Kolom Jamaah

Hutang Nan Tak Terbayarkan

Kemlagen #24

Oleh: Samsul Huda

Allah Swt. dalam Surah At-Taghabun (64) ayat 17, berfirman:

إِن تُقْرِضُوا۟ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَٰعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَٱللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun.”

Juga dalam Surah Ali-Imran (3) ayat 169, berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۢا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”

Begitu besar jasa para guru yang ikut aktif “membentuk” saya selama mondok di Beratkulon. Andil mereka tak terkira banyaknya, kenyataan ini membawa pada kesadaran bahwa tidak mungkin saya bisa membayar dan menggantinya.

Satu hal penting adalah kenyataan betapa mereka dengan ikhlas mengantarkan dan menemani saya menemukan jati diri. Berharap ampunan dan ridho Allah selalu beserta kita semua sehingga ilmu yang mereka ajarkan memberi manfaat dan keberkahan. Selanjutnya, nilai-nilai hidup yang mereka tanamkan tumbuh subur, berkembang, dan berbuah amal yang ilmiah dan ilmu yang amaliah. Sebuah tanaman yang, insyaallah, menjadi amal jariyah mereka.

Di antara mereka yang mampu saya tulis di sini adalah:

1.  Almaghfurlah Romo K.H. Arif Hasan, pendiri dan pengasuh PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon. Beliau santri kesayangan Hadratus Syaikh K.H.Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Beliau mendapat julukan Si Thowil (Si Jangkung) dari Hadratus Syaikh karena postur tubuhnya kurus dan tinggi. Kurus karena beliau ahli tirakat. Persentuhan saya dengan beliau sudah saya tulis di seri Kemlagen #7 (Ketika Pundakku Ditepuknya), Kemlagen #10 (Santri Gundul), dan Kemlagen #11 (Beliau Yang Sudah Mengajar Sebelum Mengajar). Walau demikian, tulisan di serial tersebut masih jauh dari gambaran beliau yang seutuhnya.

2.  Kiai Mahsun Ali, suami dari Ning Arifah, putri pertama Romo Kiai. Penampilannya kalem, sabar, sederhana,  namun pekerja  keras.  Seorang  organisatoris  yang enerjik. Menantu Romo Kyai ini terbilang qana’ah terhadap hasil keringatnya sendiri. Tidak  tampak  sedikit  pun  tanda-tanda  mencari  nafkah  dari  lembaga pendidikan yang diamanatkan kepadanya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, beliau menjadi agen minyak tanah dan memiliki sebuah usaha dagang di rumahnya yang dikelola oleh istrinya. Berkenaan dengan kesehatan, Kyai Mahsun pernah dianugerahi Allah sakit stroke sekitar lima tahun. Saya hanya sesekali membantu merawatnya, namun yang istiqomah adalah sahabat saya sekelas, Drs. Suharto dari Lamongan yang di kemudian hari menjadi ASN di BKKBN. Beliau wafat tahun 1987 saat saya masih kuliah di Malang.

Setiap pagi beliau mengaji kitab Iqna’ yang begitu tebal, setebal kitab Tafsir Jalalain. Saya selalu mengikuti pengajiannya. Keterangan yang masih saya ingat ketika mengaji kitab Iqna’ hingga kini adalah soal dêhêm-dêhêm di saat salat. Beliau menjelaskan, batal salatnya kalau berdêhêm-dêhêm. Berdêhêm berbeda dengan batuk. Batuk ya batuk, tidak bisa ditahan. Sedangkan dêhêm itu soal kebiasaan, bisa dihindari atau ditahan. Maka berdêhêm di saat salat membatalkan sholat.

3.  Almaghfurlah Drs. KH. Syihabul Irfan Arif, M.Pd. mantan pengurus PCNU Kab. Mojokerto. Putra bungsu Romo Kiai. Perihal beliau sudah saya tulis khusus di seri Kemlagen #6 (In Memoriam, Drs. KH. Syihabul Irfan Arif. M.Pd. yang Mencontohkan Bagaimana Menjadi Orang yang Benar, Baik, dan Indah).

4.  Almaghfurlah Kiai Asmukhin, panggilan kesehariannya adalah Pak Mukhin. Beliau adalah guru MI dan MTs saya di pondok, santri kesayangan Romo Kiai. Beliau saya tulis khusus di seri Kemlagen #3 (Santri “Dihukum Gantung”) dan Kemlagen#5 (Guruku itu Waliyyullah). Dari Pak Mukhin saya mendapatkan “futuhullah“, terbukanya hati dan pikiran dari Allah Swt. seperti lahir kembali.

5.  Almaghfurlah K.H. M. Faqih Syafii. Panggilan kesehariannya adalah Pak Faqih. Guru MI dan MTs. Orangnya tampan, rapi, energik, pekerja keras, namun tetap kelihatan santai. Juga disiplin, tertib, dan cerdas. Seorang ASN guru MI, yang juga peternak dan petani. Di MTs beliau mengajar Kitab Kuning, Fathul Mu’in. Beliau adalah santri kesayangan Romo Kiai generasi awal yang fokus mengurusi MI. Kalau beliau berhalangan hadir mengajar di MI, maka saya diminta menjadi guru badal, penggantinya.

6.  Almaghfurlah Drs. K. Muhatarom. Cak Tarom begitu kami memanggilnya. Senior lima tahun di atas saya, ia adalah pembimbing kitab yang menyayangi saya setulus hati. Setelah mengajar di Univerisitas Islam Malang (Unisma), beliau menjadi dosen tetap di UINSA Surabaya dan setiap ba’da salat Subuh mengisi pengajian rutin kitab “Al Hikamu Al ‘Athoiyah” karya Al-Syaikh ibni ‘Athaillah Al- Sakandary di Masjid Desa Bungurasih, Sidoarjo. Didahului istrinya, beliau wafat ketika putrinya masih menjadi murid saya di Pondok Beratkulon.

7.  Almaghfurlah K. Shirojuddin yang memiliki nama asli Ranu Atmaja. Romo Kiai mengganti namanya karena “mengetahui” kalau beliau akan menjadi Kiai yang alim. Beliau santri kesayangan Romo Kiai yang sangat menguasai kitab kuning dan diamanati untuk mengurusi Madrasah Diniah di pondok.

Sebagai guru dan pedagang, kehidupan sehari-harinya sangat sederhana. Bersama K.H. Mashul Ismail, beliau pernah mewakili para kiai se-Mojokerto untuk mengikuti Bahtsul Masail (kajian hukum atas segala masalah fikih yang ada). Kendaraan utamanya adalah sepeda “unta” yang dikayuhnya setiap hari dari rumahnya di Terusan Gedeg menuju pondok yang berjarak sekitar 13 km.

Istiqomah mengajar ngaji kitab kuning di pondok meskipun hanya sekitar sepuluh santri yang mengikutinya, termasuk saya. Di MTs, Pak Sirojuddin mengajar Mushtholahul Hadits sedangkan di MA Fikih dan Qurdis. Beliau memberikan salah satu baju jasnya pada saya agar saya berani dan mau berkhotbah di kampung.

Thoriqoh hidup beliau adalah “Ta’lim wa ta’allum”, mengajar dan belajar. Beliau tidak pernah meninggalkan pondok sehingga tidak pernah menjadi alumni. Hingga wafatnya beliau masih menjadi guru di sekolah formal pondok sambil secara rutin mengisi pengajian dan menjadi kepala Madrasah Diniyah.

8.  Almaghfurlah K.H. Kusnawi, guru ngaji AL-Qur’an dan Ilmu Faroidl saya yang membuat saya mewajibkan diri untuk ngewot sungai demi mengaji AL-Qur’an ke rumahnya di Berat Wetan yang berjarak sekitar 1 km dari pondok, sebagaimana yang sudah saya tulis di seri Kemlagen #21 (Shirot Al Ngewot; Isra’ Mi’raj “3”).

Di luar delapan nama di atas, masih banyak orang-orang yang begitu besar jasanya terhadap saya sewaktu mondok. Kepada mereka, saya sampaikan permintaan maaf karena tidak bisa menyebutkannya satu persatu.

Kepada mereka: guru-guru saya di kancah pembentukan keilmuan dasar hingga menengah (RA, MI, MTs, MA), dosen-dosen di Universitas Negeri Malang yang memandu pola pikir kesarjanaan serta para dosen di Institut Pesantren K.H. Abdul Halim Pacet, Mojokerto, yang mematangkan pemahaman dan kematangan magister pendidikan, saya jatuh di wilayah hutang nan tak kan bisa terlunaskan.

Hanya dengan do’a-do’a kebaikan dan mengupayakan terus berlanjutnya budaya menulis—seperti pada serial Kemlagen inilah saya mencoba mengangsur pembayarannya. Sambil juga saya perbanyak menyebarluaskan ilmu yang pernah mereka tanam dan suburkan.

—oOo—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *