembelajaran dari rumah, sedangkan guru mengajar di sekolah. Guru yang tadinya sebagai orangtua kedua di sekolah sekarang terbalik, orangtua menjadi guru kedua di rumah.

Home Learning (HL) atau disebut juga Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) merupakan opsi terbaik di masa pandemic Covid-19. Terlebih untuk sekolah yang berada dalam zona kuning, orange, atau merah. Home Learning adalah model alternatif belajar selain di sekolah.

Pelaksananaan Home Learning ini juga menimbulkan banyak tantangan tersendiri. Mulai masalah pengadaan gadget, kuota belajar, hingga pada sistem pembelajaran yang dipakai. Namun, apakah sampai disitu saja tantangan Home Learning?

Home Learning adalah sebuah inovasi pembelajaran untuk mengembalikan fitrah pendidikan di rumah. Dalam artian bukan hanya rumah sebagai sebuah bangunan, namun sebagai sebuah sistem yang melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan.

Berikut sebuah hasil pengamatan terhadap siswa selama Home Learning. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa digitalisasi pendidikan itu tak sesempurna seperti dalam bayangan.

1. Sekolah “rasa libur” membuat tidak fokus

Belajar di rumah bisa jadi membuat anak-anak seperti liburan. Akibatnya, anak kurang serius dan bersantai kayak di pantai. Kadang anak sambil mengikuti sesi pelajaran, bisa diam melamun tidak jelas, memainkan mouse, atau melakukan hal lain. 

Sekolah “online” ini agak susah untuk membuat anak menjadi fokus. Apalagi untuk anak yang biasanya aktif dan energik. Home Learning dirasa sangat monoton dan kurang greget.

2. Godaan untuk bermain

Meskipun sudah disiapkan ruang untuk belajar sendiri, namun suasana di rumah membuat anak ingin bermain. Susah untuk menyingkirkan mainan karena pasti mereka tahu dimana tempat menyimpan mainan.

Mainan ini seringkali mengalihkan fokus anak. Paling banyak terjadi pada anak TK. Bahkan anak sering membawa mainan saat sesi online. Berulang kali guru memberi tahu, tetap saja membawa mainan dan sibuk dengan mainannya.

3. Orangtua harus ikut berperan

Jika di sekolah anak diawasi oleh guru saat belajar dan mengerjakan tugas, maka Home Learning ini memaksa orangtua untuk berperan memantau dan mengawasi. Orangtua harus sering mengingatkan untuk fokus mendengar penjelasan guru. Bagaimana dengan orangtua yang bekerja? Tentu tidak mudah untuk memantau atau mengawasi anak dalam belajar. Nah, mungkin dalam hal ini orangtua harus mempunyai asisten di rumah untuk mendampingi anak-anak ketika belajar.

Peran orangtua sangat dibutuhkan terutama dalam mengerjakan tugas-tugas. Bahkan terkadang kita harus turun tangan menjelaskan materi karena saat sesi tidak fokus mendengarkan penjelasan guru.

4. Kejenuhan belajar

Terkadang kita menyepelekan tentang rasa jenuh pada anak. Memang sekilas Home Learning ini terlihat enak: “Kan tinggal duduk. Enggak capek!”

Tetapi coba kita di posisi mereka, dari pagi sampai siang duduk di depan laptop dan mengerjakan tugas. Bosan loh! Apalagi jika materi kurang disukai anak yang dunianya memang bermain.

5. Stres pada anak

Situasi pandemi yang tidak ada kepastian sampai kapan ternyata tidak bisa dianggap remeh. Bisa jadi secara tidak disadari akan menimbulkan stres pada anak. Fakta yang terjadi ketika anak-anak ditanya lebih suka mana belajar di rumah atau di sekolah? Kebanyakan jawaban mereka dengan polos mengatakan “Ms, aku kangen banget… kangen teman-teman, kangen bawa tas, kangen main bola, kangen locker (Hah????), kangen lunch, kangen break, kangen jajan di kantin…

6. Anak Kecanduan Gadget

Ketika pelaksanaan Home Learning, anak dipaksa untuk mengerti teknologi. Dan apa yang terjadi ketika anak sudah melek teknologi? Dengan daya imajinasi mereka yang kuat mereka bebas berselancar di dunia maya dan kemudian terlena di dalamnya.

Kadang disaat pelaksanaan Home Learning berlansung, anak masih ada yang ditemukan membuka aplikasi online lainnya seperti game online, Youtube dan lain-lain. Disinilah peran orangtua di rumah sangat penting untuk memantau dan mendampingi anak disaat belajar.

Home Learning adalah Proses

Home Learning di masa pandemi ini bukan hanya proses belajar namun juga proses kehidupan. Ketika kita tidak bisa memilih, maka pilihan yang tersedia adalah menjalani dan ikut berproses.

Dengan Home Learning, anak berproses untuk menjadi pribadi yang tangguh, tidak putus asa, dan tetap semangat belajar. Dan bagi orangtua, HBL mengajak orangtua untuk berproses menjadi orangtua yang bijak, sabar, dan tidak menyerah.

Ada banyak tantangan yang membuat emosi dan semangat menjadi naik-turun. Namun, jika kita pasrah dan menyerah itu artinya kita siap kalah.

Tetap semangat, patuhi protokol kesehatan, semoga pandemi ini segera berlalu.

Jakarta, 29 Juni 2021

                                                                                                       Penulis adalah pengiat Kenduri Cinta dan juga Guru SD Swasta di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *