Kolom Jamaah

Menjadi Seorang Guru – Isra’ Mi’raj (1)

Kemlagen #19

Oleh: Samsul Huda

وفرضت ليلة اإلسراء بعد النبوة بعشر سنين وثالثة أشهر ليلة سبع وعشرين من ر جب ولم تجب صبح يوم تلك الليلة لعدم العلم
(٣ : بكيفيتها )فتح المعين. ص

“Dan diwajibkan sholat pada malam isra’ mi’raj, sepuluh tahun tiga bulan setelah kenabian, malam tanggal 27 Rajab. Malam itu sholat subuh belum diwajibkan karena belum diketahui tata cara mengerjakannya” (Kitab Fathul Mu’in halaman: 3).

Setelah melewati sepuluh tahun lebih tiga bulan masa kenabian atau di tahun 619 Masehi, Kanjeng Nabi Muhammad Saw. diisramikrajkan oleh Allah Swt. Beliau diperjalankan dari Masjidil Haram, Makkah, ke Masjidil Aqsha, Palestina, kemudian dimikrajkan sampai ke Sidratul Munthaha. Jarak yang terbilang sangat-sangat jauh itu diselesaikan hanya dalam satu malam.

Inilah peristiwa yang kita catat sebagai turunnya perintah salat wajib lima puluh waktu dalam sehari semalam. Namun, atas dasar cinta dan sayang kepada umatnya, Nabi memohon pengurangan sehingga menjadi lima waktu.

Isra Mikrajnya Nabi adalah bukti keberpihakan dan cinta Allah kepada Nabi terakhir itu. Dia memperlihatkan ayat-ayat dan tanda-tanda kebesaran-Nya di saat Nabi mengalami duka yang sangat mendalam sejak ditinggal wafat orang-orang yang sangat dicintainya; Abu Tolib, pamannya, dan Sayyidah Khodijah, istrinya.

Sejak peristiwa Isra Mikraj, Nabi bangkit kembali dan semakin teguh serta gigih mendakwahkan  Islam. Satu  perilaku  yang  lahir  dari  keyakinan  bahwa  Allah  selalu bersama dan menolong beliau.

Beberapa jam setelah peristiwa Isra Mikraj, ketika matahari tepat di atas bumi, salat Dhuhur pertama dilaksanakan. Nabi melakukan salat berjamaah bersama para sahabat yang langsung mengimani peristiwa Isra Mikraj. Perlu dicatat, tidak semua sahabat langsung mempercayai penuturan Nabi mengenai perjalanan multidimensi itu. Sejatinya, Isra Mikraj memang bukan hanya perihal sebuah ekspedisi. Ia lebih sebagai batu uji keimanan.

Itulah mengapa salat lima waktu pasca-Isra Mikraj tidak dimulai dari salat Subuh di pagi harinya. Jawabannya adalah karena belum ada sahabat yang mengetahuinya dan tata cara atau persoalan teknis salat belum diajarkan.

–++++–

Setiap sore, saat pulang sekolah bersama teman-teman, seperti biasa kami melewati ndalem Romo Kiai, Al-Maghfurlah K.H. Arief Hasan, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Roudlotunnasyi’in, Beratkulon, Mojokerto. Di jam-jam itu kami sering melihat Al-Maghfurlah, Drs. K.H. Syihabul Irfan, M.Pd, berdiri santai di bale. Beliau seolah sedang mengamati siswa-siswi MTs dan MA yang baru menyelesaikan pelajaran hari itu.

Namun sore itu ada kejadian luar biasa. Beliau memanggil saya. Setelah ada di hadapannya, sambil tetap berdiri, beliau yang kami menyebutnya dengan Gus Fan dawuh, “Mulai besok pagi kamu menjadi guru tetap di Madrasah Ibtidaiyah dan harus sudah mulai mengajar”. Saya tercengang, kaget. Seperti mimpi di siang bolong. “Inggih Gus. Ngestoaken dawuh. Matur sembah nuwun. Nyuwun pangestunipun”, jawab saya tetap berusaha santun walau dalam situasi nyaris tak percaya.

Walaupun terkejut karena menerima amanat saat saya baru naik kelas 3 Aliyah, namun dalam hal teknis mengajar saya telah memiliki pengalaman. Di tahun sebelumnya, 1984 (kelas  2  Aliyah), saya  sudah  menjadi  guru  badal  (guru  pengganti  bagi  guru  yang berhalangan datang mengajar).

Keesokan harinya, mulailah saya mengajar sebagai guru resmi. Penugasan pertama adalah mengajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) kelas 4 putra. Saat itu gedung MI putra dan putri menempati lokasi yang berbeda. Keduanya dipisahkan jarak sekitar 300 M. Gedung MI putra di samping Masjid Jami’, yang sekarang ditempati oleh MA dan SMP. Sedangkan MI putri berada di lokasi yang sama dengan gedung MTs.

Begitu indah menikmati perjalanan yang diperjalankan Allah Swt.

سبحان الذي أسرى بي ليال

Maha Suci Dzat yang memperjalankan kehidupan saya di kegelapan masa depan saya. Sedetik masa depan saya itu gaib, gelap gulita. Saya harus menjalaninya dengan iman dan yakin.

والذين يؤمنون بالغيب

(Yaitu orang-orang yang terus-menerus berproses mengimani perkara gaib).

Kebahagian saya meluap-luap ketika pertama kali masuk kelas. Ada rasa senang sekaligus harapan yang besar melihat anak-anak dengan perilaku aktif, ceria, dan bersemangat. Dengan sifat kekanakan yang masih lekat, mereka menganggap saya bukan hanya seorang guru tetapi lebih sebagai kakak.

Di antara murid-murid itu, beberapa di antaranya masih saya ingat hingga kini. Sebagian dari mereka adalah:

1.  Miftahul Ulum. Pengusaha pertebuan.  Putra dari  Abah Akmal, bendahara yayasan.

2.  Dail Haromain. Pengusaha di Surabaya. Seorang yatim, putra Hj. Robiah, keluarga ndalem.

3.  dr. M. Nur Husaini, putra dari guru sekaligus kiai saya, K.H. Faqih Syafii, yang berbesan dengan K.H. Ahmad Nasrullah Abdurrohim, Ponpes Tambak Beras, Jombang.

4.  Hisbullah  Huda,  putra  guru  dan  kiai  saya,  K.H.  Husen  Somad  (seorang mubalig).

5.  Faidhus Syukri, putra K.H. Mahfudh (guru Ilmu Faraid). Menjadi keluarga ndalem Ponpes “Ngalah”, Pasuruan.

6.  Marzuki, putra K. Qurdi (guru Ilmu Faraid). Sekarang menjadi TNI.

7.  Nurul Huda, S.T., putra Aba Muhtadi. Keluarga ndalem. Saat ini menjalani profesi sebagai guru IT.

Hal ini saya ungkap sebagai rasa syukur dan tahadduts binni’mah atas anugerah dan fadlilah Allah Swt, Al-Mannan, yang dilimpahkan kepada saya.

Dengan diperjalankan-Nya saya sebagai guru tetap, setiap bulan saya menerima bisyaroh sebesar Rp 17.500 dari bendahara Madrasah. Jumlah yang sudah sangat besar untuk ukuran waktu itu. Apa lagi untuk saya. Kebutuhan biaya mondok setiap bulan bisa terpenuhi. Karenanya, saya sudah tidak lagi bersusah payah pulang-pergi kerja di Surabaya.

Inilah sedikit “panen” sebagai buah amal/kerja saya di dunia yang Allah berikan dari “tanaman” saya di tahun 1984 saat masih kelas 2 MA dan kesungguhan belajar di tahun- tahun sebelumnya. Semoga lebaran dan “panen” yang sesungguhnya bisa kita petik nanti ketika menghadap dan kembali ke haribaan-Nya.

Surah Al-Anbiya (21) ayat: 94

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِنَ الصّٰلِحٰتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهٖۚ وَاِنَّا لَهٗ كَاتِبُوْنَ

“Maka barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya”

—oOo—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *