Rahim

Bekerja untuk Senang, Senang untuk Bekerja

Oleh: Imroah

Tekunilah apa yang kamu sukai, hingga kamu menjadi ahli.”  Kurang lebih begitu yang diucapkan Mbah Nun untuk anak-anak Maiyah, agar menekuni bidang yang disuka.

Menggeluti pekerjaan yang kita senangi adalah sebuah anugerah yang tidak ternilai. Bukan lagi tentang nominal, material, ataupun pandangan sosial, melainkan tentang hal yang tidak dapat terucapkan. Dulu, saya merasa telah mengambil keputusan yang salah saat memutuskan untuk mengambil sebuah jurusan tentang pendidikan di universitas. Namun, lambat laun setelah terjun ke dalam dunia yang asing itu, saya akhirnya merasa nyaman. Benar kata pepatah yang mengatakan “tresna jalaran saka kulina”. Ini terjadi dan nyata saya alami.

Pada awal perkuliahan, tidak sempat terpikirkan untuk mengambil jurusan pendidikan. Karena saya tahu kelemahan terbesarku terletak pada public speaking. Dan menjadi seorang guru bagi saya adalah momok yang menyeramkan. Bayangan akan sesosok patung yang berdiri di depan siswa, bagaimana saya menyampaikan materi, apa yang akan saya sampaikan akan berbuah bagi siswa, serta bayang-bayang akan pandangan masyarakat desa yang menganggap bahwa guru adalah orang serba bisa, pintar, dan cerdas. Karena itulah, awal memasuki gerbang kampus serasa masuk ke dalam rumah hantu yang siap membuat bulu kudukku merinding.

Perjalanan hidup memang sangat membantu. Saya ingin bertanya, siapa yang bilang bahwa bangku kuliah adalah satu-satunya gerbang mencari pekerjaan atau bahkan gerbang mencari kesenangan? Saya bahkan terlalu naif ketika mengatakan bahwa kesalahan saya ketika memilih jurusan kuliah adalah sebuah gerbang kesengsaraan. Buktinya hari ini saya menyukai, bahkan enggan untuk berpaling dari dunia yang saya geluti saat ini. Iya, menjadi guru PAUD.

Salah satu  pengalaman  yang  tidak terlupa  yang membuat  saya  tersadar bahwa  jiwa ini memang dituntun untuk menjadi seorang guru PAUD adalah ketika saya sakit tifus. Pada saat itu saya memang harus bed rest. Namun, saya minta izin untuk dirawat jalan. Dokter bersikeras karena menurut beliau aktivitas berlebih akan membuat proses penyembuhan berjalan lambat. Saya dengan keras kepala tetap meminta izin untuk dirawat jalan, dan sang dokter terpaksa mengabulkan. Pastinya dengan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Saya pun menyanggupi.

Pada saat itu saya juga meminta izin kepada kepala sekolah agar diperbolehkan langsung pulang selepas mengajar. Selama proses tersebut kesehatan saya semakin membaik dan berangsur pulih lebih cepat dari prediksi dokter. Pada posisi itu saya tidak menyalahkan apa yang disarankan dokter melainkan meyakini bahwa ada hipotesis lain yang dapat menyembuhkan seseorang selain apa yang biasa dilakukan. Yakni perasaan senang.

Bekerja dengan hati senang akan melahirkan kejernihan otak. dr. Reza Fahlevi mengatakan bahwa organ utama yang dipengaruhi oleh rasa bahagia adalah otak sendiri. Rasa bahagia terjadi karena keluarnya neurotransmitter dopamin dan serotonin di dalam otak. Neurotransmitter ini kemudian beredar di dalam otak dan mempengaruhinya.

Rasa bahagia tidak hanya mempengaruhi otak, tetapi juga jantung, dan pembuluh darah. Ketika merasa bahagia, kita berada dalam kondisi rileks. Hal ini akan membuat jantung dan pembuluh darah juga rileks. Sistem saraf autonom adalah sistem saraf yang memiliki pengaturan khusus di luar kendali dan keinginan. Selain jantung dan pembuluh darah, beberapa organ yang juga dipengaruhi oleh saraf autonom adalah saluran napas, saluran pencernaan, dan saluran kemih. Rasa bahagia dapat membuat ketiga sistem tersebut berada dalam kondisi rileks sehingga memberikan efek positif terhadap organ-organ tersebut.

Lalu bagaimana dengan Anda hari ini, bekerja untuk senang atau senang untuk bekerja? Apapun yang sedang dilakukan dan dikerjakan, semoga selalu membuat hati Anda senang. Karena Allah mewajibkan kita untuk berperang, dalam konteks ini perang adalah bekerja.

Allah melalui QS. Al-Baqarah ayat 216 berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Sekilas tentang penulis : Lahir di kediri, bekerja sebagai buruh pendidikan di taman kanak-kanak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *