Kolom Jamaah

Mengasyiki Kitab Kuning – Isra’ Mi’raj (2)

Kemlagen #20

Oleh: Samsul Huda

Begitu asyik dan senangnya belajar bahasa surga, bahasa Al-Qur’an, bahasa Arab. Seperti keindahan taman bawah laut, kian dalam kita menyelam semakin serbaneka keindahan bisa kita temukan. Sebagai contoh, dari satu kata  كتب (kutiba) dari ayat Al- Qur’an كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ (kutiba alaikumus shiyamu) bisa dianakpinakkan menjadi 150, bahkan lebih kata/kalimat dengan makna yang berbeda.

Suatu hari, entah dari mana, berhembus angin kencang. Angin yang mengantarkan beberapa adik angkatan di Pondok Berat Kulon, Kemlagi, menemui saya. Mereka datang untuk meminta saya membalah kitab. Balah kitab adalah membacakan kitab kuning “gundul” (kitab turats yang tidak berharakat dan tanpa terjemahan) lalu menjelaskan kandungan maknanya.

Bersama rombongan beranggotakan lima orang yang dipimpin oleh M. Fadlan, kami merundingkan kitab apa yang akan dibalah. Saya juga meminta mereka menyampaikan kepada teman-teman lain yang berminat untuk bergabung.

M. Fadlan (almarhum) adalah seorang santri angkatan tahun 1990 dari kawasan Bulak, Kenjeran, Surabaya. Sebagaimana Arek Surabaya lainnya, bicaranya “blak-blakan”, apa adanya selain cerdas dan kritis. Dia telah syahid dalam satu kecelakaan saat pulang berobat dari Lamongan. Peristiwa itu terjadi ketika anaknya masih menjadi murid saya di pondok.

Setelah sepakat untuk mengkaji Kitab Kailani, beberapa hari kemudian mereka datang lagi untuk membahas lebih detail masalah teknis. Ada dua puluh peserta yang menyatakan akan mengikuti kajian.

Kitab Kailani adalah kitab ilmu shorof. Satu ilmu tata bahasa yang khusus membahas dan menjelaskan perubahan bentuk kata (كلمة) dari susunan huruf-hurufnya untuk mendapatkan makna yang dikehendaki. Dalam tata bahasa Arab, “kalimah” (كلمة) sama dengan “kata” dalam bahasa Indonesia. Sedangkan “kalimat” pada bahasa Indonesia memiliki padanan dengan “kalam” (كلام) dalam bahasa Arab.

Contoh perubahan kata dari huruf asal atau huruf pokok KATABA (كَتَبَ) yang huruf pokok/ aslinya   ك (kaf), ت (ta’) dan ب (ba’). Kata ini bisa berubah menjadi aneka macam. Di antaranya:

1. كَتَبَ (kataba) sudah menulis

2. يَكْتُبُ (yaktubu) dia–laki-laki–yang sedang/akan menulis

3. كِتَابًا  (kitab) buku yang berisi ilmu/pengetahuan

4. كِتَابَةً (kitabah) tulisan/catatan

5. كَاتِبٌ (katib) penulis/sekretaris

6. مكتبة (maktabah) perpustakaan

7.  أَكْتُبُ (uktub) tulislah/menulislah kamu

8. أَكْتُبُ (aktubu) saya sedang/akan menulis

Contoh lain dari ilmu Shorof, tulisannya sama persis namun beda harakat atau bacaannya sehingga maknanya menjadi berbeda pula. Misal:

1. كتبت  (katabtu) saya sudah menulis

2. كتبت (katabta) kamu–laki-laki–sudah menulis

3. كتبت (katabti) kamu–perempuan–sudah menulis

4. كتبت (kutibat) telah ditulis/diwajibkan

5. كتبت (katabat) dia–perempuan–telah menulis

6. كتبت (kattabtu) saya sudah menuliskan.

Contoh lain yang lebih mengasyikkan dari ilmu Shorof. Kata ق (qi), yang berarti “jagalah”, dari Doa Sapu Jagat “wa qinaa adzabannar” itu aslinya اوقي (iuqii) dari huruf pokok و ق ي lalu beranak pinak menjadi اتقوا (ittaqu) yang bermakna bertakwalah kamu sekalian, واتقوا (wattaquu) yang diterjemahkan sebagai orang-orang yang sudah berproses takwa dan متقين (muttaqin) yang kita pahami sebagai mereka yang bertakwa.

Karena padatnya jadwal, pengkajian kitab Kailani tidak berakhir sampai khatam. Ketika itu tahun 1985, saya ada di kelas 3 Aliyah. Kalau pagi, pukul 07.00–10.00 mengajar anak MI. Siangnya, pukul 12.30–17.00 mengikuti pembelajaran Aliyah. Bakda salat Subuh dan Isya harus mengaji kitab kepada Al-Maghfurlah Romo K.H. Arif Hasan, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in, kawah candradimuka bagi pendidikan saya.

Pengalaman mengajar murid-murid Madrasah Ibtidaiyah dan menemani sejumlah adik kelas untuk membalah kitab adalah bagian dari perjalanan hidup. Fase di mana saya melintasi jalur “isra'” atas kuasa dan kehendak Allah Swt. Sebuah catatan penting era tahun 1977 hingga 1985 ketika mukim dan nyantri di pondok pesantren Berat Kulon, Kemlagi.

—oOo—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *