Kolom Jamaah

In Memoriam -Mas Beben Jazz

Oleh: Rio NS

Saya baru benar-benar kenal“thuk-thukan”, bertatap muka, dan bertukar salam serta kata di satu forum BangbangWetan di Tugu Pahlawan sekian tahun lalu (tahun 2016). Mas Beben Jazz, sebuah nama yang sebelumnya kami tahu pada lalu lintas informasi dari kawan-kawan Kenduri Cinta di Jakarta. Namanya lekat atau lebih tepatnya menyatu dengan kata Jazz; genre musik yang dipilih, ditekuni, dibongkar muatan dasar filosofi, dan diperjuangkannya.

Sosok dan tampilannya cukup unik. Seunik sejarah hidupnya yang memasuki dunia pemberitaan nasional justru dari cabang olahraga bulu tangkis. Nyaris seperti bule dari New Orleans, senyumnya hadir seiring dengan tarikan udara bagi nafasnya. Sangat terbuka dan cenderung reaksonal meski saya lebih suka menyebutnya sebagai hangat yang menyala-nyala dalam menanggapi setiap tanya dan ujaran dari lawan bicara.

Sempat iri juga sebenarnya ketika, bersama teman-teman Kiai Kanjeng, KenduriCinta, Mbak Inna Kamari (istrinya), ia–dengan keterlibatan Mbah Nun–mementaskan Jazz Tujuh Langit. Ups, kenapa justru aliran yang dimainkan Miles Davis, Bob James, dan Lee Ritenour itu yang “di-approved” Mbah Nun? Mestinya, dalam hemat egosentris saya, akan lebih baik kalau yang dipentaskan–misalnya–“Rock, Dinamika Kedalaman di Lintasan Zaman”.

Namun kecemburuan itu segera pudar manakala membaca, mendengar, dan berdialog langsung dengan Mas Beben. Bekal referensi, semangat pencarian, dan eksplorasi serta dahaga akan bertambahnya pemahaman menempatkan saya pada posisi salut dan angkat topi; yoi, Mas Beben teramat pantas mendapat itu semua: Pengakuan bahwa Jazz yang diusungnya adalah kompilasi nada, irama, dan improvisasi yang termaktub di sebuah partitur besar bertajuk “Hanya Kepada Tuhan Semua Akan Bermuara”.

Pagi kemarin(5 Juli 2021), kawat duka beredar di semua meja perbincangan. Mas Beben Jazz tutup usia. Setelah bergulat dalam penyusunan karya menyangkut batas yang kita semua akan melintasinya, Mas Beben ikuti permintaan Tuhan untuk mempersembahkan nomor itu hanya di sisi dan untuk-Nya saja.

Selamat jalan, Mas Beben. Segala teknik petikan gitar dan olah vokal serta semangat keilmuanmu bukan hanya menginspirasi kami disini. Itu semua, insyaallah, menjadikan surga kian mewujud sebagai sebuah musika loka.

—oOo—

Penulis adalah, penggiat BangbangWetan yang menemukan keseimbangan diri pada musik rock dan sastra. Bisa disapa melalui akun Facebook: N Prio Sanyoto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *