Prolog

Maiyah Mentosa – Prolog BbW April 2021

Maiyah Mentosa

Sejarah pengobatan di dunia sebenarnya sederhana saja. Orang-orang di masa sebelum Hippocrates dan Paracelsus mencoba menggunakan materi di sekitar mereka untuk meredakan demam, nyeri atau luka. Materi itu berbentuk dedaunan, bunga, biji, buah, akar , hingga organ dari binatang tertentu.

Metode ini lalu dikodifikasi seadanya dan disebarluaskan sejalan dengan budaya tutur atau tulis pada zamannya. Metodologi dan sistematikanya berpijak pada pemahaman ilmu titen. Satu cabang ilmu yang lindap di tengah arus besar sains dan hegemoni ide-ide besar.

Pengobatan menurut kebutuhannya dibagi ke dalam tiga cabang besar yakni preventif atau suportif (pencegahan), kuratif (penyembuhan), dan substitutif. Pemberian agen preventif seperti vitamin, mineral, dan antioksidan dimaksudkan sebagai upaya agar tubuh memiliki ketahanan tertentu terhadap berbagai ancaman penyakit. Adapun pengobatan kuratif digunakan secara spesifik untuk mengatasi kondisi tertentu. Misalnya antibiotik untuk infeksi bakteri atau antifungal pada kasus diaspora jamur di kulit maupun anggota tubuh lainnya. Sedangkan agen substitusi dijadikan terapi pada keadaan tubuh yang sudah tidak mampu memproduksi anasir tersebut. Suntikan insulin pada Diabetes Melitus tipe 1 atau donor plasma terhadap pasien demam berdarah termasuk dalam golongan ini.

Memasuki tahun kedua pandemi dengan virus SARS COV-2 sebagai subjek utamanya, dunia medis masih disibukkan oleh efektifitas dan efek samping penggunaan vaksin Covid 19. Kontroversi itu menyangkut isu hiperkoagulasi dan perubahan DNA dari pasien yang mendapatkan vaksinasi.

Upaya lain yang dilakukan sejauh ini dan dilegitimasi oleh WHO adalah tindakan fisik untuk membatasi paparan virus. Rintisan upaya yang coba dilakukan untuk mengeradikasi virus pernah disebut dengan menggunakan Chloroquine Phospate, agen terapeutik yang dikenal sebagai penyembuh malaria.

Selebihnya, seperti kita baca bersama, keangkuhan badan kesehatan dunia dan kalangan m edis itu sendiri seolah enggan menerima atau mengakui keabsahan pengobatan “alternatif” yang bermunculan secara sporadis.

Maiyah sebagai satu pilihan cara menyikapi hidup melalui Mbah Nun sendiri serta beberapa jama’ah yang berijtihad merumuskan cara mengatasi Covid 19 telah mengeluarkan sejumlah terobosan. Sebut saja kembang turi putih, probiotik, dan ekstrak bambu apus yang diungkap Romo Manu. Bersyukurlah kita karena anasir dimaksud dengan keseharian, praktis cara pembuatan, dan konsumsinya, serta yang tak kalah penting murah harganya.

Bertolak dari sini, ditambah dengan sebuah buku yang disusun oleh dr . Ade Hashman, Sp An. bertajuk “Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib”, kita bisa berharap ada semacam “genre” baru dalam ilmu pengobatan. Lebih jauh, genre ini tidak sekadar menjadi pilihan dalam langkah penyembuhan tetapi lebih sebagai kiat sehat yang terintegrasi dengan istilah yang secara guyon parikena disebut Mbah Nun sebagai Mensana Mensini.

Cabang pengobatan itu bolehlah kita sebut sebagai “Maiyah Mentosa”. Tidak bermaksud menjadi satu gerakan perlawanan atas metode yang sudah ada. Barang kali, Maiyah Mentosa bisa menjadi kawan seiring yang melengkapi medikamentosa.

Di tengah bulan pelatihan puasa kali ini, mari kita perbincangkan itu semua. Bersama dokter- dokter yang secara intens melanjutkan tarekat pembelajaran di Maiyah dan Mas Sabrang yang dengan kefasihan narasi sainsnya kita akan kantongi tambahnya khazanah keilmuan. Tentu saja dalam suasana kegembiraan yang terus kita mintakan perkenan Tuhan atas itu semua.

—oOo—

Oleh: Tim Tema BangbangWetan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *