Prolog

Hitung Cepat Keterlibatan – Prolog BangbangWetan Desember 2020

Hitung Cepat Keterlibatan

 

Syahdan, Nabi Musa merasakan sakit di perutnya. Beliau mengadu kepada Allah yang kemudian menyuruhnya mengambil dan mengunyah sejenis daun. Instruksi ini dilaksanakan Nabi Musa dengan mengatasnamakan Allah dan sembuh hilangah sakitnya. Di kesempatan lain, ketika didera sakit yang sama, Nabi empunya tongkat pembelah samudera ini melakukan langkah terapeutik seperti sebelumnya. Alhasil, kesembuhan yang beliau yakini tak kunjung datang bahkan sakitnya kian parah. Beliau pun mengadu kepada Allah. Jawaban Allah sangat sederhana ’’Kali pertama kamu datang mengadu kepada-Ku memohon kesembuhan. Tapi, pada kali kedua kamu langsung saja mengunyahnya dengan tidak meminta petunjuk dan izin dari-Ku. Tidakkah kamu tahu bahwa dunia ini semuanya adalah racun dan penawarnya hanyalah dengan menyebut nama-Ku?”*

 

Petikan shirah di atas menegaskan keharusan pada diri kita untuk selalu menyerahkan segala hasill dari daya upaya kepada Maha Pencipta. Singkatnya, apapun ikhtiar dan prosedur badaniah yang kita jalani wajib kita serahkan urusan keberhasilannya kepada Allah. Hanya izin dan perkenan Allah yang menuntaskan segala perkara.

 

Kalau kisah di atas kita tarik benang merahnya pada permasalahan Indonesia dengan sakit yang tak kunjung jelas diagnosa apalagi terapinya, dengan permasalahan dimana hulu-hilir dan langkah solutifnya kian suram adanya, maka hipotesa terbaik yang bisa kita ajukan adalah ketiadaan keterlibatan Allah di sana. Persoalan semakin menuju ke jalan buntu kalau kita tambahkan kenyataan lain; bahwa negara ini sendiri dan jutaan orang di lingkup kedaulatannya tidak merasa ada yang salah, tak satupun kekhawatiran perlu kita jaga.

 

Lihatlah bagaimana nepotisme menjadi warna kepemimpinan pusat sampai daerah tingkat 2. Penyalahgunaan wewenang serta pemakaian anggaran yang hanya bisa diakukan si raja tega. Pelecehan kemampuan sumber daya manusia lokal dan generasi muda oleh mereka yang seharusnya menjadi hulubalang daulat rakyat dan justru menjadi agen bagi kooptasi negara manca. Keretakan multi polar yang berpotensi menyeret kita ke konflik horisontal bahkan pada umat dengan iman yang sama. Tak kalah gentingnya, pengkotak-kotakan anasir massa yang ada indikasi memang sengaja dipelihara.

 

Dengan tetap mencoba jernih sambil terus berpasangka baik, kita mencatat betapa usulan ke sekian dari Mbah Nun untuk penguasa ditolak di level awal dimana pembicaraan serius di antara mereka belum pernah terselenggara. Taruhlah mereka tolak usulan itu berdasar analisa mendalam dari dewan pakar dan otoritas yang selayaknya, kita bisa terima. Namun kalau penolakan hanya oleh seorang staf yang hidupnya masih perlu dipertanyakan kualitasnya, masihkah berlaku larangan untuk kecewa ?

 

Di penghujung tahun yang sembilan bulannya kita lalui bersama situasi seakan lock down karena Covid-19 merajalela, mari jujur kepada hitungan cepat: sejauh manakah sudah kita libatkan Ia dalam segala perkara ? Sudah begitu tinggikah daya digdaya kita bagi keperluan hidup yang kian kompleks, berlapis-lapis dan tak jelas ujung pangkalnya ?

 

Di forum rutinan Bangbang Wetan Desember, mari diurai itu semua. Bahwa solusi atau jalan keluar belum bisa diperoleh, anggap saja kita adalah semut yang memamggul setitik air sebagai empati atas ancaman api kepada Ibrahim alaihi salam yang kobar nyalanya kian memanas siap menghanguskan apa saja, siapa saja.

 

* Kitab Mafatih Al Ghoib (Tafsir Ar Razi) oleh Muhammad ibn Umar Fakhr al-Din al-Razi, Juz 1 hal. 173

 

Oleh: Team Tema BangbangWetan