Kolom Jamaah

Multitasking Santri – Amul Huzni (1)

Kemlagen #13

Oleh: Samsul Huda

Tahun kesepuluh kenabian atau 619 Masehi sering disebut sebagai “Amul Huzni“. Tahun duka cita bagi Baginda Nabi Muhammad saw. karena di tahun itulah paman tercinta beliau, Abu Tholib, tutup usia. Sejak usia delapan tahun hingga menjadi Nabi dan Rasul, beliau diasuh, dijaga, dan dilindungi dengan penuh cinta oleh ayah dari Khulafaurasyidin terakhir itu; Tokoh yang sangat dihormati di kalangan Bani Hasyim dan disegani oleh suku Quraisy.

Tahun kesedihan itu menggores dalam perasaan Nabi Muhammad karena pertama, pamannya wafat sebelum sempat bersyahadat. Berikutnya, istri pertama beliau, Sayyidah Khadijah, mangkat di tahun yang sama.

Di puncak kenestapaannya, Allah Swt. bermaksud menunjukkan kebesaran dan keberpihakanNya dengan mengisramikrajkan Baginda Nabi. Allah memperjalankannya pada suatu malam dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) dan kemudian naik hingga langit ketujuh sampai di Sidratul Muntaha.

—##—

Tahun 1984 saat kelas dua Madrasah Aliyah, saya merasakan sedih dan kesuraman akan pandangan masa depan. Tidak berkurang, kecamuk rasa ini malah terus meningkat seiring bertambahnya hitungan hari, minggu, bahkan bulan. Situasi frustrasi ini menurunkan secara drastis gairah saya untuk melanjutkan mondok.

Penyebabnya adalah sering terlambatnya kiriman uang dari orang tua. Selain terlambat, jumlah yang dikirim pun terus menyusut. Pangkal dari itu semua bisa ditebak: keadaan ekonomi keluarga semakin memburuk. Kondisi ini tumpang tindih dengan meningkatnya kebutuhan keluarga seiring dengan pertumbuhan kelima adik saya.

Hari demi hari seirama perjalanan waktu, saya harus terus belajar menyesuaikan  diri dan memahami kenyataan hidup. Apapun itu harus saya hadapi dan jalani tanpa ratap kesedihan. Pelan-pelan Allah menunjukkan keberpihakan dan kasih sayang-Nya kepada saya. Tidak ada seorangpun teman yang tahu apalagi paham dengan keadaan dan kondisi ekonomi keluarga saya. Begitu juga keluarga Ndalem. Namun tidak dengan Tuhan.

Begitu indah kasih sayang Allah kepada saya. Saya merasa bahagia dan bangga seiring dengan seringnya saya disuruh Mbah Nyai Thowilah, istri Kyai Arif, untuk membantu pekerjaan “kasar”. Ke kebun, ke sawah, dan membantu urusan dapur. Imbalan atas jerih payah dan keringat itu adalah beliau mempersilakan saya makan. Alhamdulillah, bisa makan tanpa harus urunan beras, sayur, atau lauk.

Di waktu yang lain, seringkali para guru MI yang berhalangan mengajar (karena sesuatu hal) mencari saya untuk “membadali” (mengganti) beliau mengajar di MI. Mata pelajarannya meliputi hampir semua bidang studi. Honornya adalah jatah sarapan nasi rantangan di kantor guru. Nasi rantangan itu berasal dari para wali murid yang sudah diatur pemberiannya dan terjadwal setiap pagi.

Terkadang juga Gus Fan (Al Maghfurlah Drs. KH. Syihabul Irfan Arif, M.Pd . putra bungsu Kyai, mantan ketua PCNU Kab. Mojokerto) sering menyuruh saya mencucikan sepeda motor Yamaha YBnya. Cerita ini selalu berakhir indah karena beliau sering memberikan uang saku untuk saya gunakan guna berbagai kebutuhan.

Saya juga sering diminta mencucikan pakaian teman-teman dengan imbalan saya bisa mencuci pakaian saya tanpa harus membeli sabun. Setelah itu, saya diajak makan bersama. Tak jarang, teman-teman  yang  urunan  bahan-bahan masak  dan  saya  bisa  ikut  makan  dengan  syarat melaksanakan “tugas” ngeliwet (menanak nasi).

Akhirnya, pelan namun pasti, saya harus belajar menjalani kehidupan dengan penu h kesabaran tanpa rasa minder. Sebaliknya, mengutip Al-Qur’an, saya harus tetap bahagia dan bergembira.

Surah Al-Baqarah (2) Ayat 155

  وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.

Surah Al-Baqarah (2) Ayat 153

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Hai   orang-orang   yang   beriman,   jadikanlah   sabar   dan   shalat   sebagai   penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.

0+++0

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

One thought on “Multitasking Santri – Amul Huzni (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *