Kolom Jamaah

Fragmen Rasa Pra Baratayudha

Sinau Wayang #8

Oleh: Rahadian Asparagus

Sesaat sebelum perang Baratayuda meledak di palagan Kurusetra, terdapat secuil kisah yang diketahui oleh sedikit saja khalayak awam. Satu fragmen pertemuan sepasang kekasih yang saling mencinta tetapi terhalang tahta dan istana. Cerita cinta yang kuncupnya terus menjanjikan bunga.

Di bagian belakang kuil Astina, di sudut yang terlindung dari perhatian orang, dua insan, lelaki dan perempuan, mengendap-endap untuk bisa menuntaskan hasrat perjumpaan. Keduanya adalah Prabu Duryudana, sang Raja Astina dan Dewi Subadra, istri penengah Pandawa, Arjuna..

Inilah laporan siaran tunda dari pertemuan mereka

Subadra: Oh Duryudana, gagahmu tak berubah sedikitpun semenjak kita pertama berjumpa di tempat ini…

Duryudana: Hmm.., begitupun kau, Subadra. Kecantikanmu seakan tak pernah sirna semenjak kita berpisah di tempat ini..

Subadra: Terima kasih, ksatria hatiku. Sebetulnya, ada hal yang ingin aku utarakan selain luapan rinduku padamu.

Duryudana: Aku pun rindu padamu, kelasih. Oh iya? Apa yang ingin kau sampaikan padaku, Subadra? Katakan saja…

Subadra: Oh Duryudana, apa kau pernah membayangkan bahwa beberapa saat lagi Baratayuda akan menyala di padang Kurusetra ? Hamparan hijau itu kelak akan menjadi lautan darah, jutaan perempuan akan menjadi janda, dan ratusan juta anak-anak akan menjadi yatim karenanya.

Duryudana: Hmm.., aku tahu, wong ayu. ada hal yang harus kita bayar demi mendapatkan apa yang kita impikan. Baratayudha sudah menjadi kehendak Dewata dan perlu kau ketahui wahai Rara Ireng, kelak semua prajurit serta hulubalang yang gugur di pertempuran maha dahsyat ini jiwa raganya akan bersemayam di sisi para Dewa. Tak terbayangkan seberapa besar dosaku, apabila aku menolak kehendak para Dewa tersebut.

Subadra: Oh Duryudana, kau memang tak pernah berubah. Kau tetaplah Duryudana yang semangatnya berapi-api dan selalu patuh kepada takdir Dewata. Oh Kurupati, kekasihku tetapi ada kenyataan lain yang mengerikan dibalik itu semua. Bahwa kelak kau dan seluruh bala tentara Kurawa akan menerima kekalahan. Sementara Pandawa akan mereguk nikmat menang dan kejayaan

Duryudana: Hmm.., apa yang kau bicarakan, kasihku? Percaya diri boleh-boleh saja asal tidak ndisiki kerso kehendaknya para dewa. Itu tak baik, Subadra. Bisa kualat.

Subadra: Apa kau lupa bahwa kakakku, Krisna adalah juga titisan Dewa, Duryudana?

Duryudana: Hmm.., lanjutkan Rara Ireng.

Subadra: Semalam, aku tak sengaja mendengar kakakku, Krisna berbicara dengan beberapa Dewa di belakang taman istana, entah bagaimana mulanya tapi di akhir pembicaraan itu para Dewa menyetujui permintaan kakakku untuk memenangkan Pandawa.

Duryudana : Hmmm… benar seperti itu, Subadra?

Subadra: Benar, Kurupati..

Duryudana: Hmm.., Subadra. Dengar baik-baik ucapku ini. Kekejero koyok manuk branjangan, kopat-kapito koyo ulo tapak angin, keno gepuk lintang alugoro, keberanianku tak akan pudar sedikitpun! Aku, Duryudana, Raja dan junjungan rakyat Astina tak akan gentar dengan berita itu!

Subadra: Oh Duryudana, kenapa sifat keras kepalamu juga tak pernah berubah ? Aku mohon padamu, wahai Raja Astina, menyerahlah.., kau dan adil-adikmu,  Kurawa tak akan bisa menang melawan Pandawa. Apalagi di sisi para Pandawa, khususnya suamiku, Arjuna, ada kakakku yang juga Titis Wisnu, Krisna. Dia bisa melakukan apa saja yang dia mau. Sekali lagi aku mohon padamu, menyerahlah.  Demi cinta kita dulu yang pernah tercipta meski tak sampai berbunga. Aku sungguh mengkhawatirkan dirimu, Duryudana..

Duryudana: Hmmm.. Subadra, kau juga tak pernah berubah. Perhatianmu padaku tak pernah luntur meski dirimu kini sudah menjadi istri Arjuna. Subadra, perlu kau tahu bahwa aku adalah Raja Astina, aku adalah junjungan semua rakyatku, aku adalah panutan dari 99 saudaraku, dan kedua orang tuaku, dan aku terlahir sebagai ksatria. Bagaimana penilaian mereka semua terhadapku jika aku menyerah dalam perang ini? Apakah nanti para khalayak umum tidak akan menggunjing darah ksatriaku ketika diriku bertekuk lutut di kaki musuhku? Apakah tidak hancur lebur hati para pendukung dan prajuritku ketika mereka sudah mengorbankan jiwa raganya demi aku, lalu aku dengan gampangnya menyerah begitu saja? Tidak Subadra, Tidak! Maafkan aku.., kali ini aku tak bisa menuruti kemauanmu.

Setelah berkata demikian, Duryudana pamit beranjak pergi karena dari kejauhan adik-adiknya memanggilnya untuk meminta arahan. Sesaat sebelum Raja Astina itu pergi, dari belakang, Subadra tiba-tiba memeluk erat Duryudana, pelukan itu seakan memberi isyarat kepada mereka berdua bahwa inilah pelukan terakhir dua insan yang pernah dihinggapi beban asmara berjuta rasa. 

Subadra: Oh Duryudana, kasihku… jangan pergi… aku mohon.. demi ribuan kenangan indah kita, mintalah maaf pada Pandawa dan Krisna. Turutilah kemauan mereka.

Duryudana: Rara Ireng, pujaan hatiku, camkan kata-kataku.. aku adalah ksatria, aku akan meminta maaf, tapi minta maafku dengan jalan ksatria yaitu, berperang!!

Subadra: Oh Duryudana..tapi kau akan kalah..

Duryudana : Hmm.. Subadra. Kalaupun memang Pandawa yang menang, aku berjanji padamu, mereka tak akan menang dengan cara yang mudah!

Subadra : Duryudana..

Duryudana: Demi cinta kita berdua, maka restuilah perjuanganku karena perjuanganku bukan hanya tentang diri, keluarga, atau rakyatku namun lebih luas dari itu. Satu perjuangan demi seimbangnya semesta..

Subadra: Oh Gandariputra, aku merestuimu…

Duryudana : Terima kasih Subadra. Sebelum kita berpisah, dengar kata-kataku ini. Jagalah anakku, jangan pernah biarkan dia maju ke medan perang, aku tak ingin dia mati di tanganku atau saudara-saudaraku..,

Dan yang terakhir Subadra, titipkan salam sayangku untuk anak lelakiku, Abimanyu..

Subadra : Baiklah Duryudana…

Mereka pun berpisah, dan kita semua tahu bagaimana akhir dari Baratayuda serta lakon-lakon setelahnya.

—tancep kayon—

Penulis adalah lulusan teknik informatika yang lebih asyik dengan pencarian makna di jagad pakeliran. Hari-harinya banyak dihabiskan bersama keluarga dan kawan-kawan di Majelis Maiyah Balitar. Bisa dihubungi melalui akun FB: aspaholic rahadian dan IG @aspaholic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *