Kolom Jamaah

Nggendong Kleber Nyengkiwing Wêthêng

Kemlagen #23

Oleh: Samsul Huda

Di era 80-an, gedung sekolah di pondok saya, Berat Kulon, digunakan pagi sampai sore hari. Pagi untuk anak MI sedangkan siang dipakai oleh anak MTs dan MA. Sejak tahun 1987, pemanfaatannya ditambah hingga malam hari untuk kegiatan belajar mengajar Madrasah Diniah (Madin). Murid Madin berasal dari santri internal pondok serta anak- anak kampung sekitar.

Gedung MI putra terletak di bagian selatan pondok dan berdampingan dengan masjid kampung. Gedung inilah yang sore harinya digunakan untuk MA. Sedangkan gedung MI putri berada di sisi timur pondok dan digunakan untuk kelas pembelajaran MTs pada siang hari dan Madin pada malam hari.

Dalam kegiatan belajar mengajar MTs maupun MA, peserta didik putra maupun putri ditempatkan dalam satu ruang kelas yang sama. Kebijakan ini berlaku juga terkait dari mana mereka berasa: tidak ada pemisahan antara siswa dari pondok maupun kampung. Hal ini disebabkan jumlah muridnya tidak banyak, sekitar 30 sampai 45 siswa perkelas.

Namun demikian tempat duduk siswa putra dan putri di ruangan itu dipisah atau disekat dengan kleber atau kain tabir yang digantung memanjang ke sebatang bambu (Wêthêng). Setiap hari kleber dan Wêthêng harus dibongkar pasang lalu dikembalikan oleh petugas piket ke pondok bila kegiatan persekolahan telah selesai. Saya dan kawan- kawan melaksanakan tugas ini. Secara bergiliran, kami nggendong kleber nyengkiwing wêthêng beserta kapur tulis dan penghapusnya.

Meskipun siswa putra dan putri maupun anak kampung dan anak pondok dijadikan satu dalam gedung kelas yang sama, tidak sedikitpun menimbulkan masalah atau fitnah. Hal ini disebabkan pemahaman kami tentang batas norma dan akhlak. Yang terjadi justru kami semua saling membantu, mengisi, dan menyemangati.

Di keseharian pondok, merupakan hal yang lumrah kalau pada malam hari ada anak kampung dan santri liwetan di pondok. Bahkan beberapa dari mereka ikut pengajian kitab kuning di pondok. Saya menyaksikan ada beberapa yang sekarang menjadi kiai di kampungnya. Sebagian lainnya menjadi pemuka masyarakat di daerahnya.

Sebagai contoh, K.H. Sholihin. Beliau adalah kakak kelas lima tahun di atas saya. Waktu itu  nama  sekolahnya  masih  PGA  (Pendidikan  Guru  Agama).  Anak  kampung  dari Kecamatan Gedeg, Mojokerto, yang menikahi gadis dari Kecamatan Pungging. Sekarang menjadi kiai dan ketua koordinator TPQ sekecamatan Pungging. Berikutnya adalah Ustadz Drs. Sueb, teman satu kelas dari Kecamatan Gedeg. Saat ini menjabat sebagai sekretaris Desa Sooko, Mojokerto, setelah sebelumnya menekuni profesi guru MI, MTs, dan MA, serta seorang khatib di lingkungan Kota Mojokerto.

Ada juga siswi teman sekelas saya bernama Maria Ulfa yang berasal dari Desa Goba, Kecamatan Gedeg. Saya sering meminjam sepeda untanya untuk beberapa keperluan di saat sekolah. Ia tidak menyelesaikan sekolahnya sampai lulus Aliyah. Pasalnya, kedua orang tua Ulfa sudah menerima lamaran dan memintanya untuk segera melangsungkan akad nikah. Sekarang, ia telah menjadi ibu nyai dan mengajar di sebuah TPQ dan Madrasah Diniyah di wilayah Driyorejo, Gresik. Misi meraih jenjang pendidikan tinggi dilanjutkan oleh kedua anak dan menantunya yang telah memperoleh gelar sarjana S1.

Surah Al-An’am (6) Ayat 132:

وَلِكُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوْاۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”.

Tugas membongkar pasang Kleber dan Wêthêng itu kami lakukan juga untuk menyekat gedung aula pondok. Sekat ini digunakan untuk keperluan ngaji kitab kuning. Kami diajari oleh salah seorang guru MA kami, Almaghfurlah Kiai Sirojuddin. Pengajian tambahan itu dilaksanakan sebelum jamaah salat Dzuhur, sekitar pukul 11.00 setiap hari. Tidak banyak santri yang mengikuti karena sifatnya tambahan. Hanya sekitar sepuluh santri putra-putri yang rutin mengikuti pengajiannya.

Semoga ilmu yang beliau ajarkan bisa bermanfaat dan barokah. Nilai hidup yang beliau tanamkan tumbuh subur dan berbuah amal kebaikan serta menjadi amal jariyah beliau di akhirat. Semoga Allah mengangkat derajatnya, mengampuni semua dosa, serta selalu merahmatinya.

Alfatihah…..

—oOo—

Catatan:

Nggendong: membawa barang di punggung dengan menggunakan tangan atau kadang dibantu selendang

Klêbêr: kain yang panjang dan lebar untuk menyekat ruangan.

Nyengkiwing: membawa barang yang relatif ringan dengan satu tangan dimana tangan masih bisa melambai saat berjalan

Wêthêng: bambu yang tua, kuat dan panjang dengan diameter sekitar 10 cm. Sering digunakan untuk memetik buah atau benda-benda di ketinggian serta tiang bendera.

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *