Kolom Jamaah

Momentum Futuh – Amul Huzni (6)

Kemlagen #18

Oleh: Samsul Huda

Habis gelap terbitlah terang, bangbang wetan. Setelah gulita malam tibalah cahaya merah di ufuk timur untuk menyambut terbitnya matahari, bumi pun mendapat terang. Badai yang menghantam ekonomi keluarga di tahun 1984, alhamdulillah, teratasi dan terlewati dengan muatan ilmu dan hikmah. Perekonomian keluarga memang belum pulih sempurna, namun kami semakin siap menghadapi apapun situasi berikutnya; dengan modal keimanan.

Peristiwa amul huzni–tahun kesedihan–mengantarkan saya mendapatkan futuh, terbukanya hati, akal pikiran, serta kesadaran baru dari Allah, Al-Fattah. Masa-masa ketika saya mendapat pencerahan yang menyingkap tabir perjalanan hidup. Fase saat kelas dua Madrasah Aliyah (MA) ini membuat saya semakin mantap dan teguh untuk menyelesaikannya sampai mendapat kelulusan. Bahkan tekad saya kian bulat untuk melanjutkan ke bangku kuliah. Ya, saya harus kuliah! Tidak boleh tidak!

Hampir di setiap do’a, saya selipkan permohonan agar bisa diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) karena biayanya yang relatif lebih murah. Kalaupun tidak diterima di PTN, saya akan cuti setahun, fokus kerja untuk mengumpulkan modal sebagai biaya kuliah di tahun berikutnya. Kalau akhirnya tahun berikutnya gagal lagi, ya terpaksa memilih perguruan tinggi swasta. Prinsipnya, saya harus kuliah. Itulah mimpi dan tekad saya di kelas dua MA.

Surah Ali-Imran (3) Ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”.

Di tahun 1985, setelah lulus MA, saya ikut SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Musyawarah keluarga menyepakati dan memutuskan agar saya mengambil jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Fakultas Ilmu Pendidikan, di IKIP Negeri Malang (sekarang Universitas Negeri Malang). Alhamdulillah, bisa lolos. Saya diterima di PTN!

Di kampus yang letaknya berseberangan dengan Universitas Brawijaya itu, saya beruntung karena bertemu dan diajar oleh dosen-dosen dengan karakter dan integritas yang tidak diragukan lagi.

Di antara dosen-dosen tersebut adalah:

1. Drs. Abdul Latif. Beliau berasal dari luar Jawa. Pembawaannya kalem dan kebapakan. Pak Abdul Latif lah yang menawari saya untuk tinggal dan mengurus masjid  Al  Mannar. Sebuah  masjid  yang  terletak  di  dalam  perumahan  dekat terminal Arjosari, Malang. Beliau adalah salah satu takmirnya. Karena alasan tertentu, saya menolak dengan halus dan mencoba menawarkan adik angkatan, Khoiruman. Posisinya diteruskan oleh Mudlofar. Menyusul kemudian murid saya, Syafiuddin, dan terakhir adalah Ahmad Dairobby. Dialah generasi pamungkas “orangnya” Pak Abdul Latif karena setelahnya ada pergantian takmir dengan aturan dan kebijakan baru.

2. Drs. KH. In’am Sulaiman, beliau adalah paman dari Ibu Nyai Hj. Khoirun Nisa (mantan wakil bupati Mojokerto), keluarga pondok pesantren Tambakberas  Jombang.

3.  Prof. Drs. H.M. Soedomo, M.A. Beliau tergolong dosen paling senior namun sangat energik dan inspiratif. Pak Soedomo pernah menjadi Asisten Menko Kesra bidang Kebudayaan, Pendidikan, dan Generasi Muda pada era Presiden Suharto.

4.  Drs. Marzuki, M.Ed. Ketua Jurusan PLS. Orangnya santun, tawaduk, rapi, tampan, dan sangat kompeten atas ilmu yang digelutinya.

5.  Drs. Muhajir Effendy. Dosen lajang yang piawai, sederhana, dan murah senyum. Beliau sangat dekat dengan mahasiswa. Jabatannya adalah kepala asrama mahasiswa. Sekarang beliau telah bertitel profesor dan menjadi Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia pada era pemerintahan Jokowi-Ma’ruf. Sebelumnya, beliau juga sempat menjabat sebagai Menteri Pendidikan pada era Jokowi-JK.

Kepada mereka, saya sampaikan terima kasih tak terhingga. Bersama merekalah saya berhasil meraih jenjang pendidikan sarjana, menemukan jati diri, dan melampaui satu fase penting dalam kisah hidup sepanjang usia. Hanya do’a belaka yang bisa kupanjatkan agar bapak-bapak beserta keluarga selalu dalam naungan rahmat dan kasih sayang- Nya. Aamiin.

—oOo—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

One thought on “Momentum Futuh – Amul Huzni (6)

  1. Alhamdulillah. Semoga bermanfaat dan barokah untuk anak cucu dan anak-anak idiologis saya dan generasi mendatang. Dan semoga istiqomah menulis. Aamiiin. Alfatihah….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *