Kamisan

Perilaku Orang Tua Sumber Belajar Anak

Oleh: J.Rosyidi

Selepas jamuan makan, namanya juga ibu-ibu yang asyik mengobrol, piring-piring makanan masih terletak di depan mereka. Tiba-tiba Una mengambil piring ibunya dan menyodorkan kepadanya sambil memberi isyarat–karena Una masih berusia enam belas bulan, maka belum bisa berkomunikasi dengan baik–agar dibawa ke dapur.

Ibunya coba memberi pengertian bahwa itu akan dilakukan nanti selepas ngobrol dengan teman- temannya. Tapi Una tetap kekeh. Tante Mus, sebut saja begitu, teman ibunya Una, pun memberi tahu bahwa nanti akan dibereskannya. Tapi sekali lagi Una ingin ibunya segera membereskan piring-piring bekas jamuan makanan.

Alhamdulillah, begitu respons saya ketika mendengar cerita itu beberapa waktu lalu saat menjemput Una dan ibunya dari acara ngumpul bareng teman-teman ibunya.

Apakah kami mengajarkan Una secara langsung berbuat demikian? Tidak. Hanya saja, di rumah, kami membiasakan selepas makan agar langsung menaruh piring-piring atau mangkuk dan gelas di dapur.

“Ayo, kita taruh piringnya di dapur, agar nanti bisa dicuci.” Begitu kadang kala ajakan kami pada Una. Tujuan utamanya adalah memperkenalkan aktivitas-aktivitas keseharian untuk memperkaya kosakata yang terkait erat dengan keseharian Una.

Ternyata ajakan-ajakan sederhana itu membekas betul dalam ingatan Una. Kemudian ia malah mampu “mengingatkan” ibunya ketika tidak melakukan kebiasaan yang baik tersebut.

***

Seringkali orang tua mengeluh dengan anaknya yang tidak mau melakukan sesuatu. Misalnya tidak mau membantu pekerjaan di rumah, seperti mencuci piringnya sendiri setelah makan. Coba kita telisik lagi bagaimana pola kepengasuhan kita sedari anak masih usia dini.

Apa yang kita tuai dari perilaku anak hari ini adalah pembiasan–pengajaran–yang kita tanam sedari ananda kecil. Tak perlu dengan kata-kata secara langsung, justru contoh ataupun keteladanan yang akan menjadi lebih mengena dan menyentuh hati ananda.

Misalkan saja ketika kita ingin ananda rajin belajar, sebagai orang tua apakah kita juga sudah belajar. Minimal sudahkan kita mencontohkan membaca buku di depan ananda?

Pada titik ini, saya teringat dengan sebuah ayat Al-Quran surah An-Nahl ayat 125 yang artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah…” Dalam konteks anak kecil atau usia dini, pembelajaran terbaik adalah teladan perilaku orang tua yang dilihat oleh anak. Karena anak- anak adalah peniru terbaik.

Sesungguhnya ini adalah pengingat buat saya pribadi agar lebih berhati-hati dalam berperilaku– termasuk bertutur kata–di depan anak. Kalau kemudian saat ini kita merasa ada yang “salah” pada anak kita, yuk… kita mulai memperbaikinya dengan memperbaiki diri kita terlebih dahulu.

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *