Kolom Jamaah

Beliau Yang Sudah Mengajar Sebelum Mengajar

Kemlagen #11

Oleh: Samsul Huda

Tahun 1981 di kelas tiga Madrasah Tsanawiyah, saya sudah mengikuti Darsul ‘am sorogan (metode pengajaran dimana santri membaca dan menjelaskan isi kitab sedangkan Kyai menyimak dan men-tashih paparan santri). Tempatnya di balai rumah depan untuk santri putra dan balai rumah dalam untuk santri putri. Pesertanya khusus para senior dimana Romo Kyai sendiri yang menjadi pengampunya.

Pengajian dilakukan malam hari dengan jadwal mengikuti kelonggaran agenda harian Romo Kyai. Lazimnya jam 20.00 namun terkadang jam 22.00 bahkan sering pula jam 23.00 baru dimulai. Hal ini terjadi karena beliau sering bepergian. Untuk menjaga agar tetap istiqomah, maka jam berapapun beliau datang, pengajian pun dimulai.

Oleh karena itu,meski Kyai bepergian para santri tetap menunggu kecuali memang ada pengumuman libur. Mereka menunggu di balai rumah di depan dan di sekitar ndalem. Begitu Kiai datang, mereka langsung merapat ke balai ndalem sambil menunggu beliau menyiapkan diri ke kamar mandi, berwudhu, dan berpakaian rapi. Kalau Romo Kyai terlalu lelah habis bepergian, kemudian kyai istirahat sebentar. Terkadang sampai beliau tertidur. Begitu bangun, walaupun sudah jam 23.00  tetap saja beliau mengajak para santri untuk tetap mengaji. Mulailah pengajian yang bisa berakhir sampai jam 00.00. Begitulah Romo Kyai memberi teladan dalam perilaku istiqomah.

الاستقامة خير من الف كرامة

“Istiqomah dalam satu amal (pekerjaan) itu lebih baik dari pada seribu karomah”

Dalam ngaji sorogan itu, Kyai menunjuk salah satu santri senior secara acak dan bergantian membaca kitab. Beliau menyimak dan memperhatikan dengan seksama bacaan dan penjelasan santri. Kemudian Kyai memberikan komentar dan catatannya. Santri yang lain menyimak dan ngeshahi (memberi makna dalam kitabnya) kitab masing-masing sambil menunggu giliran ditunjuk Kyai dengan perasaan berdebar-debar.

Suatu hari, tidak seperti biasanya, mendadak Kyai menawarkan santri lain (non-senior) yang mau dan siap membaca tanpa mengikuti alur antrian. Sampai sekian waktu tidak ada yang berani berinisiatif mengajukan diri. Tiba-tiba seperti ada kekuatan yang mendorong saya untuk menerima tawaran Kyai. Saya acungkan tangan. Waktu itu saya masih kelas 3 MTs, tergolong junior dan belum dikenal Kyai. Saya diizinkan membaca. Beliau mendengarkan dengan seksama. Tidak memotong dan tidak menyalahkan bacaan hingga tuntas saya lakukan. Pada saat beliau memberi komentar, ucapan yang keluar adalah pujian atas keberanian dan kenekatan saya di hadapan para santri senior. Sebaliknya, Kyai ngrecek atau membully mereka yang tidak mempunyai inisiatif dan keberanian membaca. Momentum mendapat  pujian Kyai inilah yang membangkitkan energi belajar saya sampai hari ini.

Bukannya tanpa alasan saya berani menerima tawaran Kyai. Bukan pula sekedar modal nekat saya terima tantangan beliau. Saya memang sudah siap karena sebelum ngaji sorogan malam hari, siang atau sore sebelumnya saya hampir selalu mengikuti halaqoh kakak senior  “muthola’ah” kitab bersangkutan untuk mempersiapan diri kalau sewaktu-waktu ditunjuk Kyai pada pengajian malam.

Mereka serius mempersiapkan diri karena  begitu Kyai menunjuk, tidak ada yang berani menolak dan harus membacanya. Kalau “plegak-pleguk” bacanya, banyak salahnya atau grogi maka akan dibully atau istilahnya “dikrecek” Kyai sampai habis. Tidak ada seorangpun santri yang kebal “krecekan” beliau.

Kondisi psikologi santri di era Romo Kyai inilah yang sering disampaikan putra kedua beliau, penerus dan pengasuh pondok, KH. Zainul Arifin Arif. Sering dalam kesempatan bertemu dengan para santri terlebih para alumni, beliau menceritakan haliah dan fadlilah sang ayahanda; “Romo Kiai Arif iku wis mulang sak durunge mulang, reek. Gak koyo awak-awakan iki. Wis mulang tapi durung mulang.” (Kiai itu sudah mengajar sebelum mengajar. Tidak seperti saya ini, sudah mengajar tapi belum kunjung mengajar).

Artinya, suasana kejiwaan para santri sudah terbentuk dan terbangun secara maksimal sebelum Kyai datang dan menyampaikan materinya. Jadi sebelum Kyai rawuh untuk mengajar, santri-santri sudah siap lahir batin untuk menerima pelajaran.

Hingga wafat di usia 71 tahun (1917 – 1988) Romo Kyai tetap istiqomah mematuhi jadwal mengajar mata pelajaran “BalMan” (Balaghoh dan Manthiq) untuk siswa siswi -pondok dan non pondok- tingkat Madrasah Aliyah. Beliau adalah perintis sekaligus pendiri Pondok tempat dimana saya mendapatkan bahan penting dalam menghadapi kehidupan. Sebuah pondok yang nama lokasinya menginspirasi penamaan tulisan bersambung ini.

—oOo—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *