Kamisan

Parameter Kesungguhan

Oleh : J. Rosyidi

Sekira seminggu lalu saya dan keluarga berkunjung ke salah satu sahabat yang lama tidak bersua. Selain untuk memperkenalkan Runa, anak semata wayang kami, saya juga memiliki janji untuk membantu mengurai “permasalahan” anaknya.

Sahabat saya ini -sebut saja pak Qomar- memiliki keluhan dengan anaknya yang dirasa kurang memiliki greget dalam belajar. Padahal dia adalah anak pertama yang saat ini sudah duduk di kelas X dan sebentar lagi naik kelas XI.

Pak Qomar- membandingkan dirinya dulu seusianya yang tidak hanya sekolah, meski ditempuh dengan perjalanan mengayuh sepeda, sejauh lima belas kilometer dari rumahnya, dia tetap bisa membantu orang tuanya mencari makan untuk ternaknya dan membantu pekerjaan di rumahnya.

Harapan beliau tak muluk-muluk terhadap anaknya. Tidak perlu lah membantu orang tua, hanya kesungguhan belajar saja, tapi katanya yang dilihat sang anak hanya bermain game terus menerus. Dia sungguh jadi jengkel dan jadinya sering marah-marah kepada anaknya.

Setelah berbincang-bincang baik dengan pak Qomar- dan anaknya, saya menemukan bahwa titik urai masalahnya adalah penggunaan kata sungguh-sungguh. Pak Qomar merasa anaknya belum bersungguh sungguh sementara sang anak merasa sebaliknya.

Ditambah lagi karena latar belakang kehidupannya yang keras serta karakternya, beliau seringkali berbicara dengan nada yang tinggi yang dipahami oleh anaknya sebagai sebuah kemarahan yang memicu sang anak untuk cenderung tidak mendengarkan setiap nasehat dari pak Qomar. Kalaupun didengar ya masuk telinga kanan keluar telinga kiri lah hehehehe..

Kemudian saya menyarankan untuk membuat target bersama saja, kalau tidak bisa harian ya mingguan. Jadi tidak lagi menggunakan istilah kesungguhan sebagai parameter. Karena kesungguhan itu sesuatu yang abstrak jadi tidak bisa dinilai.

Saya mencontohkan misalnya target hafalan seminggu satu lembar, karena baik pak Qomar dan anaknya sama sama berkeinginan untuk menghafal Al-Qur’an. Kemudian belajar harian di luar sekolah misalnya selama waktu tertentu dan seterusnya. Maka diluar itu -yang sudah disepakati bersama- boleh melakukan aktivitas apapun.

Kalau jelas parameternya, maka tidak ada lagi justifikasi sepihak bahwa sang anak kurang bersungguh-sungguh atau pengakuan sebaliknya dari sang anak kalau dia telah bersungguh-sungguh. Yang ada hanya sudah tercapai atau belum target-target yang sudah disepakati.

Kalau tidak tercapai targetnya baru kemudian dilihat ada tidak upaya untuk memenuhi targetnya. Kalau sudah ada upaya memenuhi targetnya tapi tetap tidak tercapai maka kemudian bisa dicari penyebabnya. Begitu seterusnya. Sehingga yang terjadi adalah kerjasama antara orang tua dan anak dalam mencapai target bersama.

Kendalanya untuk melakukan ini semua adalah jarak gaya komunikasi -communication gap- antara orang tua dan anak yang menjadikan kesulitan melakukan diskusi bersama. Maka sebagai orang tua pun kita sejatinya tidak boleh berhenti belajar. Anak adalah guru kehidupan bagi kita dan sebaliknya anak anak pun belajar dari kita.

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *